
Setelah ciuman panas yang hampir berlanjut ke adegan ranjang, Paloma memutuskan untuk tidur di ruangan pribadi itu. Sedangkan Alano sudah keluar dari sana untuk menenangkan adik kecilnya yang sempat On Top karena kegiatan panas mereka tadi.
Paloma terbangun dari tidur siang nya setelah hampir dua jam beristirahat di ruangan pribadi suaminya.
Ah.. nyenyak sekali tidur ku siang ini, Paloma tersenyum bahagia mendapati dirinya tertidur disana tanpa ada gangguan sedikit pun. Paloma sempat merasa khawatir jika Alano akan masuk ke dalam ruangan itu, dan meneruskan aktifitas mereka yang sempat tertunda.
Paloma bersyukur ternyata Alano masih memegang janjinya untuk tidak menyentuh dirinya sampai dia benar-benar siap.
Ceklek..
Paloma membuka pintu ruang pribadi Alano di kantornya setelah memastikan dirinya sudah rapi.
Manik mata hitam itu membola menatap seorang wanita cantik berpakaian seksi dan terbuka, sedang duduk manis di sofa ruangan CEO Lodovico, Corp. Wanita itu juga sedikit melihat Paloma yang keluar dari ruang pribadi Alano. Dia tampak menatap Paloma dari atas ke bawah.
"Kau... sedang apa kau disini?."
Paloma membuka suara memecah keheningan dan rasa canggung diantara mereka.
Wanita itu tersenyum mengejek, "Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu! Sedang apa kau di ruangan pribadi calon suami ku. Apa kau tidur dengannya?."
What the hell, calon suami dia bilang? Apa wanita genit ini tidak salah bicara! Hah.. ternyata ada satu orang perempuan halu lagi yang ingin coba-coba mendekati suamiku. Lihat saja Vania, aku akan membuat mu menyesal karena sudah berani menggangguku!.
Paloma duduk di samping kursi Vania dengan gaya angkuhnya. Ya.. Vania adalah direktur di salah satu anak cabang perusahaan Lodovico, Corp yang waktu itu sempat bertemu dengan Paloma.
"Apa kau yakin Alano adalah calon suami mu nona Vania? Kami bahkan sudah tidur bersama beberapa kali."
Paloma sengaja memancing kemarahan Vania dan terbukti membuat wanita seksi itu memerah menahan emosi.
"Hahaha... kau jangan terlalu senang Paloma. Kau hanyalah sekretaris pribadi Alano, wajar jika pria sepertinya tidur dengan perempuan mana saja yang dia mau. Kau tidak lebih dari seorang j*alang yang hanya menghangatkan ranjangnya saja!."
Paloma tertawa sarkas menanggapi perkataan Vania barusan, dia semakin yakin kalau perempuan gila ini akan makin menjadi jika dia mengatakan kalau mereka sudah menikah sekarang.
"Terserah apa katamu Vania, tapi setidaknya aku lebih beruntung darimu karena Alano mau tidur dengan ku. Sedangkan kau, Alano bahkan tidak pernah melirik mu sedikit pun!."
"Dasar kurang ngajar!."
Vania yang sudah berdiri dari tempat duduk nya ingin menampar Paloma, terhenti saat mendengar pintu dibuka.
Alano dan tangan kanannya Dave masuk ke dalam ruangan itu. Mereka sedikit terkejut melihat Vania dan Paloma yang tampak bersitegang.
Vania lalu memulai mode akting nya dan mendekati Alano. Dia bahkan dengan berani memegang tangan kekar Alano hingga membuat Paloma sedikit meradang.
"Alano, lihatlah sekretaris mu itu dia sungguh tidak sopan padaku. Dia ingin mengusirku dari sini, katanya dia tidak ingin aku mengganggu mu karena kau hanya miliknya. Memang nya siapa dia berani berkata seperti itu padaku!."
Paloma memutar bola matanya malas mendengar rengekan wanita genit itu. Oh astaga ingin sekali aku menyumpal bibir jelekmu itu nona!.
Alano melepaskan tangan Vania dari lengan nya, dia kesal karena Paloma terlihat biasa-biasa saja saat Vania berada di dekatnya.
"Aku meminta mu untuk menunggu, kenapa kamu malah menunggu disini? Dan ingat apa statusmu, panggil aku bos!."
Alano menatap tajam Vania yang langsung ciut mendengar ucapan Alano bos besarnya.
"Hahaha.."
Paloma tertawa puas melihat drama lucu di depannya, dia bahkan mengeluarkan airmata karena terlalu banyak tertawa.
"Dasar j*alang! Berani-beraninya kau menertawai ku!."
Vania yang merasa tersinggung dengan sikap Paloma, berjalan mendekatinya dan bersiap menampar Paloma.
Dave sang asisten pribadi Alano dengan sigap menerobos diantara dua wanita itu untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Plak..
Tangan Vania berhasil mendarat di pipi Dave yang sontak membuat Paloma membelalak karena terkejut.
Dave memaki perempuan genit itu karena, tamparan Vania sedikit membuat pipinya perih.
Alano yang marah mendengar istrinya dihina oleh Vania, menarik tubuh Vania dan balas menampar nya hingga wanita seksi itu terjatuh ke lantai. Alano mencengkram kuat rahang Vania, mata cokelatnya berkilat memancarkan aura kejam.
"Sekali lagi aku mendengar mulut mu berkata kotor padanya, aku pastikan kau akan kehilangan bibir busuk mu itu!."
Dave segera menarik tubuh Vania yang bergetar takut dari lantai, dan membawanya keluar dari sana sebelum Alano melakukan hal yang lebih menakutkan lagi.
Paloma sedikit takut melihat suaminya bersikap seperti itu pada Vania. Baru sekarang Paloma melihat sisi lain dari seorang Alano Lodovico.
"Al.."
Paloma mencoba memanggil Alano yang masih terlihat marah.
Alano tersentak mendengar suara Paloma, dia langsung mendekat ke arah istrinya dan menarik tubuh Paloma kedalam dekapan hangat tubuhnya.
"Maaf sayang. Tidak seharusnya kau melihat dan mendengar kejadian tadi. Maaf jika aku sedikit kelepasan emosi."
"Tidak Al. Aku hanya sedikit takut melihat kau seperti bukan Alano yang aku kenal."
Alano terenyuh mendengar ucapan Paloma, dia tahu kalau wanita itu pasti takut sisi lain yang ada dari dalam dirinya. Sebagai ketua mafia Fire Red Alano memang terkenal kejam jika ada yang berani menentang nya.
Dalam hati dia berjanji untuk tidak akan memperlihatkan lagi pada Paloma sisi kejam dan pembunuh yang ada dalam dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Akan ada up setiap harinya
Jangan lupa Like and Coment 🌹**