The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 16



Sekarang, aku sudah berada di kamarku sendiri, kamar yang sangat besar.


Kuberbaring di kasurku sambil memeluk gulingku.


Pikiranku sangat berantakan …., ini adalah pertama kalinya aku tenggelam di dorong oleh orang yang tidak kukenal.


"Memangnya siapa dia? Kenapa tiba tiba mendorongku?" tanyaku pada diriku sendiri.


Ah! Apa aku gila? Atau aku sedang sakit? Sudahlah, lebih baik aku tidur saja.


Tiba tiba ….


Prang!!!


Ada suara keras yang menusuk ke telingaku. Asal suara itu tak lain adalah dari ruang tamu.


"Suara apa itu?! Sebaiknya aku hampiri saja!" kataku keluar dari kamar sambil berlari.


Kuterus berlari ke arah ruang tamu berada dengan nafas terengah engah.


Sesampainya di ruang tamu, ternyata yang kulihat adalah Eliza dan Veronica. Ada rencana apa lagi mereka?


Untung mereka tidak menyadari kedatanganku, sebaiknya aku sembunyi dulu dan menguping pembicaraan mereka berdua.


Di ruang tamu ….


Prang!!!


"Lihat, sudah dua pusaka yang kuhancurkan!" kata Eliza membentak Veronica.


"Pusaka milikku! Tega sekali kau menghancurkannya! Ini adalah barang berharga yang kutitip padamu!" jawab Veronica kasar pada Eliza.


Pu …. pusaka? Jangan bilang kalau Eliza dan Veronica ….


"Kau harus menuruti apa yang kuperintahkan! Ingat, kontrak di antara kita berdua belum selesai!" kata Eliza marah pada Veronica.


Kontrak? Tentang apa?


"Aku tahu tentang masalah kontrak kita berdua, tapi tolong jangan hancurkan pusaka yang kuberikan untukmu!" jawab Veronica berlutut.


Tega sekali kau, Eliza! Di rumah, kau tidak ada sopan santunnya dengan keluargaku. Sekarang, kau bahkan mengancam Veronica demi keuntunganmu sendiri.


"Bagus, tetap jalankan rencanamu. Karena aku sudah mendorong Catherine ke dalam kolam, kuharap dia mati!" kata Eliza tersenyum licik.


E …. Eliza?! Pantas saja aku merasakan firasat buruk dari hati kecilku. Ternyata, si rubah licik itu yang mendorongku masuk ke dalam kolam sedalam itu.


Eliza, aku akan membuatmu menyesali semua perbuatanmu.


Aku langsung pergi meninggalkan ruang tamu dan ke perpustakaan untuk menenangkan pikiran, serta menyusun rencana untuk menjatuhkan Eliza.


Saat ini, aku sudah berada di perpustakaan pribadiku.


Kududuk di sofa tebal yang sangat dekat dengan rak buku dan aku mulai menyusun rencanaku.


"Si rubah merah itu belum menyerah ya untuk menjatuhkanku, lucu sekali!"


"Rencanaku di mulai dari sekarang. Aku ingin sekali mengusir Eliza secara langsung, tapi ini sulit sekali"


"Kalau kufitnah terus terusan, apakah itu akan membuatnya lengah dan di usir? Tapi, bagaimana caranya?"


"Tidak, aku tidak mungkin memfitnah Eliza! Itu juga bukan keinginanku!"


"Hmm? Kalau menyinggungnya? Tidak mungkin!"


"Sulit sekali memikirkannya!"


Daritadi aku berpikir, ternyata tidak ada hasilnya sama sekali.


Mana mungkin aku memberitahu rahasia besarnya. Ini semakin rumit ….


Ha~, Aku punya ide!


Karena kami berdua sama sama bisa memanah, aku akan mengajaknya pergi ke hutan untuk latihan.


Tapi sebelum memulainya, anak panah milik Eliza harus kuberi racun mematikan.


Racun apa yang paling mematikan? Coba kucari di buku racun dulu.


Kuambil buku itu menggunakan sihirku, yaitu Dryslia.


Sihir itu sudah dapat kukendalikan sejak usiaku menginjak 8 tahun. Fungsi dari sihir ini adalah dapat mengambil barang yang jatuh, tinggi, bahkan jarak jauh.


Tanganku sangat ringan saat menggunakan sihirku. Sebenarnya, sihir ini muncul secara tiba tiba saat aku membuka pintu kelas 6 tahun yang lalu.


Buku yang kubutuhkan sekarang telah berada di tanganku, saatnya membaca.


