
"Eliza memiliki warna mata biru, dan warna rambut yang sama dengan Yang Mulia Ratu Arlia, yaitu merah"
"Tapi, dia berinisiatif untuk mengambil sebagian Kerajaan milikku, Arshleyer!"
"Jadi kumohon, tolong bawa dia kembali dan angkatlah dia menjadi Putrimu"
"Kau pasti akan tertarik setelah melihatnya, Yang Mulia," jelasku secara panjang lebar.
Berlahan lahan, Raja Arsula mulai mengerti dan memutuskan untuk membebaskan kami berdua.
Tapi ….
"Baik, aku akan membebaskan kalian berdua. Dan satu lagi, perang akan di mulai besok," jawabnya dengan dingin.
Besok?! Apakah ini tidak terlalu cepat?! Ini tidak bisa di biarkan, aku harus melaporkannya pada Kak William dan yang lainnya!
.
.
.
Malam hari ….
Aku sudah berada di kamar mandi dan sedang mandi dengan air panas.
Rasanya, pikiranku masih belum tenang sampai sekarang. Perang akan di mulai besok, terus bagaimana dengan Eliza?
Orang itu memang harus di ikat di tiang, dan membiarkannya seperti umpan hingga musuh datang menyerang.
Untung saja, aku berhasil membuat Raja Arsula percaya, kalau tidak maka aku dan Serlia tidak akan bebas.
Hmm, kira kira, berapa orang yang akan ikut perang? Sekolah juga di liburkan karena masalah peperangan.
Aku harus mempersiapkan diri, jangan sampai diriku terkena bahaya walaupun hanya sedikit.
Huft~
"Ini bahkan lebih sulit daripada yang kupikirkan," kataku menyandarkan kepalaku pada dinding.
Akhirnya, aku sudah selesai berendam, saatnya ganti pakaian.
Kupakai gaun tidur merah jambu yang tidak terlihat mencolok karena warnanya yang sedikit gelap.
Setelah selesai, kukeluar dari kamarku dan pergi menuju ke ruang Penyihir untuk bertemu dengan Serlia.
Jangan sampai aku bertemu dengan Michelle yang kebetulan sekamar dengan Serlia.
Berlahan kuberjalan ke arah pintu dan mengetuknya pelan pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
Hanya 3× saja sudah cukup, tidak perlu berlebihan.
Ceklek~
Pintunya terbuka! Semoga saja itu adalah Serlia!
"Untuk apa kau malam malam ke sini?! Pasti ingin bertemu dengan Serlia br*ngs*k itu!" kata orang yang membuka pintunya yang ternyata adalah Michelle.
Aku sama sekali tidak mengharapkanmu! Dasar perempuan gila!
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berbicara secara pribadi dengannya," jawabku kesal.
"Berbicara? Secara pribadi? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Michelle penasaran.
Bagaimana mungkin aku memberitahunya, ini sangatlah pribadi.
"Ehm, aku tidak bisa memberitahunya! Apakah Serlia ada di sini?" tanyaku.
"Maaf, Serlia sudah tidur!" jawab Michelle kasar.
Brak!
Dasar, pintu saja sampai di tutup kasar seperti itu! Sama menyebalkan dengan Eliza!
Besok saja aku membicarakannya dengan Serlia.
Berjalannya aku di tengah lorong, kumenuju ke perpustakaan untuk menenangkan pikiranku.
Kumasuk ke dalam dan kulihat Kak William yang sedang duduk di sofa. Terlihat dia yang sedang membaca buku dengan ekspresi wajah yang sedih.
Apa yang sedang kau pikirkan, Kak?
"Heh, andai saja kalau aku tidak menuruti surat yang di tulis oleh Eliza, pasti Catherine tidak akan tersakiti begini," lirih Kak William yang terdengar di telingaku.
Aku tahu perasaan sedihmu, maka aku tidak tinggal diam seperti dirimu, Kak. Tenanglah, Serlia yang akan membantuku menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Lebih baik aku pergi saja agar Kak William tidak melihatku.
Kuberlari menuju ke arah taman berada dan sampai dalam waktu 3 detik.
Cahaya bulan purnama hari ini benar benar indah bagaikan para kunang kunang sedang menyinari danau.
Angin sejuk juga berhembus hembus sehingga membuatku merasa tenang.
Kududuk di kursi taman yang kosong dan memandang ke atas langit malam.
Huft~
"Sekali kumemandang langit, entah kenapa suasana hatiku mulai membaik," kataku bersandar di kursi.
