
"Oh, ternyata kau punya sihir rahasia untuk melepaskan dirimu dari belenggu sihirku"
"Terlebih lagi, kau meninggalkanku sendirian hanya untuk masuk ke dalam kelas," jawabku kesal.
"Bagaimana tidak? Karena kau sedang bersama Samson, maka aku mengambil kesempatan untuk kabur," kata Serlia meledekku sambil memutar bola matanya.
Benar benar menjengkelkan! Aku menyerah kalau berdebat denganmu.
Sudahlah, lebih baik aku fokus saja pada pelajaran yang tidak berguna ini.
.
.
.
Beberapa menit kemudian ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel istirahat telah berbunyi. Seperti biasa, kami berdua ingin pergi ke kantin untuk bersantai.
Tapi, ini jauh lebih berbeda dari biasanya.
Kami tiba tiba saja ….
Woah!
Bruak!
Sakit sekali ….! Kami berdua terpeleset karena ada yang sengaja menumpahkan air panas sehingga membuat gaun hitam berkilauku jadi rusak!
Dasar, siapa lagi yang berani menggangguku di siang bolong begini?!
"Haha, terima saja akibatnya karena telah menjahiliku dengan serangga kemarin," kata Eliza tiba tiba saja muncul di hadapan kami.
Lagi lagi, si ular Eliza itu yang membuat kami terpeleset begini! Seperti yang kubilang tadi, gaun hitam berkilau yang kupakai ini sudah rusak dan kotor karena air panas milik Eliza!
"Selalu saja mencari masalah di mana mana, ada mimpi apa yang membuatmu datang untuk menggangguku lagi?" tanyaku sengaja menyindirnya.
"Bodoh sekali! Aku sangat tidak suka jika kau bahagia walaupun hanya sejari kelingking pun!"
"Jadi, aku datang untuk menghapus kebahagiaanmu," jawab Eliza tersenyum licik.
Maksudmu, kau mau merampas kebahagiaanku dengan cara melenyapkanku?
Mimpi di siang bolong, jala*g sepertimu tidak perlu merebut kebahagiaan yang tidak seharusnya kau dapatkan!
Entah ada angin buruk apa yang membuat suasana hati Serlia menjadi tidak baik sehingga dia berani menaburkan bubuk mesiu ke mata Eliza.
Aaaaaarrrrrrrgggghhhh!!!!
"Mataku pedas!!! Serlia, apa apaan kau ini?!" teriak Eliza kesakitan.
"Demi kebahagiaanmu, kau sampai rela menghancurkan Catherine? Mimpi sana!" jawab Serlia mendorong Eliza hingga kepalanya terbentur keras.
Bruak!
Kepala Eliza di aliri dengan darah segar, dirinya tidak sadar sama sekali.
Bagaimana ini?! Kau terlalu kejam, Serlia!
Tapi, untuk apa aku menolongnya? Biarkan saja dia di situ dengan kondisi separah ini. Lagipula, dia sama sekali tidak berterima kasih padaku setelah aku menolongnya.
"Ayo kita pergi, Serlia," kataku menarik tangan Serlia dan pergi ke kantin.
Aku tidak peduli, dengan membawa Serlia pergi maka semuanya akan aman.
Setelah sampai di kantin ….
Aku dan Serlia tetap duduk di tempat yang sama, yaitu meja nomor 2 dengan kursi sebanyak 5 buah.
Sekarang, pikiranku sudah lumayan tenang karena bersantai di kantin ini.
"Cath, tampaknya kau sangat senang hari ini," kata Serlia menatapku sambil tersenyum.
"Tentu saja, udara di kantin ini terasa sangat segar," jawabku sambil menikmati angin sepoi sepoi.
Angin sepoi sepoi? Tentu saja, karena jendels besar kantin sedang terbuka lebar hari ini.
Meskipun jendela ini hanya di buka sekali dalam setahun, tapi aku senang menikmati angin indah ini dari dalam.
Syuuh~
"Maaf karena hanya sibuk menikmati angin ini!" kataku dengan perasaan yang gembira.
"Dasar," jawab Serlia.
Hmm? Kak Carl duduk di kursi 3? Kenapa hanya sendirian? Bukankah biasanya dia bersama Veronica?
Apakah mereka berdua bertengkar? Atau jangan jangan Veronica sedang dalam bahaya?
Sulit sekali melihat keadaan Kak Carl yang begitu kesepian ini.
Kuhampiri saja.
"Kakak, kenapa kau duduk di sini sendirian? Apakah tidak ada yang menemanimu?" tanyaku penasaran.
"Ehm, Kakak sedang ingin menenangkan pikiran sebentar, jadi Kakak duduk di sini," jawabnya tersenyum.
