The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Sayatan



Begitu tiba di Kota Napoli Albert memerintahkan anak buahnya untuk membawa Paloma ke kamar. Paloma masih belum sadar dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.


Albert duduk di sofa ruang tamu dan menarik nafas panjang dia yakin Alano pasti akan segera tiba disana. Karena dia tahu kalau keponakannya itu pasti sudah mendapatkan informasi tentang menghilangnya Paloma dari rumah sakit, dan dialah pelaku penculikan nya.


5 menit kemudian Sentosa masuk ke dalam rumah Albert bersama anak buahnya.


"Dimana wanita itu?."


"Dia ada di kamar dan keadaan nya sangat tidak baik ketua. Ada baiknya jika kau ingin membunuhnya lakukan sekarang juga."


Sentosa tersenyum sinis mendengar ucapan Albert, "Itu terlalu mudah baginya. Aku ingin menyiksanya terlebih dahulu sebelum membunuhnya!."


Sentosa memberi perintah pada salah satu anak buahnya untuk menyadarkan Paloma. Dia ingin melihat rasa sakit di mata Paloma dan memohon untuk hidup.


Sentosa berencana akan merekam setiap penyiksaan yang dia berikan pada Paloma dan mengirimnya pada Kevin Hendrawan. Sebentar lagi pembalasan dendam ku akan segera terlaksanakan, Sentosa bersorak dalam hati.


Anak buah Sentosa mengikat Paloma disebuah kursi begitu dia mulai sadar. Sentosa duduk di depannya dengan Albert yang berdiri disampingnya.


Paloma merasakan sakit dan nyeri di dada saat kesadarannya mulai terkumpul. Ada dimana aku kenapa tangan dan kaki ku di ikat seperti ini?


"Halo nona Paloma Hendrawan."


Sentosa duduk dengan melipat tangannya di dada. Paloma terbelalak kaget saat melihat orang yang dia kenal duduk di depannya.


"Paman Sentosa?."


Paloma memang memanggil Sentosa dengan sebutan paman karena Sentosa berteman dengan ayah nya dan sering berkunjung ke Istana Kepresidenan dan rumah pribadi mereka.


"Ada apa ini paman? Kenapa paman bisa ada disini, dan kenapa tangan dan kaki ku di ikat?."


Sentosa tertawa mendengar pertanyaan Paloma padanya.


"Kau memang senang sekali bertanya sejak dulu Paloma. Baiklah aku akan menjawab rasa ingin tahumu itu. Akulah yang membayar orang untuk menculikmu dan membawa mu ke Italia. Aku berencana untuk membunuhmu disini, namun karena kebodohan dan keserakahan Albert Hall hingga kau belum juga mati! Tapi malam ini aku akan pastikan dengan tangan ku sendiri untuk membunuhmu."


Paloma tahu kalau dalang penculikan nya pastilah karena ulah orang dalam yang dekat dengan keluarga mereka, tapi Sentosa adalah salah satu orang yang begitu dihormati Paloma. Selain dia berteman dengan ayahnya Sentosa pun cukup dekat dengan Paloma sejak kecil, jadi Paloma selalu menganggap Sentosa layaknya paman kandungnya sendiri.


"Kenapa paman, kenapa paman begitu tega menculikku hingga mau membunuhku? Apa salahku pada paman Sentosa?."


Airmata Paloma jatuh dipipi Paloma, hatinya terasa sakit melihat kenyataan yang ada di depan matanya.


"Kau tidak bersalah apapun Paloma, tapi ayahmu lah yang sudah membuat kesalahan padaku. Dia harus merasakan bagaimana rasa sakit kehilangan seorang anak yang begitu dicintainya. Jadi jika kau ingin marah dan benci, Kevin lah yang harus kau salahkan Paloma sayang."


Sentosa berdiri dari kursinya dan menjambak rambut Paloma dengan kencang hingga ia merintih kesakitan. Sentosa lalu mengambil pisau ditangan anak buahnya dan mulai menyayat tangan Paloma.


"Aaaaaa..."


Paloma berteriak ketika rasa sakit akibat sayatan pisau itu mengenai tangannya, darah segar mengucur keluar dari luka bekas sayatan pisau.


"Kau terlalu berisik Paloma telinga ku sampai sakit mendengar teriakanmu. Tapi kau tenang saja pertunjukkan kita baru saja dimulai!."


Sentosa tertawa sarkas dan membuang pisau yang dia pegang sembarangan. Ada rasa puas saat dia melihat Paloma berteriak dan menangis menahan rasa sakit.


"Paman..."


"Lakukanlah apa saja yang ingin paman lakukan padaku. Tapi aku mohon jangan mengganggu orang tua ku lagi paman Sentosa."


Sentosa yang sudah duduk kembali dikursi tertawa mengejek mendengar ucapan Paloma.


"Kau ternyata orang yang cukup berani Paloma. Pantas saja Kevin selalu memujimu dengan sikapmu yang tidak pernah takut dengan apapun. Kali ini aku akan memastikan membuat mereka menyesal karena sudah berani menolak permintaanku untuk menyelamatkan anak ku waktu itu!."


Seorang anak buah Albert Hall mendekati bosnya dan berbisik sesuatu. Albert tersenyum penuh arti mendengar laporan anak buahnya.


"Bawa dia kemari."


Anak buah Albert Hall keluar dari ruangan itu dan kembali bersama seorang pria tinggi dan tampan. Dia memakai kacamata hitam dengan tangan disaku celananya.


"Kebetulan sekali kau ada disini Pablo, aku memang membutuhkan bantuanmu sekarang."


Albert berdiri disamping Pablo Dominic dan merangkul bahunya untuk memperkenalkan dirinya dengan Sentosa.


Albert meminta pada Pablo agar meminjamkan beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga disekitaran rumahnya. Dia tahu kalau Alano pasti akan tiba sebentar lagi disana, dan akan mengacaukan rencana yang sudah dia susun bersama Sentosa untuk membunuh Paloma.


Pablo melihat keadaan Paloma yang tampak pucat dan lemah dengan luka penuh darah ditangannya. Dibalik saku celana Pablo mengepalkan kuat tangannya, bertahanlah Paloma sebentar lagi Alano pasti akan segera tiba disini untuk menolongmu.


Alano memang menghubunginya sejam yang lalu, dia meminta pada Pablo untuk segera ke rumah Albert Hall yang ada di Kota Napoli dan berusaha mengulur waktu agar mereka tidak bisa membunuh Paloma hingga dia tiba disana. Kebetulan hari ini Pablo memang sedang berada di Kota Napoli untuk bertemu dengan rekan bisnisnya di hotel.


Begitu Alano mengatakan kalau Paloma dibawa lari oleh Albert Hall kerumahnya, Pablo segera mengumpulkan anak buahnya untuk berjaga disekitar rumah Albert jika terjadi sesuatu.


Dia tidak ingin gegabah sekarang mengingat Paloma bisa kapan saja mereka bunuh di depan matanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Hari ini Up 2 episode


Tungguin yaa guys


Like Coment and rate 🌹**