The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 38



Hah~


"Kalau ingin kuberhenti menatapmu, maka jangan membuatku marah, mengerti?" tanya Serlia tenang.


Tanpa berkata apa apa, Serlia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Sudahlah, tidak perlu kupikirkan.


Masalah yang harus kutangani sekarang yaitu Samson masih menempel padaku!


Pasti Eliza akan marah padaku. Bukan, lebih tepatnya adalah cemburu buta!


Siapa juga yang menginginkan tunanganmu itu? Aku masih belum siap untuk mati lagi.


"Lepaskan Catherine!" kata Eliza menatap kesal ke arah Samson.


Ayolah, lepaskan aku. Diriku ini sedang membutuhkan waktu bebas.


"Baiklah," jawab Samson santai.


*Melepaskan rambut*


Eh? Sepenurut itukah kau? Sama seperti di dalam novel, kau selalu menuruti apa yang di katakan oleh Eliza.


Astaga, aku lupa kalau besok harus sekolah! Sebaiknya aku pergi ke kamar dan tidur dulu.


"Maaf, kalau begitu, aku permisi dulu," kataku gugup dan menghilang secepat kilat.


___________________________________________________


Keesokan harinya ….


Hoam~


Sekarang, aku sudah berada di sekolah bersama Kak Carl.


Untung saja William sudah tidak keras padaku, kalau tidak maka berapa tamparan pun tak segan kulayangkan ke pipinya.


"Catty? Kau masih mengantuk?" tanya Kak Carl menatapku serius.


"Ehm, benar, aku sedikit mengantuk hari ini," jawabku sedikit menguap.


"Lalu, bagaimana caramu menjelaskan kantung matamu itu?" tanya Kak Carl sedikit heran.


Itu semua karena Serlia yang semalam terus menggangguku saat ia tidur sekamar denganku.


"Ceritanya sangat panjang," jawabku.


Tiba tiba saja ….


"Catherine~"


Hei! Serlia? Untuk apa kau datang ke sini? Bukankah kau seumuran dengan Kak Carl?


"Mulai sekarang, kita berdua sekelas," lanjutnya dengan girang.


Se …. sekelas katamu?! Apa kau sudah tidak ingat umur?! Bagus kalau tinggi badanmu sama denganku, tapi perbedaan umur kita berdua terlalu jauh!


"Ba …. baiklah," jawabku tersenyum aneh.


"Hmm? Ada yang aneh dengan matamu," kata Serlia menatap wajahku.


Pakai bertanya lagi! Ini semua adalah salahmu yang mengganggu tidurku.


•Flashback•


Semalam di Istana Arshleyer, tepat di kamarku ….


"Cath, bagaimana rasanya sekolah di Spiral Clains Academy?" tanya Serlia penasaran.


Hoam~


Zzz ….


Aku hanya tertidur tidak mendengarnya berbicara. Oh, aku lupa memberitahu kalian kalau Serlia mulai tinggal di Istanaku sebagai Penyihir.


Dia terus saja menggoyang tubuhku, seolah membangunkanku. Karena diriku yang tidak mau bangun, ia membakar bantalku sehingga membuatku bangun dengan cepat.


•Flashback off•


Yah, begitulah ceritanya. Untung saja bantalku tidak terbakar sepenuhnya, kalau terbakar, aku ingin berbaring pakai apa~


"Diamlah, aku ingin tidur," jawabku singkat.


Kubuka pintu kelas dengan berlahan lalu duduk di tempat dudukku dan tidur.


Sudah 12× aku tertidur di kelas, jadi tambahlah hukumanku sesuka hati.


Zzz ….


Serlia POV


"Astaga, pakai tidur di kelas segala. Memang pantas kupanggil kau dengan nama " Catherine si pemalas". Panggilan itu pasti akan cocok untukmu," kataku menatap Catherine yang sedang tidur.


Nyenyak sekali tidurnya. Apakah semalam dia tidak tidur? Kalau tidak tidur, terus dia berbuat apa?


Benar benar sulit di tebak.


Tak lama kemudian, datanglah Eliza dan sekumpulan teman temannya.


Bletak!


"Di mana Catherine? Tidur? Hmph! Ini adalah kesempatan bagus untuk mengacaunya!" kata Michelle dengan nada yang arogan.


"Bagaimana caranya? Bergerak saja tidak," jawab Eliza tersenyum merendahkan.


Lagi lagi, perkumpulan orang orang bodoh. Tunggu, aku baru sadar kalau Michelle sudah bersekolah di sini.


Sepertinya ia memiliki sebuah tujuan!


Ya ampun, kata kata apa sih yang kupilih? Sudahlah, yang penting fokus menghadapi si cabe merah dulu!