Jadi untuk menenangkan pikiran? Aku kira kau sedang kesepian.
Kalau begitu, aku kembali lagi ke tempat meja 2.
Saat aku tengah berjalan, tiba tiba ….
"Tolong!!! Eliza tidak sadarkan diri!!!" teriak seseorang yang suaranya mirip dengan Michelle.
Tunggu, Michelle?! Dasar, bagaimana dia bisa menemukan Eliza yang sedang terluka parah itu?!
"Ayo kita pergi melihatnya," kataku menarik tangan Serlia dan pergi.
"H …. hei! Aku bahkan belum menghabiskan makanan manisku ini!" jawab Serlia marah padaku.
Lupakan saja makanan sisamu! Yang penting, kita urus Eliza b*j*ng*n dulu!
Kutarik terus Serlia yang terus memberontak ke tempat ruang kelas berada.
Setelah sampai, terlihat ada banyak orang yang datang melihat Eliza terluka.
Kenapa harus banyak orang?! Kita berdua bisa celaka!
"Kenapa ramai begini? Ada pertunjukkan apa?" tanya Serlia menggaruk kepalanya.
"Pertunjukkan kepalamu! Eliza sedang terluka karenamu dan sekarang banyak orang di sini untuk menolongnya!" jawabku panik.
"Karena Eliza? Aku tidak bisa bertanggung jawab!" kata Serlia dengan santai.
Baiklah kalau kau tidak mau, tapi tolong bawa Eliza ke ruang Penyihir dan beres!
Sebenarnya, kita berdua sama tidak mau menolongnya, tapi apa lagi kalau aku tidak mau jadi bahan psikopat di sekolah!
Sudahlah, aku lihat saja.
Baru selangkah aku jalan mendekati Eliza, tiba tiba Michelle keluar dari para kerumunan manusia dengan ekspresi yang tampak marah.
Yang lebih parah lagi ….
Plak!
Satu tamparan dari Michelle mendarat ke pipiku.
Apa yang orang ini pikirkan? Padahal aku tidak berbuat apa apa.
"Apakah kau yang membuat Eliza seperti ini?" tanya Michelle datar.
Yang melakukannya adalah Serlia, bukan aku!
"Tidak mungkin, aku tidak melakukannya," jawabku dengan percaya diri.
Plak!
Lagi lagi, satu tamparan lagi dari Michelle. Apa kau sudah gila?! Sebelum kau mengetahui pelakunya saja, kau sudah menamparku 2×!
"Jujur!" kata Michelle memaksaku.
"Sudah kubilang kalau aku tidak melakukannya!" jawabku marah besar.
Mulai lagi, tangan kanannya ingin sekali menamparku, tapi kini di hentikan oleh Serlia.
Di tambah lagi dengan tatapan mengerikannya, membuat Michelle bergidik takut hingga tersungkur ke lantai.
"Aku yang melakukannya, memangnya kenapa?" tanya Serlia memasang tatapan mengerikannya.
"Ti …. tidak …. mungkin! Bukankah Cath ….," jawab Michelle seketika ucapannya terhenti.
Plak!
Satu tamparan dari Serlia mendarat ke pipi Michelle. Rasakan itu, siapa suruh kau telah menamparku 2×!
"Jaga mulutmu kalau berbicara," kata Serlia datar.
Tanpa pikir panjang, Serlia pergi menghampiri Eliza dan berniat menyembuhkannya hanya menggunakan sihir.
Untuk yang kedua kalinya, kau bisa menyadari kesalahanmu juga.
"Healing Miracle," ucapnya.
Berlahan lahan, luka di kepala Eliza mulai hilang.
Dengan sadar, Eliza membuka matanya berlahan dan sudah dapat melihat sekeliling.
"Ini …., bukankah aku pingsan?" tanya Eliza pada dirinya sendiri di depan Serlia.
"Bodoh, seharusnya kau berterima kasih karena aku telah menyelamatkan nyawamu," jawab Serlia dengan kasar.
Jawabanmu terlalu kasar, tapi aku menyukainya.
"Begitu ya, kalau begitu terima kasih!" kata Eliza dengan kasar menendang kaki Serlia.
Hah?! Apa kau benar benar cari mati?! Hehe, Eliza, tunggu saja pembalasan dari Serlia!
"Menendangku? Itu artinya, nyawamu siap siap kulayangkan ke langit," jawab Serlia mengangkat dagu Eliza dengan tatapan yang begitu kejam.
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Hai semuanya, Author mau bagi bagi visual nih. Cek di bawah ya:
Visual Serlia:
Visual Alexander:
Visual Samson:
Visual Michelle:
Mungkin hanya itu, visual Raja Lordsorius dan Ratu Hera masih belakangan ya, Author selalu lupa soalnya.