
Setelah mengantarkan Paloma pulang ke Mansion, Alano kembali ke perusahaan Lodovico, Corp.
Dia menghubungi Dave sang asisten kepercayaan, karena sejak dia pergi membawa Barbara lelaki itu belum juga kembali ke kantor.
"Dimana kau Dave? Kenapa tidak mengangkat telepon ku dari tadi!."
"Maaf bos, saya sedang memberi hukuman pada nona Barbara atas perilakunya tadi siang di kantor bos."
Dave berujar jujur tidak ingin membohongi bos besarnya.
"Apa yang kau lakukan padanya Dave? Awas saja jika kau sampai menyakiti perempuan itu. Paloma memarahi ku tadi di kantor karena kau bersikap kasar pada Barbara! Aku sampai kelabakan mencoba membujuk dirinya agar tidak marah-marah, dia menuduhku kalau aku yang memberi mu perintah seperti itu!."
"Maafkan saya bos, saya berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi di depan nona muda."
Alano membuang nafas kasar dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Sudahlah. Ada dimana sekarang Barbara?."
"Kami sedang berada di apartemen milik ku bos. Aku sengaja membawanya kemari agar lebih mudah diawasi."
"Baiklah. Aku akan kesana setelah meeting sore ini selesai, kau tunggu aku saja disana tidak perlu kembali lagi ke kantor."
Alano menutup panggilan telepon tanpa menunggu jawaban Dave di seberang sana.
Dave yang merasa gugup karena Alano akan datang menemui mereka, segera memakai bajunya. Dia baru saja keluar dari kamar mandi untuk menuntaskan hasrat lelakinya yang tidak sempat tersalurkan tadi.
Dave masuk ke dalam kamar Barbara tanpa mengetuk pintu dan mendapati wanita itu baru saja keluar dari kamar mandinya hanya menggunakan handuk, yang memperlihatkan tubuh seksi dan paha mulusnya.
"Aaaaa...."
Barbara refleks menutup dada dengan kedua tangannya, membuat Dave kesusahan menelan saliva.
"Dasar brengsek! Apa lagi yang kau inginkan Dave!."
"Jangan berisik, aku tidak akan berbuat apa-apa padamu. Bos akan datang kesini, jadi aku hanya akan mengatakan padamu. Jangan berani berbicara yang tidak-tidak pada bos! Aku akan membuat mu menyesal karenanya."
Dave keluar setelah berbicara panjang lebar pada Barbara, dia masih gugup karena melihat pemandangan indah di depan matanya.
Bayangan tubuh seksi Barbara kembali menari-nari di kepalanya. Shit! Lagi-lagi aku hampir saja lepas kontrol pada wanita pengganggu itu.
Naluri Dave sebagai lelaki yang haus akan belaian meronta-ronta ingin menyentuh tubuh seksi Barbara yang sempat dinikmati nya tadi.
2 jam kemudian, Alano tiba di apartemen mewah sang tangan kanan yang disambut oleh Dave di depan pintunya.
Barbara tidak ingin keluar dari dalam kamar karena masih takut dengan perlakuan Dave padanya tadi. Dia bahkan langsung mengunci diri di dalam sana, takut jangan Dave tiba-tiba masuk seperti tadi.
"Dimana Barbara, Dave?."
"Dia sedang berada di kamarnya bos.”
"Panggil dia kemari!."
"Baik Bos."
Dave beranjak dari ruang tamu, dan pergi menuju kamar Barbara yang terletak di lantai 2 bersampingan dengan kamar pribadinya.
Tok.. tok.. tok...
Dave mengetuk pintu kamar Barbara dengan pelan.
"Barbara, bos ingin bertemu dengan mu dibawah."
Ceklek...
Barbara segera membuka pintu kamar saat mendengar kalau Alano ingin bertemu dengan dirinya.
Dave menarik tangan Barbara yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
"Jangan lupa dengan perkataan ku tadi Barbara. Aku tidak pernah main-main dalam berucap!."
"Iya, aku tahu."
Barbara berkata dengan ragu-ragu karena masih takut dengan lelaki itu, yang bisa berubah menjadi monster saat dia sedang marah.
"Duduklah Barbara."
