
Sesuai dengan rencana nya bersama Hana, Rangga sudah menyiapkan jebakan untuk Bella anggota Paspampres yang berkhianat dan berkomplot bersama Bambang Soesatyo untuk menculik Paloma.
Sudah dua hari ini mereka telah mengatur jebakan bagi Paspampres itu. Mereka yakin kalau cepat atau lambat Bella akan segera beraksi, mengingat Hana sebagai saksi yang mendengar pembicaraan Bella dan Bambang waktu itu masih hidup.
Ali Hartono kakak tiri Paloma Hendrawan masih setia menemani Hana di rumah sakit. Dia tidak ingin meninggalkan wanita itu sedetik pun.
Ali sendiri bingung dengan dirinya, kenapa dia harus bertindak seperti ini. Apa dia sudah jatuh cinta pada Hana? Ali tidak bisa memungkiri jika dia sedikit rindu dengan celotehan Hana.
Setiap malam Hana selalu menghubungi nya atau sekedar mengirim pesan untuk menanyakan kabar dan kegiatan apa saja yang dilakukan olehnya seharian
Ali keluar dari ruang perawatan Hana saat dia mendapatkan telepon dari sekretaris nya kalau ada sedikit masalah di perusahaan. Ali terpaksa meninggalkan Hana sendirian di kamarnya dan pergi ke perusahaan Hendrawan, Corp.
Namun sebelum dia pergi, Ali sempat mencium dahi Hana dan berujar kalau dia tidak akan lama dan akan segera kembali begitu urusan nya di kantor selesai.
Hana tersenyum dan membuka mata saat Ali keluar dari ruang perawatan nya. Hati Hana membuncah mendengar ucapan Ali, jantungnya berdetak hebat merasakan bibir hangat Ali sang pujaan hati menempel di dahinya.
Oh God, bagaimana aku bisa melupakan mu Ka kalau kamu memperlakukan ku begini. Hana memang sempat berpikir untuk merelakan Ali, karena dia berpikir perasaan nya terhadap lelaki itu tidak akan pernah bisa terbalaskan. Selama ini Ali terkesan dingin dan cuek padanya jika Hana memberikan sedikit perhatian lebih.
Seorang perawat wanita terlihat memasuki ruang perawatan Hana, dia membuka masker yang sengaja ia pakai dan tertawa sinis melihat tubuh lemah Hana yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Bodoh sekali pengawal dua mu itu nona Hana, mereka gampang sekali tertipu!."
Perawat itu ternyata adalah Bella anggota Paspampres yang ingin mencelakai Hana. Dia sudah menyamar selama beberapa hari ini sebagai perawat agar bisa masuk ke dalam ruang perawatan dimana Hana dirawat.
Namun Bella tidak bisa bertindak lebih karena Ali Hartono tidak pernah meninggalkan ruangan itu sedikit pun. Dan tadi dia beruntung karena melihat Ali buru-buru keluar dari ruang perawatan Hana, hingga Bella memiliki kesempatan untuk menghabisi putri Ketua MPR RI itu.
"Hahaha sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padaku nona Hana. Sayang sekali kau harus mati dengan cara yang mengenaskan. Harusnya kau tidak penasaran dengan urusan orang lain, dan duduk manis dirumah menikmati hidup mu! Tapi kau terlalu kepo dengan orang lain. Jadi jangan salahkan aku, jika kau harus mati saat ini juga!."
Bella tertawa sarkas melihat Hana yang masih tidak sadarkan diri semenjak kecelakaan dan penembakan itu terjadi.
Dia lalu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Dimana di dalamnya ada cairan racun yang akan langsung menghentikan detak jantung Hana, begitu cairan tersebut di suntikkan ke tubuhnya.
"Terima lah nasib sial mu nona Hana, dan aku harap kau akan segera pergi bertemu dengan nona Paloma disana!."
Bella mendekat dan bersiap menyuntikkan jarum suntik itu ke lengan Hana. Dia berjengkit kaget saat tangan Hana menahan kuat tangan nya dan menatap perempuan licik itu dengan tajam.
Bella mundur dua langkah ke belakang mencoba menguasai dirinya yang syok mendapati Hana telah siuman.
"Kau... kau sudah sadar?."
"Kenapa? Kau ingin aku terus-terusan kritis dan tidak sadarkan diri selamanya Bella?."
Hana tersenyum puas melihat tubuh Bella yang menegang takut.
"Jadi kau adalah dalang di balik penculikan Paloma? Katakan padaku sekarang ada dimana dia Bella! Dan kenapa kalian menculiknya?."
Bella kembali tertawa sarkas mendengar pertanyaan Hana padanya, dia pun maju mendekati ranjang Hana berada.
"Benar, aku salah satu pelaku penculikan nona Paloma. Karena kau sebentar lagi akan mati, aku akan menjawab pertanyaan mu. Nona Paloma sudah mati sekarang!."
Deg..
Bagai tersambar petir hati Hana sakit mendengar ucapan Bella barusan.
"Tidak! Kau berbohong, tidak mungkin Paloma sudah mati. Jangan coba-coba membohongi ku kepar*at!."
"Hahaha.. kau sungguh naif nona muda. Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti sebentar lagi kau akan pergi menyusul nya kesana!."
Bella mengambil pisau lipat di saku baju nya, dia bermaksud untuk membunuh sahabat anak Presiden itu dengan cara menggorok langsung lehernya. Bella sudah memikirkan rencana keduanya ini jika rencana pertamanya untuk menyuntikkan racun di tubuh Hana gagal.
Brakkk...
Bunyi pintu ruang perawatan Hana dibuka.
"Angkat tangan!."
Rangga masuk bersama beberapa anggota kepolisian dan menodongkan senjata ke arah Bella anggota Paspampres itu.
Hana segera menarik pisau di tangan Bella saat dia lengah, tangannya sedikit tergores karena berusaha mengambil pisau lipat itu.
Seketika polisi segera menyekap tubuh Bella ke dinding dan memborgol kedua tangan nya. Sial! Aku di jebak!.
"Bawa dia ke tempat yang sudah aku persiapkan, dan pastikan jangan sampai dia kabur!."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 2 episode
Like and Coment 🌹**