
Sudah satu jam lamanya Paloma tidak kembali keruangan, Alano yang khawatir menelepon Cecil sekretarisnya dan bertanya apakah Paloma ada bersamanya atau tidak. Namun Cecil berkata dia melihat Paloma berlari menuju lift sejam yang lalu.
Shit! Kemana dia jangan bilang kalau dia kabur. Alano meraih kunci mobil dan berjalan cepat menuju lift untuk mencari Paloma.
Alano membawa mobilnya sambil melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan Paloma, dia berhenti sebentar di halte dekat kantor dan turun dari dalam mobil. Alano berharap Paloma sedang duduk di halte, dia tahu Paloma tidak akan bisa kemana-mana karena tidak memiliki uang sepeserpun.
Tapi tidak ada Paloma disana, Alano mengusap kasar wajahnya dan mengumpat dalam hati. Harusnya tadi aku tidak gegabah menciumnya, Shit! aku bahkan tidak bisa mengontrol diriku sendiri saat berhadapan dengan Paloma.
Alano masuk kembali kedalam mobilnya dia teringat untuk mengecek CCTV di jalan sekitar kantornya. Alanopun mulai menghack CCTV dan berusaha mencari Paloma yang menghilang sejak sejam yang lalu.
Belum sempat menemukan keberadaan Paloma melalui CCTV, handphone Alano berdering tertulis nama Pablo Dominic disana. Untuk apa lagi manusia licik ini menghubungiku! Alano mereject panggilan telepon Pablo dan kembalu fokus mencari Paloma ditabnya. Bunyi pesan masuk terdengar di handphone Alano, diapun membuka isi pesan itu dan membacanya.
Sekretaris pribadimu ada di rumah sakit Gamelli dia pingsan tadi dijalan. Aku membawanya kemari dia dirawat diruang VVIP no. 5
Alano memukul kuat stir mobil miliknya, Shit! kenapa Paloma bisa bersamanya. Dia kemudian mendapatkan rekaman CCTV Paloma sesudah ia keluar dari perusahaan. Terlihat kalau Paloma berlari sambil menangis ia bahkan hampir saja tertabrak sebuah mobil karena Paloma berlari kearah jalan raya.
Alano tersentak kaget saat melihat Pablo yang turun dari mobil itu dan menggendong tubuh Paloma kedalam mobil.
"Shit! Harusnya aku mengejar Paloma tadi."
Alano merutuki kebodohan dirinya yang tidak berpikir panjang sebelum mencium Paloma. Aku lupa kalau Paloma tidak menyukaiku dia pasti marah dan sakit hati waktu aku menciumnya.
Baru kali ini Alano merasa bersalah karena mencium seorang wanita, biasanya merekalah yang lebih dulu mendekati Alano dan mencium dirinya. Bahkan rela memberikan tubuhnya untuk one night stand bersamanya. Alano membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit dimana Paloma dirawat.
Tidak butuh waktu lama Alano tiba di rumah sakit, dia memakirkan mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah sakit mencari kamar ruang inap Paloma.
Hatinya tidak tenang sebelum memastikan keadaan Paloma. Alano sendiri bingung kenapa dia begitu mengkhawatirkan perempuan yang belum lama ia kenal. Begitu menemukan kamar ruang inap Paloma, Alano menarik handle pintu dan mendorongnya pelan.
Alano menghembuskan nafas lega saat melihat Paloma yang sedang tidur dengan jarum infus ditangan dan perban yang menutupi sikut Paloma. Syukurlah dia baik-baik saja, Alano mendekati tempat tidur Paloma menarik kursi dan duduk menatap wajah cantik Paloma yang tertidur dengan damai.
Wajah Alano merona melihat bibir merah Paloma, bayangan ciuman mereka berdua langsung terlintas dipikirannya. Ada senyum tipis dibibirnya saat mengingat bibir ranum dan kenyal Paloma.
Oh astaga apa yang aku pikirkan ini bukan pertama kalinya kau berciuman Alano! Kau tidak perlu gugup begitu. Alano merutuki dirinya sendiri merasa aneh dengan perasaan yang menjalar dihatinya.
"Kau marah padaku Paloma?." Alano melipat kedua tangan didepan dada bidang dan kekarnya.
"Menurutmu!." Paloma menjawab dengan ketus, dia masih belum mau memandang Alano sekarang.
"Itu hukuman untukmu karena berdekatan dengan pria lain di depanku." Alano menjawab dengan suara dingin khasnya menatap Paloma.
"Kau... Kau pikir kau siapa! Jangan asal bicara Alano!." Paloma menatap tajam Alano, ingin rasanya dia menonjok mulut kasar Alano.
"Kalau kau lupa aku akan mengingatkanmu kembali, aku suamimu Paloma!." Alano mengangkat satu alisnya membalas tatapan tajam Paloma padanya.
"Kau...!!"
Paloma tidak bisa meneruskan perkataannya karena yang diucapkan Alano memang benar, Alano memang suami sahnya meskipun mereka menikah hanya karena kesepakatan yang ia buat dengan Albert.
Sial! Aku bahkan tidak bisa membantah ucapan Alano. Paloma berteriak dalam hati untuk meredakan emosi.
"Mulai sekarang kau tidak boleh dekat dengan pria manapun kau harus ingat statusmu. Apalagi Pablo Dominic adalah pria yang licik kau sendiri bisa melihatnya bukan saat kita rapat bersama dewan direksi tadi. Dia bisa berada disana pasti karena pamanku, mereka bekerja sama untuk menjatuhkan aku dari kursi CEO merebut Lodovico, Corp. Jadi jangan pernah memberikan kesempatan pada musuhmu untuk mendekati dan mengetahui kelemahanmu Paloma!."
Alano berdiri dari kursi hatinya terasa panas saat mengingat Pablo menggendong Paloma tadi, dia berjalan keluar dan membanting pintu ruang rawat inap kamar Paloma
"Shit! Kenapa aku harus marah hanya karena itu, bodoh!."
Alano berjalan keluar rumah sakit dia bermaksud ingin membelikan Paloma makanan sambil menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk tidak tenang.
"Harusnya aku yang marah kenapa jadi dia yang marah-marah! Dasar pria aneh!."
Paloma menarik nafas panjang, bayangan ciuman mereka kembali terlintas dipikiran Paloma dan dengan refleks Paloma memegang bibirnya. Hangat.. Paloma tersenyum manis mengingat ciuman pertamanya bersama Alano.
**Like and Vote 🌹