
Sekitar lima belas menit yang lalu mereka sudah tiba di depan pintu anak cabang perusahaan Lodovico,Corp di Kota Napoli.
Alano yang begitu tiba langsung terbangun dari tidurnya, menatap Paloma yang masih tertidur pulas di pundaknya. Dia tidak tega mengganggu Paloma dan meminta Dave untuk menunggu mereka di luar mobil sampai Paloma bangun.
Para karyawan dan Direktur anak cabang perusahaan yang melihat Dave sudah keluar dari mobil sejak tadi tampak bingung Alano Lodovico CEO mereka tidak juga keluar dari dalam mobil, namun tak ada yang berani bertanya kepada Dave asisten pribadinya.
sepuluh menit menit kemudian Paloma pun akhirnya bangun dari tidurnya, dia begitu terkejut mendapati kepalanya bersandar di bahu Alano. Aroma maskulin langsung tercium di indera penciuman Paloma.
"Maaf, sepertinya aku ketiduran." Paloma segera menjauh dari Alano dengan wajah memerah menahan malu.
"Lain kali aku akan menghukum mu jika nanti kau berani tidur di pundakku lagi!" Alano menatap tajam Paloma yang duduk disampingnya.
Dia ingin mengerjai Paloma seperti yang Paloma lakukan padanya tadi pagi.
"Maaf, aku tidak tahu kalau aku ketiduran di pundakmu Alano. Aku pikir aku tidur dibantal tadi, habisnya nyaman sih."
Paloma balik mengerjai Alano dengan perkataannya dan membuat Alano salah tingkah, diapun buru-buru keluar dari dalam mobil.
Paloma tersenyum menahan tawa, ternyata gampang juga membuat pria dingin itu salah tingkah pikir Paloma.
Paloma ikut turun dari mobil mengikuti Alano dan Dave yang masuk kedalam gedung perusahaan anak cabang Lodovico, Corp.
Semua orang yang melihat Paloma berjalan disamping Alano menatapnya dengan heran, karyawan yang ada disekitar situ mulai berbisik dan bergosip, mereka berpikir mungkin Paloma hanya salah satu anak buah CEO mereka dilihat dari cara ia berpakaian.
Memang tak ada yang tahu kalau Alano sudah menikah, hanya beberapa rekan bisnisnya saja yang tahu bahkan direktur cabang perusahaan inipun tidak mengetahuinya.
Mereka masuk kedalam ruang direktur untuk membicarakan Laporan keuangan tentang pengeluaran bulan lalu yang membengkak. Di dalam ruangan itu tampak seorang perempuan berpakaian seksi sedang menunggu mereka.
"Perkenalkan tuan Alano, ini putri pertama saya Vania, dia yang akan menggantikan saya bulan depan."
Vania berdiri dari duduknya dan berdiri menghampiri Alano, ia mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Alano.
Sekilas ia melirik Paloma yang berdiri disamping Alano namun dia tidak mau menegurnya, ia berpikir kalau Paloma bukanlah orang penting yang harus ia sapa.
Pada saat rapat berlangsung, Vania terlihat mencuri-curi pandang pada Alano dan menebar pesona, namun bukan Alano namanya kalau ia selalu bersikap cuek dan dingin.
Paloma memutar bola mata malas melihat kelakuan Vania, dasar wanita genit ganjen kegatelan apa dia pikir Alano akan tertarik padanya? Ehh tapi bagaimana jika memang Alano tertarik padanya? Ahh apa sih yang aku pikirkan itu bukan urusanmu Paloma.
Rapat pun berakhir pada jam pulang kantor, Vania bermaksud untuk mengajak Alano makan malam bersama namun Alano menolak dengan alasan kalau dia masih ada urusan penting di tempat lain.
Paloma yang mendengar penolakan Alano tersenyum mengejek menatap Vania, ada rasa lega dihatinya karena Alano tidak mengiyakan ajakan makan malam Vania.
Merekapun keluar dari perusahaan itu menuju ke sebuah hotel untuk beristirahat, mereka akan menginap di sana dan pulang besok pagi.
"Mulai kedepannya jika kau ikut denganku berpakaianlah yang rapi dan jangan seperti preman begini!"
Paloma menatap heran Alano, sudah satu hari mereka bersama dan ia baru berkata seperti itu sekarang? Hah ... Paloma menarik nafasnya tidak mengerti dengan jalan pikiran Alano.
"Baik Bos besar."
.
.
.
.
.
.
.
**Like and Vote guys 🌹