
Setelah beberapa detik, kami berdua sudah sampai di kamar mandi.
Kubasahkan rambutku dan membersihkannya dengan terburu buru.
Semua ini karena Eliza yang sifatnya seperti sampah! Aku semakin benci padanya!
Terpaksa kulepaskan gaunku dan mandi menutup diriku menggunakan gorden penutup.
Maaf, agak merepotkan setelah terkena sampah bau ini, untunglah aku punya gaun cadangan berwarna biruku meskipun aku tidak terlalu menyukainya.
*Suara air*
Di zaman ini belum memiliki shower, jadi mau tidak mau aku terpaksa menggunakan ember kecil.
"Duh, ternyata menghadapi orang gila itu tidak mudah! Sampah saja di buangnya ke depanku!" gerutuku kesal.
"Cepatlah, aku menunggumu," kata Serlia dari luar.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan selesai," jawabku dari dalam.
Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai mandi. Sekarang, aku dan Serlia sedang berada di jalan menuju ke kelas.
Gaun biru milikku ini tidak terlalu berkelas, aku tidak suka!
"Aku benci warna biru," kataku kesal.
"Memangnya kenapa? Bukankah warna biru itu bagus?" tanya Serlia bingung.
"Bagaimana cara menjelaskannya? Warna biru terlihat jelek di mata Emeraldku. Itulah sebabnya aku tidak menyukai warna biru," jawabku.
"Begitu ya, lumayan bagus juga seleramu," kata Serlia.
Bagus kepalamu! Dulu, aku sangat menyukai warna biru karena mataku yang mirip dengan Ibuku, yaitu biru sapphire. Itulah asal usul dari namaku, yaitu Saphira.
Saphira Kanaya, yang artinya "Batu biru murni" bukan? Meskipun namaku sangat bagus, tapi itu tidak sebagus dengan kepribadianku.
Tiba tiba ….
Buam!
Ledakan terjadi ketika aku tidak sengaja menginjak lantai ungu ini.
Kutarik tangan kanan Serlia dan membawanya pergi ke tempat sembarang arah.
Buam!
"Bahaya sekali, aku harus pergi dari sini!" kataku berusaha kabur.
Buam!
"Siapa yang membuat ledakan ini?!" tanya Serlia bersuara keras.
"Jangan tanya aku!" jawabku terus berlari.
Kau terlalu banyak bertanya, aku tidak tahu harus menjawab apa lagi!
Buam!
Argh!
Kutersungkur ke lantai akibat dari ledakan itu. Apa yang membuat lantai di sini meledak?! Aku jadi bingung dengan situasi.
Bukan, kalau di lihat baik baik, ini bukan berasal dari lantai, melainkan ada yang menggunakan sihir peledak.
Siapa mereka?! Apa yang mereka inginkan?!
*Menoleh ke belakang*
Louis?! Hans?! Helson?! Sejak kapan kalian datang?! Pengganggu!
"Untuk apa kalian datang ke sini dan memainkan sihir ledakan kalian?" tanyaku datar.
"Heh! Pura pura tidak tahu!" jawab Hans mengarahkan telapak tangannya ke arahku.
"Gun Boomer," ucap mereka bertiga bersamaan.
Ledakan itu muncul dari tangan mereka bertiga dan mengarah padaku.
Buam!
Sial! Tidak ada waktu untuk menghindar! Darimana datangnya sihir konyol itu?! Jangan bilang kalau mereka sebenarnya ….
"Serlia, jangan menghindari serangannya! Semakin kau menghindarinya, semakin kuat tembakannya jika ledakan itu mengarah padamu!" teriakku memberitahu Serlia.
"Benar benar merepotkan! Pasti mereka datang karena wajah Eliza yang kau siram tadi!" jawab Serlia berusaha untuk tidak menghindari celahnya.
Hanya gara gara kusiram Eliza, para kembar itu ingin membunuhku? Apakah mereka bertiga ini sungguh Pangeran?!
Kau gila, Eliza! Keluarga Arshleyer sudah memberikan segalanya padamu!
Yang lebih parah lagi adalah, caramu berterima kasih pada kami adalah membunuh Ayah dan Ibuku?!
Dasar anak yanh tidak tahu terima kasih! Meskipun Ibumu di bunuh oleh Ibuku, setidaknya mereka masih ingin membesarkanmu!
Heh! Aku tidak akan tinggal diam!
"Charcoal Armor," ucapku.
Sebuah perisai arang muncul di tanganku dan menghalangi serangan ledakan itu.
Haha! Lihatlah sihir perisai yang sudah kulatih selama bertahun tahun ini!
