The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 14



"Aku buka pintu kelas ini dengan tangan ringan, tapi yang kulihat adalah ruang hampa dan kosong. Saphira, hal menarik apa yang kau dapat hari ini?" kataku berbicara sendiri.


Tak lama kemudian, ada suara teriakan seorang gadis di telingaku.


Argh!


"Tolong! Jangan merebut koinku!"


Suara itu terdengar jelas di telingaku. Lebih baik aku pergi saja!


Aku keluar dari kelas dan melihat kalau ada seorang gadis berambut hitam yang koinnya di rebut oleh salah satu anggota Five Stupid Girls, yaitu Erfly.


"Berikan koinmu padaku atau keluargamu akan hancur!" kata Erfly merebut koin itu dari gadis polos yang cantik.


Kalau tidak salah, nama gadis itu adalah Ruth Anesteria Ve Courtines.


Ia adalah anak tunggal dari Raja Robbecto Ve Courtines dan Ratu Argelia Ve Courtines.


Ruth bukanlah Putri yang memiliki sifat berani ataupun takut, namun ia memiliki sifat dengan 2 kepribadian.


Kepribadiannya yang pertama adalah, ia bisa menjadi ceria saat dekat dengan orang yang paling ia kenal.


Kepribadian yang kedua adalah, ia terkenal dingin, bahkan bisa di bilang bahwa ia adalah kutu buku.


Tepat sekali, kebetulan aku juga akan membuat pertunjukkan bagus.


Kuberjalan ke arah Ruth yang sedang memperebutkan koin emas dan menyingkirkan tangan Erfly dari tangan Ruth.


Cih, tangan kotormu itu tidak pantas untuk menyentuhnya!


Plak!


"Maafkan aku jika aku kasar pada Kak Erfly. Sebenarnya, aku hanya berniat melindungi Ruth," kataku polos.


Seperti yang kalian tahu, aku tetap berakting saat berada dengan Para Five Stupid Girls itu.


"Melindunginya? Dengan cara apa kau bisa melindunginya? Bagaimana kalau dengan satu pukulan kerasku?!" tanya Erfly tersenyum licik.


Tangannya mulai bergerak untuk memukulku. Kau pikir aku ini apa hah? Seenaknya ingin memukulku dengan tangan kotormu itu!


"Akh! Jangan!" kataku menghalangi pukulannya dengan kedua tanganku.


Tiba tiba, entah ada cahaya kuning apa yang muncul di tanganku sehingga tubuh Erfly terangkat ke atas sepenuhnya.


Tunggu, tubuh Erfly terangkat? Jadi, ini adalah kekuatan dari cahaya kuningku?


Erfly yang melayang di atas udara meneriakiku untuk menurunkannya.


"Cath, turunkan aku! Aku sangat malu melayang terus di udara!" teriak Erfly menyuruhku untuk menurunkannya.


Menurunkanmu? Enak saja! Aku saja tidak tahu cara mengendalikan kekuatan misterius ini!


Mode Drama, aktifkan!


"Maaf, Kak, aku tidak bisa mengendalikan kekuatan ini," jawabku polos.


"Pikirkanlah caranya! Kau ini sepertinya tidak punya otak!" teriak Erfly yang tidak tahan terus melayang.


"Sungguh, aku tidak tahu caranya," jawabku sekali lagi.


Eliza langsung menampar wajahku dengan keras di depan umum sehingga membuat murid murid di sini melihatnya.


Plak!


"Apa kau tidak dengar apa yang di katakan oleh Erfly?" tanya Eliza yang habis menampar wajahku.


Sihir itu telah berhenti bekerja sehingga membuat Erfly terjatuh.


Sialan kau, Eliza! Setiap ada dirimu, rencanaku selalu saja gagal!


"Kenapa Kakak menamparku? Apa salahku?" tanyaku dengan mata berkaca kaca.


"Masih saja bertanya padaku! Apa kau sadar kalau kau sudah mencelakai Erfly?!" jawab Eliza kasar.


Tentu saja aku sadar, sangat sadar! Tapi, kekuatan yang kumiliki sekarang belum bisa aku kuasai.


Jadi, jangan salahkan diriku, cabe merah! Salahkan saja temanmu yang matre itu!


Aku harus berakting lagi.


"A …. a …. aku minta maaf …., Kak Eliza …., aku sungguh tidak …. sengaja ….," kataku menangis.


Ih, kenapa aku harus berakting menangis sih?! Ini kan tidak masuk akal!


Lagipula, kepribadianku sangatlah berbeda dengan Catherine.


Lalu, Eliza menarik rambutku sekeras mungkin hingga Veronica juga mengikutinya.


"Minta maaf saja yang kau bisa ternyata, tapi kalau soal kekuatanmu, semuanya hangus!" kata Eliza


"Benar sekali, kau bukanlah orang kuat seperti yang kupikirkan," kata Veronica.


