
Dave membawa Paloma ke sebuah resort mewah di pinggir pantai. Alano berdiri dan membukakan pintu mobil untuk istrinya dan menarik tubuh Paloma agar mendekat ke arahnya.
Alano sempat pangling saat melihat Paloma turun dari mobil mewahnya. Paloma memang selalu terlihat cantik di matanya, dan malam ini kecantikan nya seakan bertambah berkali-kali lipat.
"Ada apa Alano, kenapa membawaku kemari?."
Alano tersenyum tulus, "Bukankah katamu kau bosan di Mansion sayang? Anggap saja kita sedang honeymoon disini."
Paloma terbelalak mendengar ucapan Alano. What? Honeymoon? Oh astaga kenapa tiba-tiba seperti ini. Aku bahkan bisa mengartikan apa maksud dengan kata honeymoon sebenarnya.
Tapi tunggu, Alano tidak sedang memaksa ku untuk melakukan itu bukan? Paloma sedikit gelisah sekarang, tangannya berkeringat dengan wajah yang merona.
"Ada apa sayang? Kenapa kau berkeringat? Apa kau sakit Paloma sayang?."
Paloma menggeleng cepat, "Tidak Al. Aku baik-baik saja."
Paloma berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya malam ini.
Alano lalu membawa Paloma ke pinggir pantai dimana sudah ada meja dan kursi dengan lilin-lilin kecil disana. Suasana romantis begitu terasa ditambah dengan alunan musik biola menemani makan malam mereka.
Sinar bulan dan bintang menyinari indah pasangan suami istri itu. Paloma tidak bisa menutupi rasa bahagianya bahkan telah melupakan kegelisahan yang sempat dia rasakan tadi.
"Apa kau suka sayang?."
Alano menggenggam lembut tangan halus Paloma.
"Aku sangat menyukainya Al, tidak ku sangka kau bisa melakukan hal yang romantis seperti ini."
Alano tertawa kecil mendengar ucapan Paloma, dia tahu kalau istri tercintanya sedang memuji dirinya meskipun terdengar meledek.
"Kau orang pertama yang aku perlakukan seperti ini sayang. Aku ingin selalu bisa memanjakan mu selamanya."
Alano berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Paloma berdansa di iringi musik biola. Paloma tidak berhenti tersenyum bahagia, mereka menikmati malam yang penuh bintang itu dengan mesra.
Tiba-tiba Alano berlutut di bawah kaki Paloma sambil memegang kedua tangannya.
"Paloma Hendrawan, maukah kau menjadi orang yang selalu setia menemani, menerima, mencintai, dan membimbing aku hingga tua bersama selamanya?."
Mata Paloma sudah berkaca-kaca saat ini, apa ini lamaran dan pernyataan cinta yang sebenarnya? Alano ternyata sangat mengerti jika aku sudah lama memimpikan lamaran yang seperti ini.
"Aku mau Al."
Paloma tersenyum bahagia, ia menangis terharu dengan ucapan Alano barusan.
Alano berdiri dan langsung mencium bibir Paloma dengan penuh cinta. Hatinya membuncah dengan perasaan berbunga-bunga. Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta.
Alano semakin memperdalam ciuman mereka. Dia ******* dan mengh*sap bibir Paloma yang terasa manis setiap hari baginya.
Alano melepas ciuman itu saat Paloma mulai susah untuk bernafas.
"Bernafas lah sayang."
Alano tersenyum mengejek Paloma, dia masih saja kesulitan bernafas saat berusaha mengikuti permainan lidah Alano.
"Berapa kali sudah aku katakan jangan mencium ku secara tiba-tiba seperti itu Al. Aku masih dalam tahap belajar! Aku bukan seperti kamu yang sangat mahir berciuman!."
Paloma menatap kesal Alano dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
Alano mengusap bibir ranum dan kenyal itu dengan ibu jarinya, membersihkan lipstick Paloma yang belepotan karena ulahnya.
Paloma memutar bola matanya malas, dia tahu kalau Alano akan terus meledek nya jika dia menanggapi pertanyaan itu.
Paloma berdecak, "Berhentilah menggodaku Al. Sudah aku katakan aku bukan dirimu yang sangat mahir melakukan nya!."
Tawa Alano pecah melihat bibir merah dan seksi yang baru saja dia ***** tadi mengerucut, dengan wajah Paloma yang tampak menggemaskan baginya.
Alano menarik tubuh Paloma dan mendekap nya erat. Rasanya dia ingin sekali membawa Paloma ke kamar resort dan melucuti pakaian wanita cantik itu. Membuatnya mengerang nikmat di bawah tubuh kekar Alano.
Oh Shit! Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku tidak boleh memaksa istriku sendiri sekarang. Aku tidak mau Paloma malah membenci ku karena itu!
Alano menggeleng mencoba mengusir pikiran kotor tentang istrinya. Paloma yang melihat Alano mengernyit heran.
"Ada apa Al? Kenapa menggeleng seperti itu?."
"Tidak sayang, tidak kenapa-napa."
Alano tersenyum kaku menutupi rasa gugupnya karena Paloma sempat melihat tingkah anehnya barusan.
Alano kembali mendekap Paloma, wangi bunga rose menyeruak dari tubuh Paloma membuat pria dingin itu terhanyut menikmati nya.
Aku akan menunggu hingga kau benar-benar siap dan membuka hatimu seutuhnya untuk ku sayang, Alano bergumam dalam hati. Dia lalu mencium mesra dahi Paloma dengan penuh cinta dan kehangatan.
Malam itu mereka habiskan dengan saling memeluk satu sama lain menikmati angin malam dan suara deburan ombak di pinggir pantai.
Sesekali mereka bercanda tertawa bahagia karena bisa memiliki satu sama lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Like and Vote 🌹