
Siang ini Hana dan Rangga akan pergi ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto untuk menjenguk Austin dan memberikan semangat pada Samantha Ibunya Austin.
Semenjak penculikan Paloma dan baku tembak yang terjadi Austin masih koma hingga sekarang. Dia dirawat diruang perawatan Intermediate Paviliun dr. R. Darmawan, PS.
Paviliun dr. R. Darmawan, PS merupakan bagian dari RSPAD Gatot Subroto, untuk pelayanan rawat inap dengan motto 'Kami mengutamakan pelayanan dengan SIMPATIK'. Senyum, Ikhlas, Mutu, Profesional, Antisipasi, Tanggap, Informatif, Kekeluargaan. Dengan didukung oleh fasilitas unggulan dan dokter spesialis, sub spesialis dibidangnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Hana mengetuk pintu ruang perawatan Austin, Samantha beranjak dari sofa dan membukakan pintu.
"Selamat siang Tante." Hana dan Rangga kompak menyapa Samantha.
" Selamat siang juga Han, Rangga. Ayo masuk."
Samantha membuka lebar pintu ruang rawat dan mempersilahkan mereka masuk. Hana sedikit terkejut saat melihat Ali Hartono duduk di samping ranjang Austin. Dia menjadi salah tingkah sendirk melihat Ali yang tersenyum manis kepadanya.
Oh astaga kenapa Ka Ali juga ada disini, hah.. bikin Ade nggak kuat aja dan apa itu kenapa harus senyum-senyum seperti itu sih bikin klepek-klepek hati Ade aja.
Haha sudah lama menaruh hati pada kakak sahabatnya itu, tapi selama ini Hana tidak pernah berani untuk mengutarakan perasaannya. Dia takut jika Ali hanya menganggapnya adik layaknya Paloma.
Ali memang selalu baik dan perhatian pada Hana, itu juga yang membuat Hana semakin ingin memiliki dan bersama dengan Ali. Namun rasanya dia harus sadar diri, di tidak mau merusak hubungan baik diantara mereka berdua.
Hana terlonjak kaget saat bahunya ditepuk oleh Rangga, "Kau melamun Hana?."
Hana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maaf aku kepikiran Paloma tadi begitu melihat Ka Austin."
Hanya alasan itu yang terlintas dipikirannya, maaf Paloma aku membawa-bawa namamu untuk menutupi kebohonganku.
"Ka Ali apa kabar? Sudah lama disini?."
Hana berusaha bersikap biasa agar tidak terlihat salah tingkah dan kegugupannya melihat Ali Hartono.
Ali tersenyum manis, "Sekitar 10 menit Han. Duduklah aku juga sudah mau balik ke perusahaan."
"Eh.. kok cepat sekali sih Ka, kami juga baru sampai."
Hana memelas menatap Ali, padahalkan aku masih ingin bersama dengan ka Ali pikirnya.
"Iya Ali, tunggulah sebentar lagi siapa tahu dengan melihat kalian berkumpul begini Austin mau bangun dari tidurnya."
Samantha berujar dengan lirih matanya kembali sendu melihat Austin yang masih koma dengan kabel yang menempel didadanya.
Samantha rindu dengan anak lelakinya itu, biasanya kalau mereka sudah berkumpul seperti ini tawa canda dan kebisingan akan mewarnai rumahnya.
Hana yang mengerti kesedihan Ibu Austin itu mendekati dan memeluknya untuk sekedar memberi rasa nyaman bagi Samantha. Dia tahu kalau Samanthalah orang yang sangat terpukul dengan keadaan Austin saat ini.
"Tante jangan sedih lagi yah.. aku yakin ka Austin pasti akan segera sadar. Kami akan sering-sering kemari untuk menemani Tante." Hana mengusap lembut punggung Samantha.
"Iya Tante jangan bersedih lagi." Rangga mendekati Samantha dan ikut memeluknya.
Ditengah suasana yang penuh kesedihan dan airmata tiba-tiba saja mesin pendeteksi impuls listrik jantung atau elektrokardiograf berbunyi. Semua orang langsung panik mendengarnya, Ali menekan tombol diatas ranjang untuk memanggil dokter datang keruang rawat Austin.
"Apa yang terjadi, Austin..."
Samantha sudah berada disamping ranjang dan memanggil-manggil nama Austin, dia sangat takut jika Austin pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Dokter dan dua orang perawat masuk kedalam dan meminta mereka untuk keluar sementara dokter memeriksa keadaan Austin. Samantha memaksa untuk tetap disitu pikiran negatif datang menghantuinya dia tidak ingin berada jauh dari Austin anaknya.
Ali dan Rangga menarik paksa tangan Samantha keluar dari sana, "Tenanglah Tante biarkan dokter memeriksa Austin dengan tenang. Austin pasti akan baik-baik saja."
Ali mencoba menenangkan Samantha dan membawanya duduk di kursi tunggu. Mereka juga ikut khawatir memikirkan Austin didalam sana, aku tahu kau kuat Austin kau tidak boleh menyerah kami semua menunggumu disini.
Samantha menghubungi Kerta Hendrawan yang saat itu sedang rapat bersama rekan bisnisnya. Kerta tidak kalah syok dengan istrinya dia segera meluncur pergi ke rumah sakit bersama supirnya.
20 menit kemudian dokter keluar dari ruang perawatan Austin diikuti perawat dibelakangnya. Samantha berdiri dan menghampiri dokter dengan penuh harap Austin baik-baik saja didalam.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?." Suara Samantha terdengar lirih menahan rasa cemas dan takut.
"Nyonya jangan khawatir tadi Tuan Austin memang sempat drop kondisinya tapi sekarang sudah stabil kembali. Kita berdoa saja semoga tuan Austin bisa secepatnya sadar, dia terlihat memiliki semangat untuk tetap hidup. Saya permisi dulu."
Dokter mundur dua langkah dan membungkuk dengan sopan pergi meninggalkan mereka.
Semua bernafas dengan lega mendengar penjelasan dokter barusan, Hana memeluk Samantha dengan erat dia tahu kalau Ibu Austin masih syok saat ini.
Hana ikut menangis bersedih mengingat Austin yang selalu ada bersama mereka jika dia berkumpul bersama Paloma, Ali dan Rangga. Bahkan Austin sangat perhatian padanya hampir tiap malam Austin selalu menanyakan kabarnya meski ia sibuk dengan tugasnya sebagai salah satu ajudan Presiden.
Oh ka Austin.. Cepatlah sadar aku rindu bercanda denganmu, Hana bergumam dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Dukung terus karya Author dengan Like Vote and Rate guys
Terima kasih 🌹**