The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Roti Racun



Pagi ini Paloma menyiapkan sarapan untuk Alano suaminya seperti biasa. Lagi-lagi dia bangun sambil memeluk Alano, bahkan kepalanya berada didada bidang Alano dengan tangannya sebagai bantal. Paloma beranjak hati-hati dari tempat tidur agar tidak membangunkan Alano.


Jika mengingat kejadian tadi pagi wajah Paloma langsung merona, entah mengapa saat dia bangun tidur Paloma selalu memeluk tubuh kekar Alano.


"Selamat pagi Paloma."


Albert Hall menghampiri Paloma didapur dan tersenyum penuh arti. Paloma tahu kalau Albert ingin memastikan tugasnya untuk meracuni Alano.


Sial! Untung saja aku membawa botol racun itu. Kalau tidak pasti pria tua ini akan curiga padaku, Paloma menggerutu dalam hati.


Albert yang masih berdiri disampingnya tampak memperhatikan gerak gerik Paloma, dengan terpaksa dia mencampurkan racun tersebut keselai cokelat di roti panggang milik Alano.


Albert yang melihat itu tersenyum smirk dan pergi duduk dimeja makan menunggu Alano dan Paloma sarapan bersama. Dia tertawa puas dalam hati karena pagi ini Angelina tidak ikut sarapan bersama mereka hingga Albert bisa memantau langsung Paloma didapur.


Alano turun dari lantai dua menuju ruang makan. Terlihat disana sudah ada Albert dan Dave yang baru saja tiba di Mansion. Dave memberikan kode bahwa rencana mereka berhasil. Alano mengangguk melihat kode dari Dave yang mengartikan kerja bagus.


Alano lalu duduk dibagian kepala meja dengan Paloma disebelah kanan dan Albert disebelah kirinya. Dave berdiri di belakang kursi bos besarnya.


"Duduklah Dave aku sudah membuatkan sarapan untukmu juga." Paloma menatap Dave dengan tersenyum tulus.


"Saya sudah makan tadi Nona sebelum datang kemari." Dave menolak dengan halus ajakan Paloma.


"Baiklah kalau begitu."


Paloma tersenyum kecut mendengar penolakan Dave padahal dia sudah capek-capek membuat sarapan mereka sayangkan jika tidak dimakan pikir Paloma.


Melihat wajah masam Paloma Alannopun langsung menyuruh Dave untuk ikut sarapan bersama mereka, dia tidak ingin membuat Paloma kecewa.


Albert yang melihat ada perubahan dari sikap Alano pada Paloma tersenyum tipis, sepertinya rencanaku akan segera berhasil Alano mulai menaruh hati pada perempuan ini.


"Kenapa kau tidak memakan sarapanmu Paloma?."


Alano memperhatikan Paloma yang dari tadi tidak memakan roti panggangnya. Paloma gelagapan tidak tahu harus menjawab apa, sebenarnya roti yang diberikan racun ada padanya. Dia tidak berani memakan roti itu takut kalau efek racun tersebut akan berakibat buruk bagi tubuhnya. Meskipun Albert berkata kalau efeknya tidak akan langsung terjadi.


Albert menatap tajam Paloma yang tidak kunjung menyentuh makanan itu, Shit! dia sengaja membuat Alano curiga.


"Apa kau sakit Paloma?."


Paloma menggeleng dan menatap roti panggang dipiringnya dia sempat melihat tatapan tajam Albert padanya.


Paloma menelan ludah dan memakan roti beracun itu, dalam hati dia terus berdoa agar tubuhnya akan baik-baik saja. Alano menatap curiga gelagat Paloma namun dia tidak mau berpikiran buruk, dia tahu kalau Paloma bukan wanita yang ceroboh.


Selama perjalanan Paloma sangat gelisah dia tidak sempat memuntahkan isi perutnya karena Alano langsung mengajaknya pergi, aku harus segera ke toilet setelah tiba di perusahaan.


Tiba di perusahaan Paloma berkeringat dingin dia juga terlihat pucat. Apa ini efek racun yang aku rasakan? Sialan! Kenapa cepat sekali reaksinya.


Tanpa mempedulikan Alano dan Dave yang berjalan didepannya Paloma berlari menuju kamar mandi, dia harus segera memuntahkan roti racun yang ia makan tadi saat sarapan.


Langkah Alano terhenti melihat Paloma tidak ada bersamanya ketika mereka masuk keruangan CEO.


"Dimana Paloma?."


Alano bertanya pada Dave yang juga ikut bingung melihat Paloma tidak masuk bersama mereka.


"Saya akan mencarinya Bos."


Dave menunduk memberi hormat lalu keluar dari ruangan mencari Paloma.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Dukung terus karya author yaa guys


Jangan lupa Like Vote and Rate


Terima kasih 🌹**