The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 98



Beraktinglah seperti dulu, Saphira.


"Ehm, kau sudah sadar, Eliza?" tanyaku tersenyum paksa.


"Ya, aku sudah sadar dan merasa lebih baik. Terima kasih karena telah menolongku, Cath," jawab Eliza tersenyum.


Sialan, lagi lagi senyuman yang tampak seperti sedang menusuk jiwa amarahku, ingin sekali kurobek wajahnya hingga hancur!


"Sama sama, kalau begitu aku pulang bersama Kakakku dulu, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di Istana," kataku tersenyum dan pamit kepada Eliza.


"Setidaknya dengan kebohonganku yang ini, aku pasti bebas dari rantai buatan Eliza!" gumamku dalam hati.


"Baiklah, sampai bertemu lain hari," jawab Eliza biasa saja.


Akhirnya aku bisa pergi juga, seharusnya jangan pernah ada yang namanya Eliza di dunia ini!


.


.


.


Beberapa saat kemudian ….


Hah~


Aku, kedua Kakakku, dan Serlia sudah sampai di Istana Arshleyer.


Sebaiknya aku ke kamar dulu.


*Melangkah*


"Berhenti, apa kau ingat apa yang kau katakan untuk dapat pergi dari Eliza tadi?" tanya Kak Carl menahanku.


Tunggu, apakah aku lupa menarik kata kataku? Gawat, aku tidak bisa beristirahat lagi kali ini.


"Ehm, maaf, apa yang kukatakan tadi?" tanyaku pura pura tidak tahu.


"Kau akan membantuku dan William, bukan? Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu beristirahat di kamarmu," jawab Kak Carl.


Huh, seharusnya kutarik kata kataku yang tadi, tapi sudah terlambat untuk menariknya.


"Baiklah, bawa aku ke ruangan Kak William dulu," kataku kesal.


"Dengan senang hati," jawab Serlia menarik tanganku dan pergi.


...


Kini, aku sudah berada di ruang pribadi Kak William dan mengerjakan berkas berkas sampah yang ada di mejanya.


Kalau saja aku mencari kata lain untuk masalah kecilku, maka aku tidak akan di suruh bekerja begini.


Ah! Ingin kubuang berkas berkas tidak berguna ini ke dalam sungai, rasanya aku sudah menyerah mengerjakannya.


Hmm, tapi apa yang di selesaikan Kak William hingga sebanyak ini? Aku baru tahu kalau berkas ini berisikan tentang masalah keuangan antar Kerajaan.


Dan Kerajaan Arshleyer bekerja sama dengan Kerajaan Gorthvius yang berada di Negeri Tristhopia.


Apakah masalah pekerjaan ini menyangkut dengan ekonomi rakyat?


Sudahlah, sebaiknya kukerjakan saja berkas sampahnya!


"Melelahkan sekali, aku hampir mati ketika ingin mengerjakannya," kataku menulis di berkas yang ada.


Tok!


Tok!


Tok!


Siapa yang mengetuk pintu? Menggangguku saja.


"Masuklah," jawabku singkat.


Ceklek~


Kak Carl? Memangnya kenapa mereka menemuiku?


"Apakah berkasnya sudah selesai? Aku ingin menyuruh Jesper mengirimnya ke Kerajaan Gorthvius," kata Kak Carl menatapku.


Jesper, dia adalah tangan kanan Kak Carl secara pribadi, jadi apapun yang Kakak perintahkan pasti akan di turutinya.


Yah, meskipun akhir akhir ini Jesper memang jarang bersama Kak Carl karena fokus pada pekerjaannya yang di perintah oleh Kak Carl, tapi ada saatnya dia akan ikut dengan Kak Carl.


Mungkin saat Kakak pergi bersama Veronica, Jesper lah yang menggantikannya.


Sedangkan Kak William? Dia juga memiliki tangan kanan kepercayaannya, yaitu Gerhald.


Sedangkan aku? Kenapa aku hanya memiliki Pelayan pribadi saja?


Selesaikan pekerjaan dulu! Jangan banyak bicara, Saphira!


Oh, aku baru ingat ada beberapa berkas yang sudah selesai kutulis.


"Ada beberapa yang sudah kuselesaikan, sisanya tinggal menandatangani surat yang ada di sini," jawabku serius.


*Mengambil*


"Baiklah, kalau begitu, selesaikanlah dulu, baru boleh beristirahat kembali," kata Kak Carl membawa tumpukan berkas itu dan pergi.


Ceklek~


Akhirnya aku aman, sebaiknya aku selesaikan dulu pekerjaanku, baru bisa beristirahat di kamar lagi.


Mari kulihat, hasil pertambangan Kerajaan Arshleyer tampaknya berjalan lancar, dan banyak sekali yang ingin menawarkan kerja sama dengan Kerajaan ini.


