The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Menantu



Keluarga besar Presiden bersama rombongan keluar dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, menuju kediaman mereka tepatnya villa pribadi milik keluarga Kevin Hendrawan di Kota Bogor.


Kevin sengaja memboyong keluarganya kesana untuk sekalian berlibur akhir pekan, karena kebetulan weekend ini dia tidak memiliki jadwal kenegaraan.


Alano membawa mobil pribadinya sendiri yang baru saja dia beli begitu mereka mendarat di Indonesia. Dave bahkan sudah menyiapkan semua kebutuhan bos besarnya itu.


Kevin dan Poly tampak gelisah karena mendengar ucapan Alano yang memperkenalkan dirinya sebagai suami Paloma, anak gadis mereka. Paloma memang tidak menyangkal ucapan Alano tadi sehingga membuat Presiden dan Ibu Negara semakin resah.


Paloma hanya berujar kalau dia akan menjelaskan semuanya begitu mereka tiba villa.


Setibanya mereka di villa mewah milik Keluarga Presiden, udara segar dan pepohonan yang rindang menambah keindahan villa tersebut.


Ini pertama kalinya Alano menginjakkan kakinya ke kota Bogor, dia sampai terkagum-kagum dengan suasana asri di kota sejuk itu.


Alano hanya pernah ke pulau Bali satu kali untuk menghadiri peresmian perusahaan cabangnya disana.


Begitu turun dari mobil mewah yang baru saja Alano beli, semua terlihat memandangi nya dengan tatapan bertanya-tanya. Hana bahkan sempat pangling melihat ketampanan pria yang mengaku sebagai suami sahabat nya itu. Ingin sekali dia menarik Paloma dan menanyakan siapa sebenarnya lelaki tampan beserta asistennya yang tidak kalah tampan juga.


"Duduklah Al. Aku akan berbicara dengan Ayah dan Bunda. Tidak apa-apa kan aku meninggalkan mu sebentar?."


"Pergilah sayang, mereka pasti sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan mu. Aku akan menunggu dirimu disini, kau tenang saja sayang."


Alano mengusap lembut tangan Paloma mencoba memberikan ketenangan di hatinya.


Hampir satu jam Alano menunggu di ruang tamu bersama asisten kepercayaannya. Dia mulai gelisah karena Paloma belum juga keluar dari ruang keluarga, dimana saat ini keluarga besar Presiden itu sedang berkumpul.


"Kenapa mereka sangat lama Dave? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa mereka tidak akan menerima ku sebagai suami Paloma, Dave?."


Guratan kecil muncul dari wajah tampan Alano, ingin sekali Dave menertawakan sikap bos besarnya yang terlihat tidak tenang sejak tadi. Oh astaga, baru sekarang aku melihat bos gugup seperti ini. Mungkin ini yang dinamakan sindrom takut bertemu mertua.


"Tenanglah bos, saya yakin nona Paloma bisa meyakini keluarga nya untuk menerima bos sebagai suami sah nona muda."


Dave tersenyum tipis melihat bos besarnya. Selang 5 menit kemudian, Paloma keluar dari ruang keluarga dengan wajah yang tak terbaca membuat pria yang terkenal kejam itu was-was.


"Al, ayah ingin bertemu denganmu di ruang kerjanya. Dia ingin bicara empat mata denganmu."


Deg..


Alano semakin gelisah mendengar ucapan istrinya, oh my.. apa yang harus aku lakukan di dalam sana? Apa Paloma mengatakan sesuatu yang aneh pada keluarganya, hingga pak Presiden ingin bicara padaku?.


"Al... kau kenapa?."


Paloma menepuk lembut tangan Alano yang terlihat berkeringat dingin, seumur hidupnya dia tidak pernah merasa takut sekaligus gugup seperti saat ini.


Dave lagi-lagi ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah bos besarnya, tapi dia masih sayang dengan nyawa nya jika dia berani menertawakan bos kejamnya itu.


Namun, bukan Alano namanya kalau tidak pandai menyembunyikan perasaan gelisah nya. Dia tidak ingin Paloma menganggap nya lemah dan penakut hanya karena bertemu dengan mertuanya.


