
Sesuai dengan janjinya pada Austin, hari ini Hana pergi ke rumah sakit untuk menemani pria tampan itu terapi.
Austin sudah mulai bisa berjalan meski baru beberapa langkah, namun dia sudah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan.
Austin sangat bersemangat menjalani terapinya setiap hari, karena Hana selalu berada di sampingnya dan memberi semangat pada kakak sepupu Paloma sahabatnya.
"Kau sangat hebat Ka. Aku yakin kau akan segera sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa, jika kau selalu bersemangat setiap kali ikut terapi."
"Terima kasih Han. Ini semua juga berkat mu karena selalu setia menemani diriku terapi di rumah sakit. Makasih ya."
Austin mengacak rambut Hana yang membuat wanita cantik itu cemberut, karena rambutnya menjadi berantakan.
"Jangan di bongkar dong Ka rambutku. Nanti nggak cantik lagi tau!."
"Hahaha... kau benar-benar menggemaskan saat cemberut seperti itu Hana."
Austin tertawa senang melihat Hana yang semakin mengerucutkan bibir merahnya, karena kesal dengan pria itu yang malah menggoda nya.
Mereka memang sedang beristirahat sebentar sembari menunggu kelas terapi selanjutnya dimulai. Hana duduk di samping kursi roda dimana Austin berada. Mereka tertawa lepas bercanda layaknya anak kecil yang tengah bermain bersama.
"Han, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Austin menatap manik mata hitam Hana dengan lekat, wajahnya berbuah menjadi serius.
"Mau tanya apa sih Ka, nggak perlu serius begitu kali."
Hana tertawa mengejek melihat pria tampan yang selalu berhasil membuatnya tertawa senang dan bahagia, menjadi dirinya sendiri.
"Aku... bisakah kau memberiku kesempatan untuk merebut hatimu? Kau pasti tahu kalau aku sudah lama mencintaimu Hana."
"Whatt?."
Hana sedikit terkejut mendengar ucapan Austin yang menurutnya sangat tiba-tiba itu. Dia memang bukan wanita bodoh yang tidak tahu kalau selama ini, perhatian yang sering diberikan Austin padanya bukanlah perhatian seperti yang dia berikan pada Paloma adik sepupunya.
Tapi saat mendengar ucapan Austin yang tiba-tiba mengakui perasaannya seperti tadi, membuat Hana sedikit merasa syok sekaligus bahagia.
Tunggu, bahagia? haruskah dia merasa bahagia? Bahkan saat mendengar pernyataan cinta Ali padanya tempo hari, tidak membuat dirinya merasa sebahagia ini.
Ada apa sebenarnya dengan hatinya, Hana juga bingung kenapa dia harus merasakan perasaan asing yang membuat putri Ketua MPR RI itu berbunga-bunga.
"Ada apa Han, kenapa kau diam? Apa aku memang tidak bisa mendapatkan kesempatan itu walau sedikit saja?."
"Ka Austin, aku....."
Suara berat terdengar memanggil nama Hana dan berjalan mendekati mereka berdua.
Ali duduk di kursi samping Hana dan merangkul mesra pundak wanita cantik itu, yang tampak salah tingkah melihat kedatangan Ali di saat yang tidak tepat.
"Aku membawakan mu makan siang sayang. Kau pasti belum makan kan karena sibuk menemani pria manja ini."
Ali menatap remeh Austin, dia memang cukup dekat dengan Austin hingga tidak malu untuk menggoda sepupu tirinya itu.
Beruntung Ali tidak sempat mendengar pembicaraan mereka berdua tadi, kalau tidak pasti rasa canggung akan terasa diantara kedua sepupu tiri itu.
"Cih... Aku bukan pria manja! Sejak kapan kau memanggil Hana dengan panggilan aneh itu!."
"Hahaha... nggak perlu marah-marah begitu kali. Aku memang belum sempat mengatakan nya padamu, kalau sekarang aku dan Hana sudah jadian. Dan setelah pesta pernikahan adik ku selesai, aku akan segera melamar Hana untuk menjadi istriku."
Duaaarrrr....
Bagai tersambar petir hati Austin terasa sakit dan teriris mendengar ucapan Ali.
Mereka sudah jadian sekarang? Pantas saja Hana tidak menjawab pertanyaan ku, ternyata dia sudah mendapatkan lelaki yang selama ini dia puja. Ali bergumam dalam hati menahan rasa sesak di dadanya.
Hana langsung merasa tidak enak saat melihat wajah tampan Austin berbuah menjadi senduh.
Ali memang tidak pernah tahu kalau selama ini, Austin diam-diam memendam perasaan nya pada sahabat Paloma itu.
"Kalau begitu kalian makanlah dulu, aku akan melanjutkan terapi ku. Selamat ya."
"Eh Ka, biar aku antar ya."
"Tidak perlu Han, aku sudah bisa mendorong sendiri kursi rodaku. Duduk saja dan makan, makan siang mu!."
Austin segera beranjak pergi dari sana, meski masih merasa kesulitan mendorong kursi rodanya tapi dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Dan melihat kemesraan merek berdua.
Hatinya benar-benar sakit, mungkin ini yang namanya cinta tak kesampaian. Mata Austin memerah, dia berusaha menahan dirinya agar tidak menangis.
Oh God malang sekali nasibku ini. Jika tahu begini, lebih baik aku tidak pernah bangun dari koma ku saja. Austin menyesali keadaan nya yang tidak akan pernah bisa mendapatkan Hana, wanita pujaannya.
"Kenapa dengan Austin? Apa kalian lagi bertengkar sayang?."
Ali menatap kepergian Austin dengan terheran-heran, tidak biasanya sepupu tirinya itu terlihat marah dan kesal seperti tadi.
"Tidak Ka, mungkin Ka Austin lagi ingin sendiri. Sudahlah lebih baik kita makan, Ka Ali juga belum makan kan?."
"Baiklah sayang."
Hana dan Ali pun pergi menuju kantin rumah sakit. Hana merasa tidak tenang karena belum sempat menjelaskan kepada Austin tentang perasaanya sendiri.
Tapi Hana juga merasa ragu dengan perasaan nya pada Austin. Apa dia hanya menganggap pria itu seperti kakaknya, atau ada perasaan lebih dari sekedar itu untuk Austin.
.
.
.
.
.
.
.
.
** Like and Vote 🌹