
Eliza meringis kesakitan di lantai sambil mengelus kakinya.
"Sakit sekali ….," lirih Eliza.
Sakit katamu? Ini tidaklah lebih dengan apa yang di alami oleh Catherine.
Sekarang, aku hanya bisa berpura pura saja.
"Kak, apa kau baik baik saja?" tanyaku dengan wajah sedih.
"Bagaimana aku bisa baik baik saja dengan terjatuh begini?!" jawab Eliza dengan kasar ia menjawabku.
Hmph! kau sakit hanya karena terjatuh? Kekanak kanakan!
Kurasa, ada aura menyeramkan yang datang dari Kak Carl.
Kak William yang melihatnya saja terdiam.
Hei, ada apa denganmu, Kak? Apa kau marah lagi pada Eliza?
"Will, ayo kita pergi," kata Kak Carl mengajak Kak William untuk pergi.
Kak William hanya mengangguk dengan ucapan Kak Carl dan mereka langsung pergi meninggalkan kami berdua di sini.
Sungguh menyebalkan, kenapa aku harus berada di sini bersama Eliza?!
Sudahlah, yang penting aku harus berakting dengan sempurna di depan Eliza.
"Maafkan kesalahanku ya, Kak. Aku tidak tahu kalau Kak Eliza bisa menjadi seperti ini karenaku," kataku berpura pura meminta maaf pada Eliza.
Ini adalah akting menjadi anak kecil berumur 7 tahun. Seperti yang kubilang, usiaku masih 7 tahun.
"Ternyata kau tahu diri juga ya, Cath. Mulai besok, jangan menggangguku lagi!" jawab Eliza dengan kasar.
Ciuh! Kasar pada anak kecil ya! Seharusnya kau yang tahu diri karena kau bukanlah anak dari keluarga ini!
Aku akan terus merahasiakan semua kebenaran ini! Tunggu di usiaku yang sudah berumur 15 tahun, akan kubongkar sifat aslimu.
Setelah kami selesai berbicara, aku pergi dan meninggalkan Eliza di ruang tamu sendirian.
Aku pergi ke kamarku dan menutup pintu dengan pelan.
Lalu, kududuk di kasur sambil memikirkan tentang caraku membalas dendam pada Eliza di sekolah nanti.
"Bagaimana caraku membalas dendam di sekolah nanti? Kalau tidak salah, Eliza memiliki 4 orang teman yang terus mengikutinya," lirihku bersuara pelan.
Yah, Eliza memiliki 4 orang teman di sekolah. Nama mereka adalah Anna, Alice, Erfly, dan Veronica.
Anna Flora Griseliyd, salah satu anak dari Kerajaan Griseliyd. Sifatnya sangat sombong dan narsistik.
Alice Lilithia Groviela, anak dari Kerajaan Grovield. Ia adalah orang bermuka dua.
Erfly Nimphy, anak Para Nimfa yang tinggal di rawa kecil. Sifatnya tidak kalah dengan Adik Tiriku, yaitu serakah.
Veronica Belstreyd, anak Kerajaan Belstreyd yang terletak di kutub utara. Ia memang sedingin es, tapi suka menindas orang lemah.
Ternyata Eliza memiliki teman yang begitu lemah ya. Aku memang bukan tandingan mereka, namun dengan berpura pura seperti ini pasti itu akan membuat mereka terjebak.
"Anna, Alice, Erfly, dan Veronica, kalian pasti akan berpihak padaku," lirihku memasang senyum licikku.
Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu kamarku.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara itu terdengar olehku. Aku bangun dari kasur dan berjalan ke arah pintu kamar.
Kubuka pintu itu berlahan dan ternyata itu adalah Kak William.
"Catherine, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Kak William.
"Te …. tentu saja," jawabku begitu gugup.
Kami berdua pun duduk di sofa empukku dan Kak William mulai berbicara duluan.
"Catherine, kau telah di terima di sekolah yang kau inginkan. Mulai besok, kau akan pergi ke sekolah bersama Carl dan Eliza," kata Kak William padaku.
Apa? Aku telah di terima untuk masuk ke sekolah yang sama dengan Eliza? Ini tidak bercanda, bukan?
"Apakah Kakak serius?" tanyaku dengan rasa tidak percaya, tapi sedikit bahagia.
