
"Karena apa hubungan Kak William dan Kak Carl tidak terlalu baik? Apa karena mereka memperebutkanku?" tanyaku pada diriku sendiri.
Membahas tentang hubungan persaudaraan antara Kak William dan Kak Carl membuat wajahku blushing.
"Ih! Jelas jelas mereka berdua sangat menyayangiku. Kumohon, jangan banyak berpikir," batinku dengan wajah blushingku.
Malam itu, kejadian 2 tahun lalu ….
•Flasback•
Aku, Ayah, Ibu, Kak Carl, dan Eliza sedang berada di ruang tamu menunggu kepulangan Kak William.
Yah, kami sangat menantikannya, terkecuali Eliza yang tampak kesal karena aku.
Kenapa harus aku? Eliza, Eliza, kenapa semua kekesalanmu itu kau lemparkan padaku?
"Ada apa sih? Kenapa kau menatapku seperti itu? Aneh!," gumamku kesal melihat Eliza.
Tak lama kemudian, suara terompet berbunyi keras di malam hari.
Kami menyambut kepulangan Kak William ke Istana Arshleyer.
"Selamat datang, Pangeran William"
Para Pelayan menyambutnya secara bersamaan sambil menundukkan kepalanya.
Akhirnya, Kak William tiba juga di Istana. Aku merasa senang karena Kak William sangat perhatian padaku.
Tapi, perhatian dari Kak Carl lebih besar daripada Kak William, menurutku sih.
"Kakak? Kakak sudah pulang? Aku sangat merindukanmu," kataku berlari memeluk Kak William.
Kak William tampak bahagia melihatku yang berlari memeluknya dan membalas pelukanku juga.
"Hehe, Catherine, Kakak juga rindu padamu," jawab Kak William tersenyum.
Saat sedang senangnya bersama Kak William, suasana mulai hening. Dari jauh, Kak Carl memperhatikan kami berdua dengan tatapan yang begitu menyeramkan.
Jelas saja, Kak Carl memang sangat menyeramkan saat tatapan bola matanya memerah.
Aku jadi ketakutan untuk menatapnya kembali, seluruh tubuhku gemetaran.
"Aku ja …. jadi heran …. Kenapa Kak Carl selalu menatap orang orang dengan bola matanya yang memerah? Sumpah, aku jadi ketakutan karenamu," gumamku gemetaran.
"Hei, William, kita bertemu lagi," kata Kak Carl menatap Kak William dengan tidak suka.
"Yah, ada apa?," tanya Kak William dengan tatapan yang sama seperti Kak Carl menatapnya.
"Bisakah kau memberikan Catty padaku? Seharusnya, kau beristirahat dulu," jawab Kak Carl dengan nada kasar.
"Aku tidak butuh istirahat, jadi biarkan aku menemani Catherine sebentar," kata Kak William berdebat dengan Kak Carl.
Ehem, Hello, suasana seperti apa ini? Kenapa kalian malah menatap satu sama lain? Tatapan itu …. seperti bermusuhan.
Dasar Kakak Kakak yang aneh ….
"Will, bisakah kau melepaskan pelukanmu dari Catty?" tanya Kak Carl terus menatap Kak William.
"Tidak akan, aku ingin berlama lama bersama Catherine," jawab Kak William menolaknya.
"Pokoknya lepaskan"
"Tidak akan"
"Lepaskan"
"Tidak akan"
"Lepaskan"
"Tidak akan"
"Lepaskan"
"Tidak akan"
Hanya karena aku, mereka menjadi berdebat seperti ini. Di tambah lagi, tanganku yang di pegang oleh Kak Carl dan Kak William, mereka terus menarikku seperti tarik tambang.
Oh tidak, kepalaku menjadi pusing sekarang. Apakah mereka masih berdebat?
"Apa kau tidak dengar? Kubilang lepaskan Catty," kata Kak Carl masih saja berdebat dengan Kak William.
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!" jawab Kak William.
Ah! Aku sudah tidak tahan dengan kalian berdua, wahai Kakak Kakakku.
"Hentikan! Kak, kalian berdua membuat kepalaku jadi pusing~" kataku sambil memegang kepalaku.
Mereka berdua pun saling memandang satu sama lain, tapi dengan tatapan bermusuhan.
"Maafkan Kakak ya, Catherine, apa kau mau bersama Kakak?" tanya Kak William tersenyum padaku.
"Tidak boleh! Catty harus bersama denganku," jawab Kak Carl menatap Kak William.
Kalau kalian berdua bertengkar terus, aku harus memilih siapa? Kak William? Atau Kak Carl?
