The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Pertemuan 2



Siang ini agen Ronald dan Agen Catheline sedang dalam perjalanan menuju Mansion mewah Alano Lodovico, pengusaha muda dan sukses yang terkenal di Italia.


Mereka akan membahas rencana selanjutnya setelah mereka gagal menangkap Albert Hall paman Alano. Kedua agen itu tidak tahu kalau Alano telah membawa Albert ke markas dan membunuhnya. Mereka hanya mendapatkan informasi bahwa Albert melarikan diri dari rumah sakit setelah kecelakaan itu terjadi.


Memasuki kawasan elit dimana Mansion ketua Mafia Fire Red itu berada, mereka disambut dengan penjagaan yang ketat. Ada dua pos penjaga yang harus mereka lewati sebelum sampai ke halaman Mansion yang luas.


Bahkan ponsel dan pistol harus mereka tinggalkan di pintu utama Mansion. Dave sang asisten dan tangan kanan Alano menyambut kedatangan Agen Ronald dan Agen Catheline disana.


"Selamat siang Agen Ronald dan Agen Catheline. Silahkan ikuti saya."


Dave membawa kedua agen itu menuju ruang kerja bos besarnya. Steven masuk dan menyeduhkan teh serta kue pada mereka, dia lalu berdiri di ujung ruangan untuk menunggu kedatangan Alano tuan mudanya yang sedang di panggil Dave.


Kedua agen bersitatap aneh melihat Steven yang berdiri diam disana. Orang kaya memang lain, pikir mereka berdua. Mereka merasa seperti penjahat saat ini.


"Selamat datang ke rumahku yang sederhana ini Agen Ronald dan Agen Catheline."


Kedua agen menelan saliva nya mendengar ucapan Alano. Kalau yang seperti ini saja dia bilang sederhana bagaimana yang luar biasanya? Seberapa kaya sebenarnya orang ini? Pikir mereka berdua.


"Aku akan menyerahkan Gael Avignon pada kalian jika dalang penculikan Paloma sudah kalian tangkap!."


Dave memberikan sebuah amplop kepada Agen Ronald. Mereka begitu terkejut melihat isi amplop tersebut.


"Itu adalah bukti-bukti keterlibatan Sentosa, Bambang dan Bella. Mereka bertiga adalah dalang di balik ini semua. Aku ingin kalian mengekspos nya ke publik pada saat hari pemilihan tiba. Aku dengar Bambang mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden disana. Aku mau kalian menangkap mereka berdua hari itu juga."


"Terima kasih untuk bantuan mu tuan Alano, kami akan melakukan sesuai dengan perintahmu. Tapi yang aku dengar Sentosa menghilang tidak ada yang tahu dia berada dimana sekarang ini."


Alano tersenyum smirk sambil menyesap wine ditangannya.


"Kalian tidak perlu khawatir. Dia sudah mati saat mencoba membunuh Paloma."


"What?."


Kedua agen kompak berteriak kaget mendengar penuturan Alano barusan.


"Darimana anda tahu tuan Alano? Jadi dia ada di Italia saat ini?."


Agen Catheline bersuara.


"Sudah aku katakan dia mati saat dia mencoba membunuh Paloma. Mayatnya akan kami kirimkan ke kantormu besok, dan untuk Albert Hall kalian tidak perlu mencarinya lagi. Terima kasih untuk waktu kalian berdua."


Alano berdiri dan keluar dari ruang kerjanya meninggalkan dua agen yang masih kebingungan dengan informasi yang baru saja mereka terima.


Agen Ronald berusaha memanggil Alano namun segera dicegat oleh Dave yang masih berdiri di ruang kerja bos besarnya.


"Ada apa agen Ronald? Apa masih ada yang ingin kau ketahui?."


"Maaf atas ketidak sopanan ku tuan Dave. Saya hanya masih penasaran dengan ucapan tuan Alano tadi."


"Saya rasa penjelasan bos tadi sudah cukup menjelaskan semuanya. Saya minta maaf atas nama bos karena tidak bisa mengantar agen Ronald dan Agen Catheline pulang. Bos masih harus menemani istrinya yang masih sakit."


Dave tersenyum penuh arti, ucapannya cukup membuktikan kalau kehadiran mereka berdua tidak lagi diperlukan disana.


Agen Ronald dan Agen Catheline pun tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Mereka lalu keluar dari ruang kerja Alano dengan perasaan bertanya-tanya dalam hati. Sejak kapan Alano menikah, yang mereka tahu Alano masih single saat ini.


Ketika merek keluar dari dalam Mansion mewah milik Alano Lodovico, sekilas mereka melihat Ketua Mafia itu memeluk seorang wanita dari belakang. Apa itu istri tuan Alano? Sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya.


Kedua agen mencoba mengingat-ingat siapa perempuan itu meski mereka hanya bisa melihat punggung Paloma yang tertutupi dengan tubuh kekar Alano.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Rencananya hari ini author mau up 2 episode tapi anak author baru abis disuntik imunisasi jadi lagi demam sekarang..


Besok aja yaa guys


doain yaa mudah-mudahan demam nya cepat turun 😊


Jangan lupa dukung terus karya Author 🤗


Like and Rate


Terima kasih 🌹**