Syuuh~
Puk~
"Cath, kenapa kau memanggilku?" tanya orang itu yang tak lain adalah Serlia.
Lama sekali datangnya! Aku lelah terus menunggu di sini.
"Ada yang ingin kubicarakan," jawabku to the point.
Langsung saja, aku tidak mau duduk di sini terlalu lama.
"Cepat, aku sudah tidak sanggup berada di luar," kata Serlia duduk.
"Mungkin pembicaraan kita akan panjang"
"Kata Raja, perang akan di mulai besok dan Kerajaan Arshleyer siap siap hancur"
"Tujuan kedatangan mereka adalah karena Eliza, mereka ingin membawanya kembali"
"Louis, Hans, dan Helson adalah 3 kembar yang menangkap kita kemarin sekaligus Kakak dari Eliza"
"Kurasa, pagi buta besok kita bisa mengikatnya langsung," jelasku dengan serius.
Mendengar penjelasanku, Serlia berlahan lahan mengerti dan menyetujui pendapatku.
"Bagus, kita diam diam menculiknya saja. Setelah menculiknya, kita bawa dan ikat dia di tempat tiang halaman kita"
"Huh, jangan lupakan Michelle juga," kata Serlia menggosok kedua telapak tangannya.
Idemu selalu saja bagus daripada punyaku, aku hanya bisa mengharapkanmu. Maaf kalau aku belum bisa berusaha.
Di kehidupanku yang sebelumnya, temanku tidak peduli padaku. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Saat ada bahaya, mereka hanya mengharapkanku, tapi itu cuma sebentar. Mereka sengaja memanfaatkanku demi keuntungan mereka sendiri.
Tapi, kalau di kehidupan baruku, ada yang peduli padaku meskipun dia adalah orang yang tidak kukenal pertama kali.
"Baiklah, aku percaya padamu," jawabku dengan wajah yang penuh keyakinan.
Sudah saatnya aku tidur, ini menjelang tengah malam ….
"Aku kembali ke kamar dulu, selamat malam," kataku dengan santai berjalan masuk ke Istana.
"Malam juga," jawab Serlia singkat.
.
.
.
Keesokan harinya ….
Hoam~
Untunglah apa yang kulakukan bersama Serlia sudah beres. Pasti Eliza dan Michelle akan terkejut nantinya.
Hehe~
"Karena perang di mulai tidak lama lagi, aku akan bersiap siap.
Di luar ….
Eliza POV
Ugh, kenapa badanku sesak sekali? Punggungku juga sedikit sakit, seperti aku sedang bersandar di balik tiang.
Berlahan lahan kubuka mataku, yang kulihat adalah ….
"Tumpukan jerami di bawah kakiku?! Dan, badanku terikat dengan rantai?! Catherine sialan!!!" teriakku kesal.
Eh? Michelle tidur di tumpukan jerami itu? Cepat bangun, kita berdua sudah di jebak oleh b*j*ng*n Catherine dan Penyihir pribadinya itu!
Hoam~
"Kenapa kau berisik sekali, Eliza?" tanya Michelle menguap.
"Lihatlah diriku ini! Kita berdua di jebak oleh Catherine dan Penyihir sialannya!" jawabku marah.
"A …. apa katamu?! Catherine dan Serlia telah menjebak kita? Maksudmu, mereka berdua membuang kita keluar?" tanya Michelle bingung.
"Bodoh! Kau tidak lihat kalau aku di ikat dan kau tidur di atas jerami?!" jawabku semakin kesal karena kebodohan Michelle.
"Jerami?! Itu adalah benda menjijikkan yang paling aku benci! Bagaimana bisa dua orang gila itu menjebak kita?!" kata Michelle setengah kesal.
"Jangan tanya aku, yang terpenting adalah lepaskan rantai ini dari tubuhku!" jawabku marah.
"Ayolah, rantaimya terlalu kuat untuk di lepaskan. Aku akan mencari bantuan saja," kata Michelle terburu buru berlari meninggalkanku.
Terus, bagaimana denganku?! Tolong jangan tinggalkan aku sendiri! B*j*ng*n kau, Michelle!
.
.
.
[Bersambung]
~Pemberitahuan:
Boleh minta waktu sebentar gak? Soalnya Author hanya mau bilang, jangan lupa mampir ke karya ketiga Author ya, judulnya:
•Future Zodiac
Habisnya karya di sebelah sepi sih, makanya Author mau ramein. Semoga suka ya.