The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Mengerjai



"Hari ini kita akan ke kota Venesia selama dua hari. Siapkan kebutuhan mu, 30 menit lagi kita berangkat!."


"What? Kenapa tiba-tiba begini Dave. Apa kau tidak bisa mengatakan nya padaku tadi malam?."


Dave berdecih tidak suka mendengar suara protes wanita yang di anggapnya pengganggu itu. Kalau bukan karena bos besar yang meminta dirinya selalu menjaga dan mengawasi Barbara, Dave tidak akan mau membawa Barbara ke Venesia.


Rencana nya mereka akan melihat langsung pembangunan resort mewah yang ada di sana, yang tinggal menunggu tahap finishing.


"Waktumu tinggal 25 menit 47 detik lagi. Jika kau masih saja berbicara tidak penting begitu, aku akan meninggalkan dan mengunci mu disini selama dua hari aku pergi!."


Barbara melotot mendengar ucapan Dave tangan kanan Alano, sejak mengenal pria yang suka memerintah itu dia sudah tahu kalau Dave tidak pernah main-main dengan perkataannya.


Dengan menghentak kan kaki panjang nya ke lantai, Barbara buru-buru masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan baju dan kebutuhan dirinya selama dua hari berada di kota Venesia.


Shit! Lelaki tukang perintah itu benar-benar membuatku kewalahan. Mentang-mentang Alano tidak ada dia dengan beraninya memerintah dan menyuruh-nyuruh aku. Lihat saja, kalau Alano pulang nanti aku akan melaporkan semua perlakuan tidak sopan mu padaku! Barbara menggerutu dalam hati sepanjang perjalanan mereka menuju bandara.


Dia kesal karena daritadi Dave terus memerintah dan meneriaki dirinya yang lambat selama berada di apartemen.


Dave tidak ingin penerbangan mereka tertunda karena ketinggalan pesawat. Ya.. mereka akan naik pesawat komersil biasa, Dave sengaja karena ingin mengerjai perempuan pengganggu itu karena masih kesal padanya atas ulah nekat Barbara yang mengganggu bos besar.


"Tunggu Dave, kenapa aku duduk di kelas ekonomi sedangkan kau di executive class?."


Barbara menatap dua tiket yang berbeda di tangannya setelah mereka check in di bandara.


"Kenapa, kau tidak suka? Kalau kau tidak mau, kau bisa memesan tiket yang baru dengan uang mu sendiri!."


Dave menarik kasar satu tiket yang dipegang Barbara dan bergegas masuk ke pintu keberangkatan dimana pesawat mereka akan take off.


Lagi-lagi Barbara hanya bisa menahan kekesalan nya saat melihat Dave yang pergi meninggalkan dirinya, seperti orang bodoh. Barbara menarik dua koper di tangan yang mana salah satu diantara koper tersebut adalah milik Dave asisten pribadi Alano.


Dave tidak ingin kopernya di masukkan ke bagasi dengan alasan bahwa disana terdapat dokumen penting. Jadi mau tidak mau Barbara pun membawa koper tersebut.


Meski hanya koper kecil namun membuat wanita itu sedikit kesusahan, apalagi dirinya yang sedang memakai heels 5cm membuat Barbara terseok-seok menarik dua koper ditangannya.


"Aku tidak akan memaafkan perbuatan kurang ajarmu ini Dave! Lihat saja nanti bagaimana aku membalas mu!."


Barbara menghembuskan nafas kasar dan masuk ke dalam pesawat, memberi tiket pada pramugari lalu diarahkan masuk ke kelas ekonomi. Dia berusaha mencari-cari dimana tempat duduk nya tanpa melepaskan dua koper yang berada di masing-masing tangan.


Setelah mendapatkan tempat duduk, Barbara harus menelan saliva dalam-dalam karena ternyata dia harus duduk di antara dua orang anak kecil berumur sekitar 4 sampai 5 tahun. Yang tidak bisa diam selama mereka berada dalam pesawat.


Sepertinya mereka adalah kakak beradik dengan tingkat keisengan yang sangat tinggi. Baru saja Barbara ingin mengistirahatkan matanya, dia terlonjak kaget saat sang adik melemparkan gelas minuman di tangannya ke arah sang kakak.


Karena cukup jauh, air yang berada di dalam gelas jatuh membasahi baju Barbara. Kedua orang tua yang melihat kelakuan anaknya meminta maaf berkali-kali pada perempuan seksi itu, karena merasa tidak enak telah membuat baju Barbara basah.


Barbara berdecih karena ingin marah tapi tidak bisa, mereka hanyalah anak-anak dan dia tahu bagaimana kenakalan anak-anak yang masih kecil.


Holyshit! Barbara menggerutu dalam hati meratapi kesialan nya yang datang bertubi-tubi pada hari ini.


1 jam 7 menit kemudian, pesawat yang ditumpangi Barbara dan Dave landing sempurna di Venice Marco Polo Airport yang berjarak sekitar 10 km dari pusat kota Venesia.


"Dimana mobil yang aku suruh kau pesan Barbara? Kenapa belum juga datang dari tadi?."


Dave menatap nyalang wanita yang dianggap nya pengganggu itu, pasalnya mereka sudah 20 menit lebih menunggu mobil yang Barbara pesan melalui aplikasi di ponsel nya.


Meski Dave bisa membawa mobil sport miliknya sendiri, tapi dia masih ingin mengerjai Barbara sampai dia benar-benar puas.


"Aku tidak tahu Dave. Di aplikasi tertulis kalau mobil itu sudah di perjalanan menuju kemari sejak 5 menit yang lalu setelah kita landing. Tapi mobil itu tidak juga tiba sampai sekarang."


"Dasar bodoh! Kau memang tidak bisa diandalkan sama sekali untuk menjadi asisten ku!."


Dave akhirnya menghubungi seseorang untuk menjemput mereka di bandara. Dia kesal karena wanita itu bukan hanya seorang pengganggu dalam hidup dirinya dan bos besar, tapi juga tidak bisa mengurus pekerjaan kecil seperti ini.


Barbara hanya bisa memendam rasa kesal dan amarah mendengar perkataan Dave, yang sukses membuat harga dirinya terasa di injak-injak.


Kalau kau bisa sendiri kenapa juga harus menyuruhku tuan suka memerintah! Lagipula aku sama sekali tidak pernah meminta untuk menjadi asisten sialan mu! Barbara mengumpat dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Like and Vote 🌹