Mereka berdua menarik rambutku sekuat mungkin.


Argh!


Berpura pura sakit saja, aku ini kan sedang berakting menjadi orang lemah.


"Sakit ….," lirihku menangis.


Karena pembullyan sudah berakhir, Eliza menyuruh Para Five Stupid Girls untuk pergi meninggalkanku.


Five Eleganity Princess?! Itu terdengar menjijikkan! Seharusnya nama yang cocok untuk kalian berlima adalah Five Stupid Girls.


Ah, bagaimana keadaan Ruth? Apakah ia baik baik saja?


"Ruth, bagaimana dengan dirimu?" tanyaku pada Ruth yang tadinya tersungkur ke lantai.


"A …. aku baik baik saja," jawab Ruth polos.


Baguslah kalau kau baik baik saja, aku lega mendengarnya.


Sebaiknya aku beritahu dulu namaku agar ia tidak curiga padaku.


"Ehm, namaku Catherine Alveria De Arshleyer, salam kenal Ruth," kataku memperkenalkan diriku pada Ruth.


Dengan gugup, ia juga memperkenalkan dirinya padaku.


"Namaku adalah …. Ruth Anesteria Ve Courtines, salam kenal juga," jawab Ruth memperkenalkan dirinya dengan sopan.


Ini adalah kepribadian keduanya Ruth, kutu buku.


Kurasa, ini akan cocok untuk kujadikan teman.


"Baik, karena kita sudah saling kenal, bagaimana kalau kita berdua makan di kantin dulu?" tanyaku menatap Ruth.


"E …. ehm, Ba …. baiklah," jawab Ruth gugup.


Tanpa pikir panjang lagi, aku dan Ruth langsung ke kantin sekolah.


Waktu terus berjalan, kali ini pun sudah sore.


Aku sudah berada di rumah dan makan malam bersama keluargaku.


Akhirnya, sekian lama yang kutunggu tunggu dapat kuimpikan.


Aku tersenyum riang menatap Kak Carl sehingga membuat Ayah, Ibu, dan Eliza bingung.


"Ada apa denganmu, Catty? Kelihatannya kau tampak senang," tanya Kak Carl tersenyum menatapku.


Ah, kenapa aku harus senyum sendiri di saat seperti ini? Aku jadi malu ….


"Ti …. tidak ada apa apa, Kak. Aku hanya berpikir kalau aku memiliki temsn baru di sekolah," jawabku tersenyum.


Eliza hanya diam memakan makanannya saja tanpa harus mendengarkan perkataanku.


"Lebih baik aku diam saja daripada harus membuat Carl marah," gumam Eliza mengerutkan alisnya.


Kak Carl terkejut memdengar apa yang kukatakan tadi.


"Teman baru? Sepertinya itu sangat menyenangkan untukmu," kata Kak Carl tersenyum menatapku.


Teman baruku namanya Ruth. Meskipun ia belum bisa membuka diri, tapi ia memiliki sisi baik kok.


Kuharap, setelah aku mendapatkan teman, Ruth tidak mengkhianatiku ….


Sudahlah, kulanjutkan saja makan malamku dengan keluarga.


_______________________________________________


Hari hari pun berganti. Aku masih saja terbully di sekolah karena aktingku. Hmm …., lebih baik aku sembunyikan saja sifat asliku.


Hingga 6 tahun kemudian ….


Aku sudah menginjak usia 13 tahun. Saat ini, aku sedang duduk di taman belakang Istana sambil minum teh.


Udara segar yang kunikmati tampak sejuk ya ….


"Tak terasa kalau aku sudah menginjak usia 13 tahun, tinggal 2 tahun lagi, aku harus bebas dari dunia ini," kataku berbicara sendiri.



Sekarang, aku sudah kelas 1-♪ Menengah, masih sekolah di tempat biasa.


Untung saja hari ini libur, jadi aku bebas berbuat apa saja.


Kemarin, Kak William juga sudah pulang ke Istana dengan alasan ia rindu padaku. Rasanya, keluarga sudah berkumpul ramai ya.


Terkecuali Kak Carl yang menatap tajam wajah Kak William karena kepulangannya yang begitu cepat.


Hmm …., memangnya hubungan mereka tidak baik?


.


.


.


[Bersambung]


~Keterangan:


Khusus Eliza dan Anna, Visualnya tidak di ganti, hanya Saphira/Catherine saja yang berubah.


Bagi yang nunggu Visualnya Carl, sabar dulu ya …., Author belum dapat.


Oh iya, Paragraf pertama yang ada di atas tadi, kata kata yang di pakai oleh Saphira/Catherine adalah referensi dari Squidward ya.


Hayo, bagi pernah nonton Spongebob Squarepants pasti tahu.