The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Musuh Lama



Setelah pembicaraan mereka yang menguras emosi, Paloma memutuskan untuk tidur. Dia butuh tidur untuk menenangkan hatinya.


Paloma bersyukur karena Alano mau membantunya, ia yakin Alano akan berhasil menemukan dalang dibalik penculikannya.


"Apa kau akan tidur disini Alano?" Paloma yang sudah berada di tempat tidur tersadar kalau Alano masih bersamanya di dalam kamar.


Alano berdiri dari sofa dan mendekati Paloma di tempat tidur, Paloma menarik selimut yang ia pakai hingga menutupi dirinya sampai ke leher. Paloma menatap waspada Alano yang kini berdiri disamping tempat tidur.


"Jangan berpikiran aneh Paloma, aku sama sekali tidak tertarik pada tubuh kurusmu itu ... dan tentu saja aku akan tidur disini. Kamar ini aku booking atas namaku, kalau kau tidak suka kau bisa booking kamar lain untuk kau tidur!" Alano menatap tajam Paloma.


Paloma menarik nafas kasar. "Baguslah kalau kau berpikir begitu. Ingat kita menikah karena ulah pamanmu, jadi kau harus berjanji untuk tidak berbuat macam-macam padaku meskipun kita suami istri yang sah."


"Kau cerewet sekali Paloma, lebih baik sekarang kau tidur. Aku harus pergi, ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan."


Paloma mengangguk mengiyakan, iapun langsung merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur empuk dan tertidur.


Alano keluar dari kamarnya, berjalan menuju kamar Dave yang berada tepat di depan kamar mereka.


"Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku butuhkan Dave?" Alano duduk dengan gaya wibawanya.


"Berdasarkan panggilan telepon tuan Albert selama satu bulan ini, dia mendapatkan panggilan paling banyak berasal dari Indonesia atas nama Sentosa Abdi Djoyo dan Bella, anggota Paspampres yang dekat dengan Ibu nona Paloma."


Dave membacakan daftar panggilan telepon prabayar Albert Hall yang sengaja ia retas, untuk mencari tahu siapa yang memberi perintah pada Albert untuk membunuh Paloma.


Alano menganggukkan kepala, sepertinya ia sudah tahu siapa dalang dibalik penculikan Paloma. Tapi dia masih harus menyelidiki lebih lanjut karena pasti masih ada kaki tangan yang lain dalam penculikan ini.


"Lalu siapa orang yang menculik Paloma di Indonesia dan membawanya kemari?" Alano masih duduk dengan tenang, sambil memangku kaki menyesap wine ditangannya.


"Saya berhasil meretas situs resmi FBI dan CIA, Bos. Berdasarkan laporan yang saya baca, orang itu adalah Gael Avignon warga Perancis . Seorang pembunuh bayaran mantan agen CIA, dan pemimpin kelompok teroriss Butterfly, Bos."


"Hmm ... Butterfly rupanya, sudah lama aku ingin menghancurkan kelompok teroriss itu. Mereka masih punya hutang padaku!" Alano tersenyum smirk mendengarkan nama Gael Avignon.


Sekitar setahun yang lalu mereka sempat bertemu di sebuah kasino di Las Vegas dan bertarung untuk memperebutkan wilayah kekuasaan disana.


Waktu itu mereka bertaruh di meja judi, namun saat Gael kalah dia melarikan diri dari kasino itu dan membawa lari uang milik Alano. Bahkan dia membunuh beberapa anggota Mafia Fire Red.


Alano tidak mengejarnya karena ia yakin mereka pasti akan bertemu lagi, tapi siapa sangka kalau bertemunya dia dengan Paloma membawa Gael padanya.


"Dia berada di pulau pribadi milik Sentosa di Australia, Bos."


"Bagus, aku ingin kau kesana besok pagi dan menangkapnya. Bawa dia kemari hidup-hidup!" Alano tersenyum penuh arti menatap Dave yang duduk di depannya.


"Lalu bagaimana dengan tuan Albert, Bos? Apa kita akan langsung bertindak padanya? Kemarin dia bertemu dengan Pablo Dominic. Aku rasa dia ingin bekerja sama dengan Pablo untuk merebut Lodovico, Corp, Bos."


Alano tertawa mengejek mendengar ucapan Dave, dia tahu kalau kedua orang itu ingin sekali menghancurkannya setelah apa yang menimpa mereka.


"Kau tidak perlu khawatir Dave, aku sudah mengatakan padamu bukan kalau aku ingin mengikuti permainan pamanku. Biarkan saja dulu dia, aku ingin fokus menyelesaikan masalah Paloma kali ini. Aku tidak mau dia terlalu lama terjebak diantara permasalahan keluarga kami, setidaknya aku akan membawa pulang Paloma ke Indonesia dengan selamat seperti janjiku padanya."


Alano memang tidak ingin Paloma terbawa-bawa dalam masalah keluarga Lodovico, baginya Paloma hanya korban dari kelicikan pamannya.


Lagipula Paloma sudah cukup menderita dengan keadaannya sekarang ini, berjauhan dengan kedua orangtunya dan dibayangi rasa takut atas ancaman Albert yang ingin menghabisi Presiden dan Ibu Negara.


Bos ternyata sangat peduli pada nona Paloma hingga mau repot-repot menyelesaikan masalahnya, semoga saja bos bertindak begini hanya karena kasihan dan bukan karena mulai menyukai wanita cantik keturunan Indonesia itu.


Dave bergumam dalam hati lalu melangkah pergi dari kamar hotel, dia harus bersiap pergi ke Australia bersama anggota Mafia Fire Red untuk menangkap dan membawa Gael Avignon ke Italia.


.


.


.


.


.


.


.


**Up 2 episode lagi hari ini


Jangan lupa Like and Vote 🌹