
Melihat tatapan Serlia, Eliza bergidik takut.
Tatapan dari mata merah Ruby yang sama seperti Kak Carl, membuat Serlia terlihat lebih menyeramkan dari yang sebelumnya.
Manusia bangsa Drastiria benar benar menakutkan.
Ya ampun, kenapa aku punya teman yang begitu menakutkan daripada hantu~
Bahkan Iblis bisa tertunduk melihat tatapan dari Serlia(Dramatis).
"Er …. Ersalina, bisakah kau ti …. tidak perlu me …. me …. menatapku?" tanya Eliza ketakutan.
Tidak, aku juga ikut ketakutan karenamu!
"Apakah tatapanku sangat mengerikan? Kau takut? Maaf, aku tidak akan berhenti menatapmu," jawab Serlia dengan tenang.
Ingatlah, Serlia, mata merahmu itu akan membongkar identitas aslimu!
"Ersalina, berhenti!" teriakku menghentikan Serlia.
Gawat, ia mulai menatapku. Sepertinya, maksud dari tatapan itu sulit di jelaskan.
Berlahan lahan, penampilan Serlia kembali menjadi Ersalina. Untung saja hanya matamu yang berubah, kalau tidak maka semuanya hancur begitu saja.
Penyamaran ini tidak boleh terbongkar! Aku adalah Serlia dan kau adalah Ersalina.
"Serlia, ayo kita pergi," kata Serlia datar.
Aku hanya bisa mengangguk diam dsn mengikutinya. Rasanya seperti aku sedang berada di neraka bersama si wanita Iblis ini!
Serlia, kau benar benar mirip dengan Ayah dan Kak Carl.
Hmm? Apa lagi yang ingin kau perbuat sekarang? Kenapa aku di bawa ke tempat gelap ini?
Tenang, Saphira, ini pasti tidak lama ….
"Catherine, bisa bisanya kau membahayakan dirimu! Kalau bukan aku yang menolongmu, kau pasti sudah mati di tangan jala*g itu!" kata Serlia penuh rasa kekhawatiran.
Barusan dia mengkhawatirkanku? Serius? Bukankah kau adalah seorang gadis berdarah dingin? Serlia, apa yang terjadi padamu?
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkanku?" tanyaku memasang raut wajah yang sedih.
Apakah kata kataku tidak terlalu kasar untuk melukai hatinya? Maafkan aku, Serlia.
"Kenapa katamu? Betapa bodohnya dirimu! Kita adalah teman sekarang, jadi aku berhak membelamu dalam segala hal! Satu lagi, aku juga berhak khawatir padamu!" jawabnya dengan serius.
Tatapan dan nada bicaranya, ternyata Serlia sangat serius menanggapinya.
Benar, aku bodoh sekali membahayakan diriku. Padahal aku hampir saja mati.
Tapi, dengan aku membahayakan diriku, maka itulah satu satunya cara membalaskan dendam Catherine.
Tadi kudengar apa? Teman? Apakah aku tidak salah dengar? Seseorang berdarah Iblis mengerti dengan arti teman?
Serlia ….
Tanpa pikir panjang, tanpa sadar kupeluk tubuh Serlia dengan sangat erat seraya mengeluarkan air mataku setetes demi setetes.
"Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Serlia," kataku memeluk Serlia.
Yah, Serlia membalasku dengan senyumannya.
"Baik, selama kau bisa menjaga diri," jawabnya tersenyum.
Tiba tiba ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Suara lonceng berbunyi dengan keras sehingga menyebabkan telingaku sakit.
Para Prajurit itu sedang apa sih?! Sepertinya mereka tidak ada kerjaan sampai membunyikan lonceng dengan begitu keras!
Ugh, telingaku~
____________________________________________________
Yap, aku sudah berada di ruang penyambutan bersama Serlia, tapi identitas kami berdua terap berbeda.
Tampaknya, William begitu senang dapat menatap Eliza yang sudah dewasa.
Bukankah Eliza adalah orang dengan kepribadian kekanak kanakan? Aku mual melihatmu terus menatap Eliza dengan penuh kegembiraan.
Sejujurnya, aku masih berharap ingin berkumpul lagi bersama keluargaku, seperti di Istana dulu.
Sayangnya, alur ceritanya berubah karenaku ….
Maaf ….
Huh, untuk apa aku terus memikirkannya? Aku kan sedang menikmati pesta ulang tahun Eliza.
Hmm, sepertinya ada yang salah dengan pedang suci yang di pegang oleh William.
Mata pedang yang tergores dan hampir patah setelah di tarik, menarik.
Mungkin Eliza akan senang dengan hadiah yang kuberikan.
Hehe, rencana sukses!
