
Setelah pernyataan cinta yang sama sekali tidak romantis versi Paloma, dia melihat sekeliling mencari keberadaan Angelina Hall Ibu mertuanya.
"Alano, dimana Momy? Apa Momy tidak mengunjungi ku disini?."
Alano yang tengah mengupas buah apel terhenti, tak sengaja dia mengiris jari telunjuknya sendiri hingga darah mengalir dari luka tersebut.
"Oh astaga Alano kau berdarah. Sudahlah berhenti mengupas apel itu, aku sudah bilang kalau aku tidak ingin makan apel sekarang!."
Paloma menarik tangan Alano yang terluka dan sontak menghisap darah di jari tangannya. Alano tersentak melihat perlakuan Paloma padanya, wajah tampan itu pun merona hingga menjalar ke telinganya.
"Sudah, darahnya sudah berhenti sekarang."
Paloma tersenyum mania menatap Alano.
Deg.. jantung Alano terasa berhenti melihat senyum indah itu, dia lalu mencium bibir ranum Paloma dan ********** dengan rakus hingga Paloma kesulitan bernafas.
Paloma mendorong tubuh kekar Alano, "Apa yang kau lakukan Alano! Kau ingin membunuhku!."
Paloma mencoba mengatur nafasnya dengan menarik nafas panjang. Alano panik melihat Paloma yang kesulitan bernafas akibat ulahnya yang mencium Paloma saking gemas dan bahagianya dia atas perhatian kecil yang diberikan Paloma padanya.
"Maaf sayang, aku tidak sadar sudah mencium mu seperti itu. Aku hanya terlalu bahagia dan tidak bisa menutupinya."
Paloma menatap tajam Alano hingga akhirnya dia bisa bernafas dengan normal.
"Berhenti mencium ku secara tiba-tiba begitu Alano. Aku tidak terbiasa dan aku tidak suka! Kau hampir saja membunuh ku karena tidak bisa bernafas dengan baik!."
Alano tersenyum genit, "Aku tidak bisa berjanji sayang. Habisnya bibirmu itu sudah seperti candu untukku, aku selalu ingin mengh**isap dan ********** sayang."
"Dasar mesum!."
Paloma menghembuskan nafas kasar, sudahlah berdebat dengannya tidak akan pernah berakhir dengan baik. Lebih baik yang normal mengalah pada yang gila begitu pikir Paloma.
"Aku ingin bertemu Momy Alano, atau kalau tidak kita video call saja Alano. Aku kangen pada Momy."
Senyum di wajah Alano langsung pudar mendengar permintaan Paloma. Apa yang harus aku katakan padamu Paloma sayang kalau Momy sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya.
"Maafkan aku sayang, kita akan segera bertemu dengan Momy begitu kau sudah sehat. Sekarang aku ingin kau beristirahat dan jangan pikirkan apapun lagi. Kesehatan mu yang jauh lebih penting saat ini."
Paloma mengernyit mendengar ucapan Alano, kenapa perasaan ku jadi tidak enak begini? Apa Momy baik-baik saja sekarang? Hah.. semoga saja apa yang aku rasakan ini tidak berarti apa-apa.
"Tidurlah aku akan menemanimu disini."
Alano mengusap kepala Paloma dengan lembut, Paloma pun menutup matanya dan tertidur dengan penuh damai.
Alano kembali mencium sekilas bibir merah Paloma. Maaf sayang aku belum bisa memberitahu padamu tentang Momy, tunggulah hingga kau benar-benar sudah sehat sayang lalu kita akan pergi mengunjungi makam Momy bersama.
Alano menemani Paloma hingga dia tertidur pulas, dia masih tidak ingin meninggalkan Paloma sebelum memastikan keadaan Paloma sudah lebih baik.
Alano menyerahkan urusan kantor pada Kate sekretaris nya yang baru dengan bantuan Pablo sebagai wakil direktur sementara.
Alano memutuskan untuk kembali ke Kota Roma setelah Paloma sudah sembuh dan diijinkan pulang oleh dokter yang menanganinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 2 episode
Like Rate and Coment 🌹**