The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 42



Eh? Ada noda yang menempel di mulut Veronica? Hehe, ini bisa menjadi kesempatan Kak Carl untuk membersihkan mulutnya.


"Vero, ada makanan sisa yang menempel di mulutmu," kata Kak Carl fokus melihat wajah Veronica.


"Makanan sisa? Di wajahku? Sebaiknya aku bersihkan dulu," jawab Veronica mengambil sapu tangannya.


"Tunggu, biarkan aku yang membersihkannya," kata Kak Carl mengambil sapu tangan dari Veronica dan membersihkan mulutnya.


Astaga, aku sudah tidak tahan ingin menghampiri mereka berdua untuk mengucapkan selamat, tapi hubungan mereka berdua belum tentu membaik karena ada Anna yang akan mengincar Kak Carl.


Kulihat, di belakang Kak Carl dan Veronica terlihat Anna yang berdiri dengan ekspresi wajah sedang marah.


Wajahnya menjadi membiru karena kesal melihat kemesraan Kak Carl dan Veronica.


"Veronica, kau tunggu saja nanti ….!" lirih Anna marah dan langsung pergi.


Apa katamu tadi? Tunggu saja? Lihatlah, target yang akan kubuat sial sekarang bukan Eliza dan Michelle, tapi kau, Anna.


Seingatku, hanya kalian bertiga saja yang tidak bisa berbuat baik walau hanya sedikit.


Aku baru sadar kalau Alice dan Veronica kini berpihak padaku secara diam diam.


Kemarin, Veronica terus meminta tolong padaku untuk membantunya melepaskan kontrak rantai Eliza.


Memang sulit untuk kukatakan, tapi cara yang bisa kulakukan sekarang bukan mengakhiri kontraknya dulu, tapi membuat Eliza, Anna, dan Michelle mengalami kekalahan dulu.


Tentu saja selama aku melakukan cara apapun, semuanya tidak terlihat puas di mataku. Untung saja ada Serlia yang mau membantuku, maka dendam untuk Eliza dan yang lain tidak akan membuatku bosan.


Sungguh menakjubkan!


Hei, aku baru sadar kalau aku hanya membahas masalah pribadi. Lanjut pada topik.


Targetku yang selanjutnya adalah Anna, seorang Putri Griseliyd yang memiliki sihir air.


Bukan hanya itu, ia juga bisa membekukan airnya hingga menjadi es.


Menyebalkan! Coba saja Kak Carl tidak mengembalikan sihirnya, pasti semuanya akan aman.


Mungkin Serlia mau membantuku.


"Serlia, target kita sekarang adalah Anna, sang perebut kekasih orang lain," bisikku pada Serlia.


"Memangnya kenapa target kita adalah seorang jala*g?" tanya Serlia berbisik.


"Bodoh! Tadi aku melihat Anna yang ingin mencelakai Veronica! Lebih baik kita menjebaknya sesadis mungkin!" bisikku lagi.


"Si rubah jala*g k*p*r*t itu ingin mengganggu kebahagiaan Carl dan Veronica ya? Mudah saja," jawab Serlia membisikku.


Akal sehatmu kacau lagi, tapi aku suka itu.


"Buatlah rencana selicik mungkin, agar Anna menjadi lengah!" kataku dengan penuh percaya diri.


"Hehe, apapun rencanaku, kau tenang saja. Siapapun yang melewati jebakanku, mereka akan masuk ke dalam jurangnya sendiri," jawab Serlia penuh keyakinan.


"Hmm, kurasa kau tidak perlu serius menanggapinya," kataku.


.


.


.


Beberapa menit kemudian ….


Kami berdua sudah selesai makan di kantin, saatnya menuju ke dalam kelas.


*Melangkah*


Whoa!


Druak!


Aduh, sakit sekali! Tunggu, ini bahkan lebih dingin daripada yang kupikirkan.


"Serlia, apa kau merasakan sesuatu yang sama?" tanyaku bingung.


"Yah, kakiku terasa dingin setelah tergelincir di lantai ini," jawab Serlia merasakan hal yang sama denganku.


Sebentar, jangan jangan ini adalah ulah Anna untuk mempermalukan Veronica!


Niat burukmu sudah ketahuan, saatnya kita mulai.


"Fire Splashing," ucapku.


Api keluar dari tanganku dan melelehkan lantai es ini menjadi normal kembali.


Sialan! Sekarang sepatu kaca hijauku menjadi basah karenamu, Anna!