Sial, aku tidak tahu!
"Hentikan! Jangan berdebat terus!" teriakku menghentikan mereka berdua.
•Flashback off•
Begitulah ceritanya, aku sampai tidak bisa berkata kata.
Daripada di pikirkan terus, lebih baik aku berjalan jalan di kolam Bunga Mawar untuk menghilangkan rasa stressku.
Aku terus berjalan ke arah kolam itu dengan langkah kaki yang pelan.
Seluruh Bunga di kolam itu menjadi terangkat, sepertinya Bunga itu ingin menantikan keceriaanku.
Lalala♪
Dengan riang, aku juga melompat di tengah jembatan. Berjalan jalan mengelilingi kolam Bunga Mawar.
Tiba tiba, ada seseorang yang mendorongku dari belakang hingga aku jatuh dari kolam itu.
Byur!
"Akhirnya, ini yang kuinginkan," kata orang itu yang sengaja mendorongku.
Kali ini. aku tenggelam di dalam kolam Bunga Mawar dengan kedalaman 100 Meter.
Untung saja, aku bisa berenang untuk mencapai ke permukaan! Kalau tidak, maka aku akan mati di sini!
Kuterus berenang ke atas dan tak lama kemudian ….
Byur!
"Bwah! Kedalaman kolam yang hebat! Kolam ini sangatlah dalam seperti danau, sangat sulit untuk mencapai ke permukaan!" kataku baru sampai ke permukaan.
"Tapi, siapa yang mendorongku? Gila, jangan jangan ada yang ingin mengincarku!" lanjutku mengerutkan alis.
Sialan, sekarang aku sudah basah! Lebih baik, aku masuk ke dalam dulu untuk mengganti gaunku," kataku mengangkat gaunku dan segera masuk ke dalam Istana.
Saat aku berada di dalam, Para Pelayan terkejut melihatnya dan segera membawaku ke ruang ganti.
"Astaga, Tuan Putri, sebaiknya aku membawamu ke ruang ganti," kata Sarah langsung membawaku ke ruang ganti.
Sesampainya di ruang ganti, Sarah memakaikan gaun merah untukku.
"Tuan Putri, biarkan aku melayani anda," kata Sarah menundukkan kepalanya.
Aku hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa apa.
Pikiranku di penuhi dengan kejadian yang membuatku tenggelam tadi. Sebenarnya, siapa yang mendorongku?
Aduh, kalau sampai Kak Carl mengetahuinya, maka ia akan memarahi Sarah secara kasar.
Aku akan menyuruh Sarah untuk tutup mulut pada Kak Carl, bisa gawat kalau buka mulut.
"Sarah, bisakah kau merahasiakan ini dari Kak Carl kalau aku tenggelam di kolam?" bisikku menyuruh Sarah untuk tutup mulut.
Mendengar bisikanku, Sarah terkejut hingga hampir saja ia berteriak.
"A …. apa?! Tuan Putri tengge ….", jawab Sarah dengan suara yang besar.
Kututup mulutnya dengan cepat menggunakan tangan kananku begitu rapat.
Sarah, bisakah untuk tidak berteriak?! Aku takut Kak Carl akan mengetahuinya!
Sttt!
"Diam, Sarah! Tolong jangan berteriak tentangku!" bisikku sekali lagi.
Sarah pun mengangguk cepat dan segera pergi setelah aku melepaskan mulutnya.
Sungguh, ini begitu rumit. Aku hanya tidak ingin Kak Carl khawatir padaku.
Sekarang, Kak Carl sedang pergi berlatih memanah bersama Kak William tadi pagi, tapi mereka berdua lupa pamit denganku.
Kakak, aku tidak ingin kau terus khawatir padaku ….
Ngomong ngomong, entah mengapa pikiranku masih saja memikirkan soal di kolam tadi.
Aku terjatuh dari kolam karena di dorong, dan suara itu ….
"Akhirnya, ini yang kuinginkan"
Suara itu adalah suara gadis, persis seperti suara Eliza.
Apa mungkin, dia yang mendorongku hingga terjatuh tadi? Saphira, kau terlalu banyak berpikir!
Sebaiknya aku harus pergi ke kamar dulu untuk beristirahat, nanti aku pikirkan lagi.
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Di episode ini, Author mau bagi bagi Visual nih untuk kalian, cek di bawah ya:
•Visual Carl:
•Visual William:
•Visual Alice:
•Visual Erfly:
•Visual Veronica:
•Visual Ruth:
Semoga suka, maaf ya kalo masih kurang.