"Poison Rachelia, ini adalah nama buku yang baru saja kutemukan. Aku akan mencoba melihat lihat isi dari buku ini," kataku membuka halaman bukunya satu per satu.


Saat aku sedang membaca halaman 755, akhirnya aku menemukan racun yang tepat untuk membuat anak panah Eliza menjadi beracun.


"Ini dia! Astacia Dandelina, racun yang dapat membuat tubuh melemah dan berefek sebesar 85% saat di oleskan di senjata apapun"


"Dapat melemahkan tubuh ya? Mungkin racun ini sangat cocok untuk Eliza," kataku tersenyum licik.


Di tambah lagi dengan anak panah beracun buatanku untukmu, sepertinya menarik.


Rencana di mulai ….


Tak lama kemudian ….


"Ibu, Ayah, kami berdua sudah pulang!"


Itu adalah suara Kak William dan Kak Carl yang baru pulang memanah!


Tepat sekali, aku harus meminta izin pada Ayah, Ibu, dan kedua Kakakku. Aku juga tidak lupa mengajak Eliza untuk pergi latihan.


Menurutku, Eliza pasti akan sangat keberatan jika aku mengajaknya.


Hehe, lebih baik aku mencari anak panahnya dulu, baru bisa meminta izin dan pergi dengannya.


"Di mana anak panah milik si rubah licik itu? Aku yakin ia pasti menyimpannya di sekitar sini," kataku bingung.


Aku celingak celinguk memandang ke sana ke sini melihat di mana letak anak panah itu.


Setelah aku melihat di atas rak buku milikku, betapa beruntungnya aku karena berhasil menemukannya.


"Ah, keberuntungan berpihak padaku! Saatnya membuat racun," kataku tersenyum riang.


Bahan bahan yang kubutuhkan untuk membuat racun adalah:


•Tangkai Bunga Mawar


•3 tetes air liur kadal jamur merah


•Campuran sebotol Buah Cruelberry


Sudah, semua bahannya sudah kusiapkan. Aku menggabungkan semua bahan itu ke dalam botol celup.


Kemudian, kuucapkan sihirnya sambil menutup mataku.


"Astacia Traselially," ucapku.


Lalu, muncullah sebuah cahaya yang menyilaukan mataku. Cahaya itu membentuk menjadi sebuah cairan di dalam botol celup milikku.


Akhirnya, racun yang kubutuhkan sudah berada di depan mataku sendiri.


"Inilah yang kubutuhkan! Sekarang, tinggal celupkan saja," kataku dengan senang.


Satu per satu, aku mencelupkan anak panah itu ke dalam cairan racun yang kubuat.


Beberapa menit kemudian ….


Aku sudah selesai melakukan rencana pertamaku, giliran rencana keduaku, yaitu mengajak Eliza pergi ke hutan berburu beruang.


Aku pergi menuju ke ruang tamu dengan santai tanpa berkata apapun.


Setelah berada di ruang tamu, aku melihat semuanya duduk berkumpul.


Memangnya ada apa lagi?


Sudahlah, aku pergi saja. Tinggal meminta izin dan mengajak Eliza, itu mudah, kan?


"Ayah, Ibu, Kakak, bisakah aku berbicara sebentar?" tanyaku pada semuanya terkecuali Eliza.


"Bicara tentang apa?" tanya Kak William.


"Bolehkah aku pergi berburu beruang bersama Kak Eliza?" jawabku meminta izin.


Mendengar apa yang kukatakan membuat Kak Carl berdiri dan menolaknya.


"Tidak boleh! Berburu beruang sangatlah berbahaya!" tolak Kak Carl.


Ayolah, Kak, hanya sekali ini saja. Kalau tidak, maka rencana balas dendamku sia sia saja.


"Kumohon Kak, izinkan aku sekali saja," kataku memohon pada Kak Carl.


Semoga saja aku di izinkan.


"Carl, Catherine hanya ingin belajar memburu saja. Tidak apa apa jika kau mengizinkannya. Lagipula, ini baru pertama kali Catherine memintanya," kata Ayah meminta persetujuan dari Kak Carl.


"Tapi ….," jawab Kak Carl seketika ucapannya terhenti.


"Tidak ada kata "tapi". Catherine dan Eliza kuizinkan pergi ke hutan," kata Ayah dengan serius.


.


.


.


[Bersambung]


Maaf ya kalo masih ada yang salah dalam kalimatnya(terutama kalimat yang tidak nyambung).


Btw, Cruelberry adalah buah hasil karangan Author sendiri ya, begitu juga dengan nama sihir dan bukunya.