Acara sudah di mulai, sebaiknya aku lebih sopan sedikit sebagai Penyihir.
"Salam, para rakyat semua! Terima kasih telah ingin hadir di pesta ulang tahun dari Adikku"
"Sebagai rasa kehormatan dan kasih sayangku pada Adikku ini, kuputuskan untuk memberi hadiah pedang suci padanya"
"Eliza, naiklah ke sini bersamaku"
Siap siap saja, sepatumu pasti akan patah setelah naik ke sana.
Tak sengaja, Eliza tiba tiba tersungkur ke lantai sambil meringis kesakitan.
Heelsnya sudah patah, bukan? Di tambah lagi dengan laba laba yang bertebaran di mana mana, membuat suasana hatiku ingin tertawa.
Senang sekali menjahili orang jahat seperti dia!
Hahahahaha!!!
"Laba laba itu bertebaran di mana mana!" teriakku tertawa puas.
Semua orang terkejut mendengar suara tawaku yang menyeramkan.
Astaga, aku lupa kalau ini sedang dalam situasi canggung.
Kulihat Michelle mengeluarkan sihir penghilang serangga dengan mengulurkan tangannya.
"Herlisiorin," ucapnya.
Berlahan lahan, laba laba itu hilang dari ruangan ini.
Sialan! Padahal tadi adalah pertunjukkan terbaik yang baru kulihat!
"Sebaiknya kau berhati hati dengan seekor laba laba, Tuan Putri Eliza," kata Michelle dengan penuh hormat.
Berpura pura di depan semua orang?! Sungguh menjijikkan!
Melihatnya saja membuat mataku sakit, apalagi telingaku yang mendengarnya.
"Aku tidak apa apa," jawab Eliza tenang.
"Siapa yang menyebabkan semua kekacauan ini?!" tanya Michelle agak panik.
Dengan sengaja, tangan Eliza menunjuk ke arahku.
Mulai lagi dramanya.
"Serlia. Serlia yang melakukan semua ini pada kita!" jawab Eliza pura pura marah.
Rencana licik apa lagi yang kau miliki? Aku juga bisa.
Ehem~
"Maaf, salah apa aku? Bahkan soal laba laba saja aku tidak tahu," kataku dengan santai.
Seketika suasana menjadi hening ….
Mereka berpikir kalau aku berani melawan Tuan Putri Eliza? Tentu saja, karena akulah Tuan Putri yang sesungguhnya.
Hmm, Michelle, kenapa kalian berdua Eliza diam? Biasanya kalian sangat akrab.
"Kenapa diam? Aku sungguh tidak tahu apa apa," kataku menaikkan kedua alisku.
Mendengarku berbicara, Michelle membantah ucapanku.
"Tidak mungkin kau tidak tahu. Kalau kau tidak tahu, kau tidak akan tertawa di depan semua orang," jawab Michelle.
Bodoh sekali aku, kenapa mulutku tidak bisa kuhentikan?! Karena sudah keceplosan dan ketahuan, aku terpaksa mengakuinya.
"Akhirnya, kau bisa juga menebaknya. Benar, aku yang melakukannya," kataku tersenyum licik.
Berlahan lahan, penampilanku berubah seperti semula, yaitu Catherine. Gawat, penyamaranku sudah terbongkar!
William, Carl, Eliza, bahkan semuanya terkejut melihat penampilanku yang sebenarnya, termasuk Serlia.
"Catherine?!"
William menghampiriku dengan tatapan dingin dan kejam.
Apa yang ingin kau katakan, pengkhianat?! Ingatlah kalau aku bukanlah Adikmu, melainkan Eliza!
Plak!
Satu tamparan dari William mendarat ke pipiku.
"Ini akan menjadi pelajaran untukmu," kata William to the point.
Eh? Pelajaran? Bukankah kau yang harus kuberi pelajaran.
Plak!
Satu balasan tamparan dariku mendarat ke pipi William.
"Pelajaran sesungguhnya harus di terima olehmu, wahai Yang Mulia Raja," jawabku datar.
Kau menamparku dan aku membalasnya, jadi kita impas!
"Aku mohon undur diri dulu, Yang Mulia!" kataku kasar.
Seperti ucapanku, aku pergi dari ruang penyambutan dan menuju ke kamarku.
Setelah sampai di dalam kamar, kurebahkan diriku di kasur besar milikku sambil menangis memeluk gulingku.
.
.
.
[Bersambung]
~Pemberitahuan:
Mulai sekarang, Author akan membuat novel baru yang bertema masa depan. Cek di bawah:
Jadi, jangan lupa di baca ya, dan jangan lupa like, rate, vote/tip, favorit ya.