
"Kau juga bisa duduk di sini bersama kami, karena meja dan kursi sedang ingin di bersihkan oleh Pelayan," jawabku tersenyum paksa.
Mereka hanya menuruti perkataanku dan duduk di atas salju salju yang tebal yang kami duduki.
"Tidak buruk, aku menyukai saljunya," kata Michelle bermain main salju.
"Aku juga menyukai salju," jawab Serlia sengaja memasang wajah senang.
Berusahalah untuk berakting, Saphira!
"Eliza, apa kau suka salju?" tanyaku sengaja.
"Dulu, aku sangat menyukai hujan salju. Tapi, karena aku sudah tidak bisa melihat, salju kelihatan asing di penglihatanku," jawab Eliza tersenyum pahit.
Kau bilang dulu kau suka dengan hujan salju? Heh, kau berbohong padaku, karena dulu kau tidak pernah menyukai hujan salju!
Saat itu, aku pernah mengajakmu bermain, tapi kau bilang bermain salju adalah hal kekanak kanakkan dan salju itu menakutkan.
Sudah kuduga dari awal, ada yang sedang kau sembunyikan dariku!
"Yah, aku tahu itu. Ternyata kau tidak berubah, ya," kataku bersandar di pohon.
"Haha, aku jadi senang setelah menikmati salju ini," jawab Eliza senang.
Aku tahu sandiwaramu, Eliza. Kau memang tidak mudah di singkirkan.
"Ehm, kau tahu, biasanya aku sangat bosan di Istana sendiriang sebentar?" tanyaku tersenyum paksa.
"Berpedang? Catherine, bisakah berpedangnya lain kali saja? Eliza belum bisa melihat," jawab Michelle panik.
"Oh, aku tahu itu. Kenapa aku selalu bosan ketika harus sendirian tanpa teman …. hiks ….? Padahal aku sangat menyukai kalian berdua …hiks ….," kataku pura pura menangis.
Akting yang terlalu sulit ini membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri!
Huh, kalau saja bukan untuk mencelakaimu, aku tidak akan berakting seperti orang bodoh!
"Michelle, tarik kembali ucapanmu. Aku bersedia melakukan latihan berpedang bersamamu," jawab Eliza merasa tidak enak.
"Sungguh? Kau mau?" tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.
"Aku mau," jawab Eliza tersenyum.
Akhirnya, dia menyetujui permintaanku. Ingatlah, aku tidak akan melepaskanmu sebelum satu luka kecil menempel di kulitmu.
Tenanglah, Eliza, aku akan bermain dengan lembut.
Kubantu Eliza untuk berdiri dan memberikannya pedangku.
"Baiklah, ayo kita mulai," kataku tegas.
"Aku siap!" jawab Eliza.
Tang!
Tang!
Serangannya kuat juga, ternyata aku terlalu meremehkan kemampuanmu! Kau sangat pintar menggunakan senjata saat matamu tidak bisa melihat.
Tang!
"Aku tidak tahu kalau kau bisa menggunakan senjata tanpa melihatnya," kataku tersenyum.
Tang!
"Sungguh? Aku baru tahu kalau aku bisa menangkis seranganmu walaupun aku tidak bisa melihat," jawab Eliza sedikit percaya diri.
Sifatmu belum berubah! Aku sudah tahu semua akal busukmu, Eliza!
Beraktinglah sebisa mungkin, Saphira ….
Tang!
Sring!
Kuberhasil membuang pedang Eliza ke sembarang arah sehingga membuat tangannya tergores.
Argh!
Eliza jatuh tersungkur dan menahan sakitnya luka yang ada di tangannya.
"Sakit …. sekali ….," kata Eliza menahan sakit.
Rasakan itu! Siapa suruh kau menerima permintaanku.
"Eliza, kau tidak apa apa?!" tanyaku menghampirinya.
"Aku tidak apa apa, ini hanya luka kecil," jawab Eliza tersenyum tipis.
"Maafkan aku karena telah melukai tanganmu, Eliza," kataku meminta maaf.
"Kutarik kata kataku yang tadi! Untuk apa aku memaafkan orang gila sepertinya sedangkan aku sudah bersusah payah membuatnya terluka!" gumamku kesal.
Karena luka kecil di tangan Eliza menyebabkan rasa sakit pada tangannya, Michelle menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Eliza, kau tidak apa apa?! Sebaiknya kita berdua pulang saja karena lukamu sedikit parah," kata Michelle membantunya berdiri.