"Mimpi indah? Heh, sebentar lagi mimpi indahmu akan berakhir!" jawab Michelle menarik rambut Catherine sehingga membuatnya terbangun.


Bodoh sekali kalian!


Akh! Mataku sakit!


Saphira/Catherine POV


Argh!


Rambut emasku! Siapa yang menariknya?!


Michelle?! Ada apa lagi dengan jiwamu?! Dan …., Eliza?!


Gila, bagaimana mereka berdua bisa menerobos masuk ke dalam kelasku?! Eh? Ada apa dengan matamu, Serlia?


Hah? Mata merah dengan lambang dahi ❇?


Gawat, jangan sampai kau hilang kendali!


"Bisakah kau lepaskan rambut Catherine? Kalau tidak, maka gantinya adalah kepalamu," kata Serlia dengan santai.


Melihat tatapan mata Serlia yang begitu tajam, Michelle segera melepaskan rambutku.


"Ba …. baik!" jawabnya dengan cepat dan berlari pergi dari kelas.


Lambang apa yang ada di dahimu? Aku ja …. ja …. jadi ketakutan ….


"Kumohon jangan menatapku! Aku pergi dulu!" kata Eliza mengangkat bagian bawah gaunnya dan pergi.


Bahkan Eliza juga takut padanya? Benar juga, Serlia sekarang sedang tidak terkendali.


Kulihat, lambang di dahinya semakin bersinar terang dengan cahaya merah yang membentuk seperti permata Ruby.


Di tambah lagi dengan matanya yang sudan bersinar sangat terang, bahkan sudah menjadi permata Ruby!


Tidak, jangan menyerangku!


"Pergilah kau, Makhluk sampah! Karena kau telah membunuh ibuku, maka nyawamu akan berakhir sekarang!" teriak Serlia dengan kasar menatapku.


Sudah kuduga, dia benar benar kehilangan kendali! Ruth, di mana kau? Tolong hentikan Serlia!


Dari luar, terlihat Ruth yang sengaja lewat di depan kelasku. Ini kesempatanku untuk menghentikan Serlia.


"Ruth! Bisakah kau menghentikan Serlia?! Tadi, dia hampir saja membunuhku!" teriakku memanggil Ruth.


"Apa katamu?! Kak Serlia hampir membunuhmu? Gawat, Kakak sedang kehilangan kendali!" jawab Ruth langsung datang menghampiri Serlia.


Cepat lakukan sesuatu!


"Hrisia Presciaco," ucapnya.


Cahaya biru terang muncul di tangan Ruth dengan cepat dan membuat Serlia pingsan.


Akhirnya tenang juga, kupikir nyawaku akan melayang.


Tapi, apa yang membuatnya kehilangan kendali begini? Coba kutanya Ruth saja.


"Ruth, tolong jelaskan apa yang terjadi pada Serlia," kataku dengan serius.


*Menghela nafas*


Hah~


"Akan kukatakan"


"Seperti yang sudah kau ketahui, Kak Serlia adalah gadis berdarah bangsawan, yaitu bangsa Drastiria"


"Karena tidak pernah menerima kematian Ibunya, Ratu Freora, membuatnya memiliki kekuatan langka"


"Nama kekuatan itu adalah Acroselia. Yang menyebabkan kekuatannya datang adalah saat ia melihat teman terdekatnya di sakiti"


"Efek samping dari kekuatan itu adalah dapat membuatnya kehilangan nyawa"


"Jadi, hanya itu yang bisa kujelaskan padamu. Meskipun Kak Serlia pintar, tapi luka di dalam hatinya sangatlah banyak"


Penjelasanmu sangat masuk akal. Aku mulai paham sedikit demi sedikit.


Ngomong ngomong, Serlia melihat apa? Kenapa dia bisa kehilangan kendali?


Apakah karena melihat Eliza? Dia pernah bercerita padaku kalau Arlia membunuh Ratu Freora.


Lalu, mengetahui Eliza yang telah membunuh Ayah dan Ibu ….


Mungkin seperti itu, sulit sekali memikirkannya.


Serlia, mungkin kehidupanmu yang tidak kuketahui jauh lebih menyakitkan daripada Catherine.


Pokoknya, aku harus bisa memecahkan misteri yang membuatku bingung ini.


Ah, aku lupa kalau aku ada membawa surat ancaman dari tulisan tangan Eliza.


Ketika bel istirahat nanti, aku akan pergi ke ruang Penyihir dan memeriksanya lebih dalam.


Waktu itu, yang kulihat dari surat itu bukan hanya ancaman, melainkan ada tulisan transparan yang sengaja di sembunyikan.


.


.


.


[Bersambung]