The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 106



Aku baru sadar kalau tangan Samson ada di bahuku.


"Bisakah kau singkirkan tanganmu dari bahuku? Aku sama sekali tidak suka jika bahuku di sentuh oleh siapapun selain kedua Kakakku," kataku kesal.


*Menyingkir*


"Sudah, bagaimana sekarang? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Samson.


"Akan lebih baik jika kau pergi dari sini," jawabku semakin kesal.


Kak William hanya diam saja melihat kami berdua berdebat. Cuacanya semakin dingin …., aku mau pulang ….


Grrr!


"Apakah Kakak akan pulang sekarang? Aku sudah sangat kedinginan ….," kataku gemetaran.


"Baiklah, aku akan memanggil Carl dan mengajaknya pulang bersama," jawab Kak William tersenyum menatapku.


Jangan basa basi lagi, cepat bawa aku pulang!


...


Keesokan harinya ….


Hoam~


Aku sedang berada di kamar Kak Carl karena semalam hampir saja aku demam dan masih dalam posisi berbaring.


Kak Carl memberikanku segelas herbal madu dan mint untuk kuminum semalam dan membawaku ke kamarnya lalu menemaniku tidur.


Astaga, apakah hanya aku yang berpikir kalau Kakak kedua selalu tidak keberatan saat menjagaku?


Sudahlah, yang kulihat sekarang adalah wajah Kak Carl yang masih tertidur.


Pantas saja Veronica menyukai Kak Carl, karena sifat setia dari Kakak sama sekali tidak pernah berubah.


Sebenarnya sejak kapan Kak Carl menyukainya? Kenapa akhir akhir ini aku jadi penasaran?


*Membuka mata*


Kak Carl sudah bangun dan aku terus menatap wajahnya yang tampan.


Cup~


"Selamat pagi, Catty," kata Kak Carl tersenyum," kata Kak Carl mengecup keningku.


Hanya inilah yang kuterima setiap pagi jika tidur bersama Kak Carl.


Cup~


"Selamat pagi juga, Kakak," jawabku membalas kecupannya, tapi di pipinya.


Wajar saja kami melakukannya karena kami adalah saudara Kandung yang selalu bersama dari kecil.


Masih dalam posisi berbaring, kini aku di peluk olehnya.


Hangat, apakah rasa dingin di tubuhku belum hilang?


"Apa kau sudah sembuh?" tanya Kak Carl sambil memelukku.


"Sedikit," jawabku singkat.


Sebentar lagi natal akan tiba, apakah kita tidak menyiapkan sesuatu yang meriah dan indah?


Kurasa, kembang api di hari natal ini akan lebih bagus lagi daripada beberapa hari yang lalu.


"Ngomong ngomong, apakah kita tidak bersiap siap untuk natal tanggal 25 nanti? Padahal aku sangat menantikannya," kataku menatap Kak Carl.


"Kakak tahu, tapi ini belum waktunya untuk menyiapkan semuanya," jawab Kak Carl santai.


Bagaimana cara menjelaskannya? Padahal aku sangat menantikan hari natal.


Sebentar, ada apa dengan diriku? Kenapa kepalaku pusing lagi? Terlebih lagi, suhu badanku kembali dingin ….


Apa yang sebenarnya terjadi padaku ….?


"Kakak, kenapa kepalaku pusing? Badanku juga kembali dingin seperti kemarin," lirihku sambil menutup telingaku dengan menggunakan bantal yang kubaring.


"Apa?! Bagaimana ini bisa terja ….," jawab Kak Carl yang belum sempat menyelesaikan ucapannya.


Entah apa yang ada di depan mataku sekarang, aku hanya bisa melihat Eliza yang duduk di bawah kasurku.


"Pergi kau, sialan! Aku tidak melihatmu, dasar Eliza!" kataku marah.


Carl POV


Kenapa Catty tiba tiba marah begini? Mata hijaunya berkilau bersama rambut Golden Blonde miliknya.


Tunggu, itu artinya ….


*Bangun*


"Catty, sadarlah! Kendalikan dirimu!" teriakku menghentikan Catty yang masih terbaring dengan ekspresinya yang sedang marah.


Tidak mungkin, ini adalah situasi ….


*Bangun*


Catty terduduk di kasur dan menarik kerah bajuku. Apakah ini adalah efek kekesalan dari seorang Putri berbangsa Thrynira?