"Aku sungguh minta maaf karena telah melukai Eliza," jawabku meminta maaf.
Kutarik lagi kata kataku!
"Tidak apa apa, aku harus pulang bersama Eliza, luka di tangannya semakin parah," kata Michelle panik dan pulang bersama Eliza.
Hah, benar benar merepotkan! Kenapa besok siang aku harus pergi ke Istana yang tidak berguna dan penuh karatan itu?!
Eliza Carlina Sean Srylpharuna, aku benar benar membencimu!
"Serlia, menurutmu apa aku harus melanjutkan sandiwaraku?" tanyaku menatap Serlia.
"Lanjutkan saja sandiwaramu, aku tidak mau melihatnya bahagia," jawab Serlia juga menatapku.
"Lalu, sandiwara apa yang harus kubuat?" tanyaku sekali lagi.
"Cukup ikuti kata hatimu dan keluarkan apa yang ingin kau katakan," jawab Serlia memandang ke arah lain.
Boleh juga, kebiasaan aktingku memang tidak bisa di ketahui siapapun.
Lihat saja besok, Eliza.
...
Kini, aku berada di perpustakaan. Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat lagi.
Besok adalah pesta minum teh antara aku dan Eliza, sedangkan Serlia dan Michelle tidak bisa ikut di pesta kami berdua.
Aku membutuhkan ekspresi kasar dari akting yang kubuat, pastinya harus mengeluarkan kata kata yang ingin aku katakan.
Sulit sekali ketika aku berpikir panjang, sebaiknya aku membaca buku saja.
Kuambil buku yang ada di rak buku dan duduk di sofa.
*Duduk*
Huh~
Cukup tenangkan pikiran dan jangan berpikir tentang hal buruk.
*Membuka buku*
"Kenapa aku harus membaca buku yang tidak berguna ini? Bukankah ini adalah buku yang menjelaskan tentang cara menghilangkan stress?" kataku kesal setelah membuka buku yang kubaca.
Puk!
Kubuang buku itu ke lantai dengan kesal dan berbaring di sofa.
Hah~
Pikiranku kacau sekali, aku tidak bisa menghentikannya.
Sebaiknya aku tidur saja daripada harus berpikir yang tidak tidak.
*Menutup mata*
Tiba tiba ….
Byur!
Astaga! Siapa yang menyiramku menggunakan air dingin?!
*Membuka mata*
"Siapa kau?! Mengganggu tidurku saja!" kataku kesal.
"Aku, memangnya kenapa?" jawab orang yang ternyata adalah Serlia dengan ember kayunya.
Oh, aku pikir kau siapa, bisanya mengganggu tidurku saja.
"Ada apa kau memanggilku bangun?" tanyaku duduk kembali.
"Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu," jawab Serlia santai.
Hal penting? Menyangkut siapa?
"Besok, Eliza membuat pesta minum teh hanya untukmu, bukan? Jangan lupa bawa botol ini dan masukkanlah ke dalam minumannya," kata Serlia memberikan sebuah botol kecil padaku.
Tunggu, baunya tercium seperti ….
"Racun? Kau yakin mau membahayakan nyawanya?" tanyaku terkejut.
"Tentu saja, aku tidak tahan dengan sandiwara yang di buat oleh mereka berdua," jawab Serlia santai.
Kau pikir hanya kau sendiri yang tidak tahan dengan sandiwaranya? Aku juga tidak tahan jika harus melanjutkan sandiwaraku sendiri di depannya seolah aku dan kau adalah orang baik.
"Apa kau percaya kalau cara ini akan berhasil?" tanyaku mengerutkan alis.
"Itu adalah racun dari hewan reptil yang bernama kadal berbintik hitam. Siapapun yang telah meminum racun ini sengaja maupun tidak sengaja, maka kulitnya akan membusuk dalam waktu 3 hari," jawab Serlia begitu yakin dengan efek racunnya.
Dahsyat sekali, sebotol kecil racun ini dapat membuat kulit manusia membusuk dalam waktu 3 hari?! Buatanmu sungguh luar biasa.
"Baiklah, serahkan semuanya padaku, Serlia," kataku percaya diri.
"Kau lebih bersemangat dari yang sebelumnya, Catherine," jawab Serlia tersenyum licik.
Tunggulah aksiku besok, Eliza!
.
.
.
[Bersambung]