"Untung saja rencana licik Anna ketahuan olehku. Serlia, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyaku menaikkan alis kananku.


"Ehm karena yang membuat kita tergelincir begini hanya untuk menjahili Veronica adalah Anna, maka diam saja itu bukan membawa kabar baik," jawab Serlia dengan tegas dan senang.


Yah, aku tahu sekali kesukaanmu, yaitu uji nyali!


Cukup, mari kita mulai menjebak Anna. Setahuku, Anna sangat takut pada api, lumpur, serangga, hewan liar, dan lainnya.


Kalau seorang Putri takut pada semuanya terkecuali manusia, apakah itu pantas di sebut sebagai Putri Kerajaan?!


Menjijikkan!


Astaga, aku harus bersembunyi dulu! Anna sudah lewat di dekat sini!


"Serlia, ayo sembunyi!" bisikku menarik tangan Serlia dan membawanya bersembunyi di balik tiang.


"Aneh, es yang kubuat ada di mana?" tanya Anna pada dirinya sendiri karena merasa bingung.


Anna, ternyata kau lebih bodoh daripada kami berdua Serlia. Dasar ….!


"Fire Splashing," ucapku berbisik.


Semburan api tiba tiba keluar dari mulutku begitu saja sehingga membakar gaun ungu kesayangan milik Anna.


Aaaarrrrgggghhhhhhh!!!!!!


"Gaun kesayanganku! Aku harus menyiramnya sebelum terbakar!!!" teriak Anna dengan panik.


"Watery Splashing," ucapnya.


Byur!


Haha, lihatlah dirimu yang basah kuyup ini! Aku sangat menyukainya!


"Cath, ternyata kau memiliki sihir rahasia yang tidak kau tunjukkan padaku," kata Serlia meledekku.


Benar juga, sihir yang kuucapkan sebelumnya keluar dari tangan kananku, dan sekarang keluarnya dari mulutku?


Serius? Padahal menyembur adalah hal yang tidak kusukai.


"Aku benci menyembur," jawabku dengan kasar.


"Haha, aku baru tahu kalau ada seorang Putri yang tidak suka menyembur," kata Serlia tertawa diam diam.


"Jadi, kau suka menyembur?" tanyaku bingung.


"Benar, karena menyembur itu menyenangkan," jawab Serlia dengan riang gembira.


Ehk, kau kekanak kanakan sekali, Serlia.


Meskipun kau suka menyembur seperti anak kecil, tapi akal sehatmu kadang bisa menjadi gila juga.


Ah! Saphira, fokuslah pada Anna yang sedang basah kuyup ini!


"Sialan! Gaunku jadi basah begini karena api yang datang entah darimana! Apa boleh buat kalau aku tidak membawa gaun cadangan, aku terpaksa pergi ke ruang Penyihir untuk meminjam gaun lagi," keluh Anna kesal dan pergi menuju ruang Penyihir.


Untung saja persiapan sudah lengkap, termasuk gaun jelek yang tersedia di lemari ganti.


Semua persiapan itu membutuhkan waktu yang lama, jadi tolong hargai usahaku dan Serlia ya, Anna jala*g.


"Mau ke ruang Penyihir? Tenang, kejutan sedang menantimu," kata Serlia diam diam tersenyum licik.


Seperti biasa, Serlia suka melakukan hal berbahaya dengan seenaknya.


Bahkan gaun bagus saja di ubahnya menjadi gaun jelek yang kotor, berdebu, dan usang.


"Yah, kita nantikan saja pertunjukkannya nanti," jawabku juga tersenyum licik.


Gawat, aku lupa kalau Veronica akan masuk kelas sebentar lagi. Sebaiknya aku perbaiki lantai licin ini dulu.


"Fire Splashing," ucapku.


Api keluar dari tangan kananku dan melelehkan sekaligus mengeringkan lelehan es nya.


Sekarang, kau bisa lewat, Veronica.


Tak lama kemudian ….


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


Bel masuk kelas telah berbunyi. Kutarik tangan kiri Serlia dengan kuat dan membawanya berlari menuju ke kelas.


"Catherine, jangan berlari seperti ini!" teriak Serlia menyuruhku untuk tidak berlari.


Diam! Kau terlalu banyak basa basi! Sebaiknya nikmatilah angin gratis dariku selama kau ikut berlari bersamaku!


"Sebentar lagi, kita akan sampai di kelas. Maaf kalau aku tidak bisa melepaskannya," jawabku meledek Serlia.


.


.


.


[Bersambung]