
"Aku sudah memaafkan perbuatan mereka, Tante Eka tidak perlu meminta maaf lagi. Tante Eka dan keluarga tidak bersalah sama sekali, om Bambang, paman Sentosa dan Bella lah yang melakukan kesalahan. Tante tidak perlu meminta maaf untuk mereka! Tapi, proses hukum akan tetap berlanjut. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah mereka lakukan!."
Paloma mengatur nafas untuk menguatkan hati kecilnya.
"Sekarang lebih baik Tante Eka pulang, berhentilah bersedih pada orang yang sudah tega membuat malu keluarga Tante. Mulailah dengan hidup yang lebih baik kedepannya bersama anak Tante Eka. Semua sudah berakhir dan aku sudah memaafkan mereka."
Hati Alano terenyuh mendengar ucapan Paloma yang dengan berbesar hati mau memaafkan perbuatan keji Bambang, Sentosa dan Bella. Dia semakin yakin kalau istrinya itu adalah titisan malaikat yang diutus oleh Tuhan untuk selalu berada di sampingnya.
Setelah Tante Eka dan putrinya pulang. Kevin, Poly juga Paloma dan Alano masih duduk di ruang tamu terdiam. Memikirkan bagaimana perasaan istri dan anak Bambang Soesatyo yang tengah dilanda musibah seperti ini.
Mereka tahu kalau publik akan terus menyalahkan keluarga mereka, apalagi ditambah dengan kekecewaan pendukung Bambang Soesatyo dalam pemilihan Wakil Presiden tempo hari.
Keluarga mereka akan terus merasa tertekan karena nya. Tapi Kevin hanya berharap setelah mereka datang dengan niat yang tulus untuk meminta maaf pada keluarga mereka dan juga Paloma. Publik akan secara perlahan menerima dan memaafkan keluarga Bambang, Sentosa dan juga Bella.
Meski ibu Bella hanya sempat datang menemui Bella ketika dia ditahan di kantor polisi dan meminta maaf melalui media massa untuk keluarga Presiden, yang sudah begitu baik pada keluarga mereka.
"Kau sangat baik sayang. Ayah dan Bunda bangga memiliki putri seperti dirimu, yang mau memaafkan perbuatan jahat mereka padamu."
Kevin menatap lembut putri tercintanya itu yang semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak.
"Aku tidak melakukan apa-apa Ayah. Aku hanya ingin mengampuni dan merelakan semua yang sudah menimpa diriku dan keluarga kita. Tuhan saja mau mengampuni orang yang berbuat dosa padanya, masa aku yang hanya manusia biasa tidak bisa memaafkan perbuatan mereka."
Alano kembali terharu mendengar ucapan Paloma barusan. Rasanya dia semakin jatuh cinta pada perempuan berhati malaikat itu setiap detiknya.
Kevin dan Poly tersenyum bangga dan penuh cinta melihat putri tunggal mereka. Ternyata didikan mereka selama ini tidaklah sia-sia, Paloma tumbuh menjadi pribadi yang sangat murah hati dan berhati lembut pada orang lain.
Alano yang duduk di samping Paloma berbisik pelan di telinga istrinya.
"Aku juga sangat bangga padamu sayang. Kau memang wanita berhati malaikat."
Paloma merona mendengar ucapan Alano suaminya sambil tersenyum malu-malu. Mereka kembali terdiam selama beberapa menit, larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Ngomong-ngomong ayah, aku sempat menonton berita kalau istri paman Sentosa berada di rumah sakit jiwa. Apa itu benar ayah?."
"Iya Paloma, istrinya memang sedang di rawat di rumah sakit jiwa sekarang. Ayah dengar dia stress tidak bisa menerima kenyataan kalau Sentosa sudah meninggal dan ikut terlibat dalam kasus penculikan dirimu. Ditambah lagi, dia lebih merasa tertekan dengan bullying publik pada keluarga mereka. Hah.. kalau sudah begini, ayah merasa sangat bersalah pada istrinya itu. Kasihan dia karena sudah tidak memiliki siapapun disamping nya."
Poly mengusap lembut lengan pria yang sangat dicintainya itu, memberikan rasa tenang di hati orang nomor satu di Indonesia.
"Iya ayah, benar kata bunda. Itu semua adalah pilihan paman Sentosa. Kita berdoa saja agar paman Sentosa tenang di alam sana."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Like and Vote 🌹