Sama sepertiku, saat aku kehilangan kendali, yang kulihat adalah Eliza.


Sayangnya, aku berasal dari bangsa Dristiria, berbeda sekali dengan Catty. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman setelah memeluk Adikku sendiri.


Setahuku, Ibu juga pernah seperti Catty karena melihat Arlia jala*g dan cara menenangkannya adalah membuatnya berendam di air panas selama 1 setengah jam.


Apakah aku harus membawa Catty ke kamar mandi untuk menenangkannya? Tangannya sama sekali tidak berhenti memukulku.


Kupeluk tubuhnya seerat mungkin dan mengelus kepalanya seolah menyuruhnya tenang.


"Kumohon jangan berbuat hal yang tidak baik pada Kakakmu sendiri, Catty …. sadarlah ….," lirihku memeluk erat tubuhnya.


Mendengar perkataanku, air mata Catty tak sengaja keluar secara tiba tiba sehingga membuatnya pingsan di pelukanku.


Catty, bertahanlah, aku pasti menolongmu.


Kuangkat tubuhnya dan bangun dari kasur. Melihatnya yang tak sadarkan diri ini, mengingatkanku kepada Veronica yang mabuk bulan lalu.


Sudahlah, kubawa saja dia ke kamar mandi dan membuat badannya berendam di kolam air panas milikku.


...


Di luar kamar mandi ….


Sudah 35 menit kumenunggu di luar kamar mandi, apakah Catty sudah selesai.


Sebelum itu, akulah yang melepaskan semua pakaiannya dan merendamkan tubuhnya dalam keadaannya yang tidak sadar.


Jangan salah paham, aku sama sekali tidak melihat tubuh Adikku yang polos, sama sekali tidak pernah, karena aku melepaskan pakaiannya dengan mata tertutup.


Mau bagaimana lagi? Di sini sama sekali tidak ada seorangpun Pelayan yang ingin melayaninya. Terlebih lagi, Catty tidur di kamarku karena demam semalam.


Untunglah dia tidak demam lagi, aku merasa lega ketika melihatnya yang kembali sehat.


Tapi, apakah ada sesuatu yang merasuki tubuh Catty? Kalau tidak, kenapa hari ini ia terasa sangat aneh dari biasanya?


Ataukah jangan jangan, kekuatan asli Catty sudah muncul?


Aku tidak mau ia terjatuh ke dalam jurangnya sendiri dan membiarkannya terluka.


Janjiku kepada Yang Mulia Lynlia tidak boleh kuingkar, karena melindungi Adikku sekarang adalah tanggung jawabku dan ketulusan hatiku yang sangat menyayanginya.


Adik Kandungku satu satunya yang pintar dan berani, itulah Adik yang paling kusayangi daripada kembaranku sendiri.


Yang kumaksud adalah William, seorang Raja sekaligus Kakak yang hampir gagal menjaga Adiknya hanya karena sebuah surat ancaman.


Aku sendiri merasa sedikit keberatan jika William yang menjaga Catty. Bisa di bilang, aku tidak mau Catty berada di pelukan Kakak pertamanya selain aku yang boleh memeluknya.


Apakah aku cemburu? Tentu saja, karena aku memang menyayangi Adikku.


Lantas, bagaimana reaksiku ketika melihat Veronica bersama laki laki lain walaupun hanya teman bahkan sahabatnya?


Yah, orang yang berani mendekatinya akan kukuliti hidup hidup dan kubuang tubuhnya untuk di beri makan beruang.


Begitulah, berlahan lahan hatiku mulai mengenal cinta dan kasih sayang sejak aku terlahir di keluarga Arshleyer.


Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir lagi. Sekarang, khawatirkanlah kondisi Catty yang sulit kutolong.


...


Di kamar mandi ….


Saphira/Carherine POV


Ugh, kenapa rasanya sangat panas dan basah? Apakah aku sedang mandi?


*Membuka mata*


Kamar mandi Kak Carl? Bagaimana aku bisa berada di sini? Dan, sejak kapan pakaianku di lepaskan semua? Apakah ini ulah Kak Carl yang ingin memandikanku?


Astaga, semoga saja tubuhku yang polos dan tidak ada apa apa ini tidak di lihat olehnya.


*Blushing*


"Apakah Kak Carl benar benar tidak melihatnya? Aku jadi malu," batinku.


.


.


.


[Bersambung]