
Pagi ini Alano dan Paloma berangkat dari Bandara Internasional Fiumicino atau dalam bahasa Itali nya bernama Aeroporto Leonardo da Vinci, menggunakan jet pribadi miliknya.
Paloma begitu terpana melihat jet mewah milik suaminya itu. Di dalamnya terdapat satu buah kamar pribadi dan 4 tempat duduk di luar kamar, dengan TV 20 inc di dekat kursi sofa.
Dekorasi putih hitam terlihat mendominasi isi dalam ruangan jet pribadi itu, menambah kesan maskulin pemilik nya. Jet ini berbeda dengan jet yang membawa Paloma waktu itu dari Kota Napoli.
"Kita mau terbang kemana Al? Sejak tadi kau tidak menjawab pertanyaan ku!."
Paloma sedikit cemberut karena pria dingin itu tidak pernah mau membahas nya.
"Bersabar lah sayang, nanti juga kau akan mengetahui nya. Lebih baik kau beristirahat saja sayang, perjalanan kita akan sangat lama."
Paloma pun akhirnya memilih diam tidak ingin bertanya lagi pada Alano. Dia tahu kalau tidak akan mudah mengorek informasi dari ketua mafia itu.
Seorang pramugari mendekati kursi mereka dan mengatakan kalau pesawat akan lepas landas sebentar lagi.
Alano berdiri dan menaikan seatbelt pada Paloma lalu kembali ke tempat duduknya setelah memastikan seatbelt yang dipasang nya sudah terpasang dengan erat.
Alano akan membawa istri tercintanya kembali ke Negara kelahiran nya pagi ini. Dia sengaja tidak memberi tahu wanita cantik itu, sebagai surprise nantinya begitu mereka tiba disana.
Dave sang asisten dan tangan kanan Alano juga ikut terbang bersama mereka. Dia sengaja mengambil tempat duduk di paling ujung kursi, karena tidak mau matanya sakit melihat bos besar dan nona mudanya itu bermesraan.
Alano memang sedang membujuk Paloma yang sedikit merajuk karena tidak memberi tahu, kemana mereka akan pergi.
Begitu pilot mengatakan sudah bisa melepas seatbelt, Alano membawa Paloma ke sofa dan duduk sambil memeluknya. Dia tidak berhenti mencumbu bibir Paloma hingga membuat perempuan itu kesal sendiri, dan tertawa menghadapi tingkah jahil suaminya.
Suara-suara kecapan bibir dan desahan terdengar merusak indera pendengaran Dave, oh my... apa bos tidak bisa pergi ke kamar saja? Mengapa harus melakukan nya disini? Hah... telingaku benar-benar terganggu!.
Dave pun memutuskan untuk memakai headset untuk menghindari suara-suara yang terdengar aneh baginya.
Alano memang pandai membuat Paloma berdesah nikmat mengikuti sentuhan bibir, dan tangan nakalnya yang tidak pernah berhenti bermain-main di dalam bajunya.
Meski baru sekedar mengusap dan meremas dua gunung kembar Paloma, namun mampu membuat wanita itu terbuai dan melayang.
Seorang pramugari yang ingin membawa minuman untuk bos besarnya, terkejut melihat pemandangan mesum di depannya. Saking terkejutnya dia sampai menjatuhkan gelas yang berada di atas nampan yang dibawa nya.
Alano dan Paloma sontak menghentikan kegiatan panas itu. Alano yang merasa kesal karena kesenangan nya sudah di ganggu, menatap tajam pramugari itu yang tampak ketakutan sambil membersihkan pecahan gelas yang dijatuhkan nya.
Cih... dasar pengganggu! Alano mengomel dalam hati. Pramugari itu pun segera beranjak dari sana tidak ingin membuat kesalahan yang lebih fatal lagi, karena sudah berani mengganggu privasi bos besarnya. Meski sebenarnya pramugari itu tidak sepenuhnya bersalah.
"Al, aku ngantuk. Aku mau tidur saja di kamar."
"Baiklah sayang. Aku akan menyusul mu sebentar lagi."
Alano melepas pelukannya pada Paloma sambil mengatur kembali bajunya yang berantakan akibat ulah tangan nakal Alano.
Setelah Paloma masuk ke dalam kamar jet pribadi miliknya, Alano menghampiri Dave sang asisten yang tampak asyik mendengarkan musik dari headset.
Alano melampiaskan kekesalan nya akibat di ganggu oleh pramugari tadi pada Dave tangan kanannya. Dia pun lalu memerintahkan Dave untuk memecat pramugari tersebut begitu mereka mendarat di Indonesia.
Alano tetaplah Alano, dia paling tidak suka dengan orang yang tidak becus dalam bekerja. Apalagi sampai mengganggu privasi nya sebagai bos besar.
Selama hampir 15 jam mengudara dengan jet pribadinya, Alano mengajak Paloma untuk kembali duduk di kursi mereka sebelumnya.
Terdengar suara pilot memberi tahukan kalau 30 menit lagi mereka akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta.
Paloma menutup mulutnya tidak percaya mendengar pemberitahuan pilot barusan.
"Kita ada di Indonesia sekarang Al? Apa itu benar?."
"Iya sayang. Aku sengaja tidak mengatakan nya padamu, karena ingin memberimu surprise sayangku."
Alano mengusap lembut tangan halus Paloma yang sejak tadi di genggam nya.
"Oh astaga.. aku senang sekali Alano. Aku tidak menyangka kau akan membawa ku pulang kemari. Terima kasih Al."
Paloma mencium sekilas bibir Alano yang sukses membuatnya merona karena terkejut mendapat ciuman tiba-tiba itu.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, aku pun senang jika melihat kau bahagia. Lagipula sudah saatnya aku bertemu dengan kedua mertua ku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 2 episode lagi yaa guys 🤗
Like and Vote 🌹**