Tidak, aku tidak tahu harus menolaknya atau menerimanya, karena ini bukanlah tugasku.


Bugh~


Kubaringkan kepalaku di meja kerja karena merasa lelah~


Apakah pekerjaan sang Raja Kerajaan seberat ini? Sulit ketika aku mengerjakannya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuklah," jawabku singkat.


Kubangun kembali dan menyelesaikan berkas berkas sampah ini lagi.


Ceklek~


"Catherine, apakah pekerjaanmu sudah selesai? Saatnya kita minum teh," kata orang itu yang tak lain adalah Serlia.


"Huh, aku belum menyelesaikannya sama sekali, berkasnya sangat banyak!" jawabku seakan sudah menyerah.


*Mendekat*


"Urusan tanda tangan? Itu sangat mudah. Kalau ada yang mengajakmu bekerja sama, kau tidak perlu menandatanganinya," kata Serlia memberitahuku.


Hmm? Tidak perlu tanda tangan? Apa maksudmu? Apakah kau tahu cara mengerjakannya?


"Tunggu? Apa kau tahu caranya?" tanyaku memastikan.


"Tenanglah, di umurku yang menginjak 14 tahun, aku pernah bekerja untuk Ayah angkatku hingga usiaku menginjak 18 tahun"


"Karena aku bekerja sebagai Penyihir pribadimu, maka tugasmu adalah tugasku juga," jawab Serlia percaya diri.


Untunglah aku tidak salah memilih Penyihir, kalau tidak maka tugasku yang menumpuk ini tidak akan selesai.


"Baiklah, terima kasih telah membantuku," kataku berterima kasih kepada Serlia.


"Sama sama," jawab Serlia singkat.


...


Setelah selesai mengerjakan semua berkasnya ….


Aku dan Serlia sedang berada di halaman belakang Istana sambil menikmati teh.


Biasanya aku minum teh Mawar untuk menyejukkan suasana, tapi kali ini aku minum teh Melati untuk mencerahkan pikiranku.


Hah~


Belum pernah aku merasakan udara segar ini meskipun masih berada pada musim dingin.


Oh, aku ingat kalau Serlia yang mengajakku minum teh.


"Serlia, memangnya kenapa kau mengajakku minum teh?" tanyaku serius sambil memegang ganggang cangkirku.


"Aku mau membicarakan sesuatu denganmu, ini menyangkut dengan sifat aneh Eliza," jawab Serlia mengangkat ganggang cangkirnya.


Menyangkut dengan sifat Eliza? Memangnya ada apa lagi dengan si ular itu?


"Memangnya kau merasakan ada hal aneh yang menyelimuti dirinya?" tanyaku mengerutkan alis.


"Yah, sepertinya sandiwara Eliza masih di lanjutkan sampai sekarang. Dari sifatnya yang dulu kasar berubah menjadi lembut, apakah kau tidak merasa aneh?" tanya Serlia menatapku dengan penuh keseriusan.


"Kau benar, aku masih melanjutkan sandiwaraku di depannya sedangkan dia tidak menunjukkan ekspresi apapun"


"Kemarin, aku sempat percaya kalau dia kembali berubah seperti yang baru, tapi itu hanya sebentar bagi pikiranku"


"Setelah aku mengetahui adanya racun di dalam cangkirku, itulah yang membuatku tidak percaya akan perubahannya dan kembali menganggapnya bersandiwara"


"Menurutmu, apakah penjelasanku cukup masuk akal?" jelasku panjang lebar.


"Waktu itu, kau sudah menceritakannya padaku. Menurutku, aku akan percaya dengan kata hatiku, kalau Eliza tidak berubah sama sekali," kata Serlia biasa saja dan meminum tehnya.


Rumit jika masalah sudah menyangkut pada Eliza, aku tidak mampu membahasnya lagi.


*Meminum teh*


Aku suka rasa tehnya, harum dan manis.


"Catherine, bagaimana hubunganmu dengan Samson? Apakah kau masih berpikiran tentangnya?" tanya Serlia sengaja.


Pfft!


Tak sengaja kusemburkan tehku ke tempat lain karena mendengar apa yang di katakan oleh Serlia.


"Ehm, soal itu, aku masih sedikit memikirkannya," jawabku tersenyum aneh.


Soal Samson, entah mengapa semuanya bisa terbawa mimpi begitu saja.


.


.


.


[Bersambung]


~Pertanyaan:


Dari tokoh antagonis yang Author buat, kira kira siapa yang kalian benci antara:




Eliza Carlina Sean Srylpharuna.




Anna Flora Griseliyd.




Michelle Alexandra Den Gabriela.




Di jawab ya, Author tunggu jawabannya.