Kak William hanya mengangguk tersenyum padaku.
Serius? Itu artinya, aku dapat membalas dendam dengan mudah.
"Terima kasih, Kak! Aku senang kalau Kakak telah mendaftarkanku masuk ke sekolah yang sama dengan Eliza," kataku tanpa sadar memeluk Kak William.
Kak William senang karena aku memeluknya. Ia mengelus kepalaku dengan pelan.
Yah, Kak William memang hangat seperti Cahaya Matahari.
Ini adalah pertama kalinya aku merasakan kasih sayang dari seorang Kakak.
Begitulah, aku melepaskan pelukanku dari Kak William.
Sungguh, ia adalah orang yang begitu hangat.
"Ehm, baiklah," kataku dengan suara pelan.
"Kalau begitu, Kakak permisi dulu," pamit Kak William.
Aku mengangguk pelan padanya dan ia pergi keluar dari kamarku sambil menutup pintu.
Sekarang, aku hanya sendirian di kamar.
Aku berbaring di kasur sambil merenung tentang hidup di novel ini.
"Dunia novel ini sangatlah menyenangkan, Catherine penuh dengan kasih sayang orang tua"
"Kuingin bebas dari dunia ini setelah pembalasan dendamku selesai," lirihku menatap dinding atas kamar.
Keesokan harinya ….
Aku sudah berada di luar bersama Kak Carl dan Para Prajurit lainnya.
Kata Pelayan, Eliza sudah berangkat ke sekolah tadi pagi. Memangnya untuk apa datang ke sekolah pagi pagi buta?
Tidak apa apa, kan masih ada Kak Carl yang bisa menemaniku. Selama naik kereta kuda, aku bisa tenang bersama Kak Carl.
"Kak, apakah sekolahnya akan jauh?" tanyaku pada Kak Carl.
"Tidak, selama kita berangkat menggunakan kereta kuda," jawab Kak Carl tersenyum melihatku.
Tak lama setelah kami berbicara, kereta kuda mulai berjalan.
Suasana sangatlah canggung. Aku dan Kak Carl hanya diam tidak berbicara.
Hmm? Kak Carl memandang ke luar? Aku tahu kita sedang berada di dalam kereta kuda.
Kalau di lihat lihat, Kak Carl terlihat tampan ya ….
Hei, apa yang sedang kupikirkan?! Lebih baik aku fokus di perjalanan saja!
Beberapa menit kemudian, kami berdua sampai di sekolah.
Spiral Clains Academy, itulah nama sekolah yang kutempati sekarang.
Tempatnya penuh dengan sihir yang
liar, tidak di kenali oleh orang orang sama sekali.
Aku hanya fokus berjalan saja bersama Kak Carl tanpa berbicara apa apa.
Tapi, Kak Carl duluan masuk ke dalam, sedangkan aku masih saja di luar.
Tiba tiba, entah kenapa aku bisa terjatuh tanpa sebab. Jangan jangan, di sekitar sini pasti ada Eliza dan teman temannya!
"Lihatlah, siapa yang datang ke sekolah ini?"
"Seorang pecundang ya? Biasa saja"
"Haha, apa dia pantas untuk datang ke sini?"
"Kuakui kalau dia itu cantik, tapi dia begitu lemah dan bodoh!"
Sudah kuduga, ternyata Eliza dan teman temannya yang mendorongku jatuh!
"Ka …. Ka …. Kakak Eliza?" kataku berpura pura ketakutan.
Eliza langsung tersenyum licik begitu saja mendengarku memanggilnya dengan sebutan bodoh itu.
Entah ada angin buruk apa yang membuat teman teman Eliza ingin sekali menindasku.
"Kakak? Hei, Eliza itu tidak pernah menganggapmu sebagai Adiknya!" jawab Anna meledekku.
Kau pikir dengan ucapanmu itu aku akan termakan begitu saja? Lihatlah aksiku membuat kalian terjatuh!
"Kenapa kau menindas murid baru di sekolah?! Bukankah itu namanya Monster?!" teriakku yang hampir saja menangis.
Berpura pura menangis memang sangat sulit, tapi aku ini masih berumur 7 tahun, jadi itu tidak masalah.
.
.
.
[Bersambung]