"Tidak ada apa-apa sayang. Ayo, bawa aku menemui Ayah mu."


"Baiklah, kau tenang saja Al. Ayah ku orang yang sangat baik, yah.. meski kadang Ayah bisa berubah menjadi sedikit galak kalau dia tidak suka dengan seseorang!."


Paloma tertawa dalam hati saat melihat Alano berusaha menelan salivanya dengan susah. Hahaha... sekali-sekali aku ingin sekali mengerjai mu Al.


Paloma pun membawa Alano menuju ruang kerja Ayahnya Kevin Hendrawan.


Tiba di depan pintu Paloma mencium mesra pipi Alano, memberikan semangat padanya.


"Masuklah Al, aku akan menunggu mu diluar. Bicara apa adanya saja jika ayah bertanya padamu. Aku sudah menceritakan semua tentang kita dan juga Momy."


Alano mengangguk dan masuk ke dalam, sekilas hawa dalam ruangan itu berubah menjadi dingin mencekam.


"Halo pak Presiden."


"Duduklah."


Kevin menatap tajam Alano Lodovico sang ketua mafia yang dikenal kejam itu. Alano bahkan tidak berani membalas tatapan mata orang nomor satu di Indonesia itu, dia berusaha mengatur nafasnya untuk mengurangi kegugupan yang ia rasakan.


"Jadi kau sudah menikah dengan putriku?."


"Iya pak."


"Apa kau sungguh mencintainya? Kalian menikah hanya karena kesepakatan saja bukan. Aku tidak ingin putriku menikah dengan orang yang tidak mencintainya."


"Sebenarnya saya ingin meminta maaf pada Bapak Presiden dan Ibu Negara, karena sudah menikah dengan Paloma tanpa meminta izin pada kalian. Aku juga tidak akan berbohong kalau awal pernikahan kami memang hanya karena kesepakatan saja, antara Paloma dengan paman ku. Tapi, seiring berjalan nya waktu aku mulai jatuh cinta pada Paloma. Dia seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk ku. Aku memang tidak bisa menunjukkan isi dalam hatiku, namun aku bisa membuktikan rasa cintaku yang tulus padanya. Dengan selalu setia dan menjaganya sampai akhir nafasku."


Alano berbicara penuh percaya diri, dia memang sudah jatuh cinta lebih dulu pada Paloma sejak melihat wanita itu memakai gaun pengantin dan mengikat janji suci di depan Tuhan.


Dia sudah berjanji pada Tuhan dan Angelina Hall Ibunya, tidak akan pernah meninggalkan Paloma sampai kapan pun.


"Bagus, aku suka kejujuran dan rasa percaya dirimu. Paloma adalah putriku satu-satunya, aku tidak ingin dia sampai salah memilih pasangan hidupnya. Dan ingat, jangan pernah berani coba-coba menyakiti anak kesayangan ku! Karena aku orang pertama yang akan melenyapkan mu!."


Glekk..


Alano menelan saliva nya susah. Baru sekarang dia diancam seperti ini, Ayah mertuanya itu terlihat sangat berwibawa dan serius saat berkata seperti tadi.


Tiba-tiba Poly datang menghampiri dua orang pria yang sedang saling menatap tajam.


"Berhentilah menakutinya Vin, kau ingin anakmu marah padamu karena menakuti suami yang dicintainya?."


Kevin berdecak tidak suka saat Poly mengganggu pembicaraan mereka berdua. Kevin memang hanya ingin menggertak sedikit lelaki Italia itu, untuk melihat apakah dia pria yang kuat atau lemah.


Kevin tidak ingin Paloma menikah dengan lelaki yang lemah dan tidak bisa diandalkan.


"Jangan dengarkan ayah mertuamu Alano, dia hanya ingin menggertak mu saja. Selamat datang di keluarga Hendrawan menantuku."


Poly tersenyum lembut seperti Momy Alano, tatapan matanya juga sehangat Angelina Hall Ibu pria dingin itu.


"Ayo kita pergi menemui keluarga yang lain."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Alano bisa ngerasa gugup and takut juga yaa guys 🤭


Akan ada up setiap harinya


Terus dukung karya ku yaa guys 🤗


Like and Vote 🌹**