Ternyata, sihir ke 169 bisa membawa keberuntungan juga ya, aku tidak menyesal setelah berlatih bersama Pengawal Pengawal.
Ck!
"Gadis kecil sepertimu ternyata licik juga. Baiklah, kami menyerah," kata Louis pasrah sambil berdecak kesal.
Dengan cepat, mereka bertiga pergi secara bersamaan tanpa ada yang mengetahuinya.
"Remove magic," ucapku.
"Fiuh, aku lega juga," kataku sedikit lega.
"Lega kepalamu! Aku hampir saja mati karena serangan mendadak dari mereka bertiga," jawab Serlia kasar.
Haih, bicara kasar adalah kebiasaanmu bukan? Untunglah aku tidak pernah tersinggung dengan ucapan kasar apapun.
"Baik, aku mengerti dengan apa yang kau katakan. Sekarang, kita kembali ke kelas," kataku sedikit kesal.
"Ayo," jawab Serlia singkat.
Tanpa pikir panjang lagi, kami berdua pergi menuju ke kelas dengan aman tanpa ancaman
________________________________________________
Beberapa jam kemudian ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel istirahat telah berbunyi. Seperti biasa, kami berdua Serlia pergi ke kantin untuk makan siang.
Tanpa sengaja, kulihat adegan di mana Anna sedang menyiksa Veronica dengan cara melukai dan mencambuknya.
Ctar!
Argh!
"Apa yang kau lakukan padaku?!" tanya Veronica berusaha menahan sakit.
"Jangan pura pura tidak tahu, jala*g! Kau ingin makan siang bersamanya, bukan?" tanya Anna tersenyum miring.
Ctar!
Di cambuk?! Dasar gila, berani beraninya kau mencambuk Putri terhormat dari Kerajaan Belstreyd!
"Aku bukanlah perempuan hina seperti kau! Jadi, jangan panggilku dengan sebutan jala*g!" kata Veronica kasar.
"Kau ….!" jawab Anna yang ingin mencambuknya, tapi tangannya di tahan olehku.
Berani melukai calon Kakak Iparku yang tidak bersalah ini, akan kupatahkan tanganmu yang belum sembuh ini!
"Jangan melukai Kakakku, jala*g pelac*r yang tidak tahu diri!" kataku mematahkan tangan Anna hanya dengan sekali sentuh.
Crack!
Akh!
"Sakit sekali ….! Akan kukatakan baik baik kalau aku bukan jala*g pelac*r seperti kau bilang tadi!" jawabnya kasar.
Plak!
Bukan jala*g pelac*r katamu? Aku masih ingat dengan perkataan Veronica tentang kau yang pernah menipu 1000 laki laki di dunia ini!
Akan kuingat kata katanya dan menghabisimu tanpa syarat dari siapapun.
"Diam atau kubunuh kau," kataku datar.
Melihat tatapanku, Anna bergidik takut hingga membuatnya berlari meninggalkan Veronica.
Belum sempat pergi, Serlia menarik rambutnya dan mengangkatnya ke atas udara.
Akh!
"Sakit ….! Serlia?! Bagaimana kau bisa ada di sini?!" tanya Anna terkejut.
"Pertanyaanmu membuat telingaku sakit. Sebaiknya kau enyahlah dari hadapanku!" jawab Serlia kasar dan membuang Anna sehingga terjatuh ke lantai.
Bruk!
Argh!
Yang kudengar daritadi hanya suara jeritan sakit darimu! Aku lelah mendengarnya.
Tanpa basa basi lagi, Anna pergi dari hadapanku dan Serlia.
Eh? Luka Veronica sangatlah dalam dan parah ….!
Lebih baik kuobati saja lukanya.
"Healing Miracle," ucapku.
Berlahan lahan, luka di tubuh Veronica menghilang. Syukurlah, luka Veronica cepat juga hilangnya.
"Baik, lukanya sudah hilang. Kau bisa bergerak lagi, Veronica," kataku tersenyum.
Veronica merasa tersentuh dengan kata kata maupun perbuatanku.
"Terima kasih telah menyelamatkanku, dan maaf tentang perbuatanku yang dulu," jawab Veronica tak lupa juga mengatakan kesalahannya.
Tentang kontrakmu dengan si jala*g cabe merah Eliza itu ya? Aku mengerti perbuatan dan niat baikmu.
Perbuatanmu akan kumaafkan, Veronica ….
"Biarkan masalah itu berlalu, yang penting aku sudah memaafkanmu," kataku tersenyum bahagia.
.
.
.
[Bersambung]