Alano menatap dalam pada wanita masa kecilnya itu setelah dia duduk di depannya. Alano melihat ujung bibir Barbara yang tampak biru dengan luka tipis di sana.
Alano menarik nafas panjang sebelum berbicara pada Barbara.
"Sikapmu tadi siang, sungguh membuat aku jengkel Barbara. Kau sama sekali tidak menghargai aku sebagai atasan mu di kantor, dan juga Paloma sebagai istriku. Aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku sangat mencintai Paloma, tidak ada yang bisa menggantikan posisi dirinya di hatiku sampai kapanpun. Kau harusnya bersyukur karena istri ku masih mau menerima dirimu disini, dan juga mau bersikap baik padamu Barbara."
"Aku membawa mu ke Italia hanya karena aku merasa bersalah dan kasihan padamu, bukan karena hal yang lainnya. Aku ingin menebus perasaan bersalah ku dengan memastikan kau hidup dengan layak disini tanpa kekurangan apapun, dan tidak disakiti oleh siapa pun lagi. Jadi, tolong jangan salah paham dengan semua sikap baik ku padamu Barbara."
"Tidak bisakah kau menerima ku disisi mu Alano? Aku rela menjadi yang kedua, sebagai simpanan mu aku pun tidak masalah. Aku hanya ingin kau selalu berada di sampingku Alano. Aku... aku benar-benar mencintai dan membutuhkan dirimu."
Dave yang mendengar ucapan Barbara geram, dasar wanita tidak tahu malu! Apa dia tidak punya harga diri hingga harus mengemis-ngemis cinta begitu pada bos besar?.
Hati pria tampan itu sedikit panas tidak menyangka Barbara akan berkata seperti itu pada Alano Lodovico.
"Dengarkan aku Barbara, aku hanya menganggap mu sebagai adik ku! Berhentilah berharap untuk mendapatkan cinta ku Barbara. Mulai lah hidup baru dan lepaskan semua tentang kenangan masa kecil kita. Aku yakin suatu saat nanti, akan ada seseorang yang bisa mencintai dirimu setulus hatinya."
Barbara menangis tersedu, benarkah dia sudah tidak memiliki kesempatan sama sekali? Takdir sungguh kejam hingga membuat dirinya dan Alano tidak bisa bersatu.
"Jika kau masih mau aku menjaga mu, tetaplah disini bersama Dave. Tapi jika kau ingin memulai kehidupan yang baru, aku tidak bisa memaksa mu untuk tetap berada disini."
Barbara terdiam mendengar ucapan Alano, haruskah dia pergi atau tetap disini melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain? Tapi, kalaupun dia pergi Barbara tidak tahu akan pergi kemana.
Dia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, Barbara takut jika nantinya dia akan bertemu dengan ayah tirinya seperti tempo hari.
"Maafkan aku Alano. Aku... aku akan berusaha menerima semuanya dengan lapang dada. Aku akan tetap berada disini."
Dave tersenyum tipis mendengar ucapan Barbara, entah kenapa dia merasa senang karena wanita pengganggu itu akan tetap berada disini dan tidak memutuskan untuk pergi.
"Baiklah kalau itu keputusan mu. Mulai sekarang, Dave yang akan selalu menjaga dan berada di sisimu."
"What?."
Dave dan Barbara kompak bersuara dan menatap Alano dengan pandangan yang bertanya-tanya.
"Lihatlah, kalian sungguh kompak! Aku rasa kalian akan menjadi pasangan yang cocok nantinya. Apalagi kalian sudah tinggal bersama selama sepekan. Aku rasa sebentar lagi, akan ada perasaan yang berbunga-bunga diantara kalian berdua."
Alano memang berencana ingin menjodohkan tangan kanannya dengan kekasih masa kecilnya itu. Makanya sejak awal Alano memberi perintah pada Dave untuk turun tangan langsung menjaga Barbara, dengan tinggal bersama dalam satu atap.
Alano berharap, kedua orang itu bisa dekat dan bisa menjalin hubungan kedepannya. Dia ingin agar kedua orang yang berpengaruh penting dalam hidupnya itu, bisa hidup dengan bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Udah mau masuk season final chapter yaa guys 😁
Terus dukung karya Author 🤗
Like and Vote 🌹**