
Di dalam kelas 1-♪ ….
Sepertinya aku merasakan firasat buruk.
Tunggu, apakah Eliza di bawa ke ruang Penyihir?! Tidak, ini tidak bisa kubiarkan!
Aku harus segera pergi ke ruang Penyihir untuk menahannya.
"Awas saja kau, Eliza! Aku tidak akan membiarkanmu masuk begitu saja!" lirihku sambil berlari keluar dari kelas.
Aku terus berlari memandang ke depan tanpa mempedulikan apa apa.
Akhirnya, aku sudah sampai di ruang Penyihir. Sebaiknya aku menyamar saja.
Sementara itu ….
"A …. Alice, aku sudah tidak tahan lagi ….," lirih Eliza yang tampaknya tidak kuat lagi.
"Ba …. baiklah, Eliza, kita akan segera sampai," jawab Alice terburu buru.
Mereka berlima sudah sampai di ruang Penyihir untuk menyembuhkan stress Eliza.
Hehehe, aku tidak akan membuat Eliza sembuh begitu saja.
"Silahkan masuk, murid muridku," kataku meniru cara bicara Penyihir yang telah kusekap.
Eliza dan keempat lainnya hanya mengangguk dan masuk membuka pintu berlahan.
Clek~
Suasana yang di rasakan mereka berlima tampak dingin dan menyeramkan.
Inilah yang kutunggu tunggu daritadi! Ayo mulai berakting, Saphira.
"Selamat datang di ruang Penyihir, apakah ada yang bisa kubantu?" tanyaku berakting.
"Ehm, bisakah anda menyembuhkan sakit Eliza? Dia terlihat sakit saat melihat kadal jamur merah tadi," jawab Alice dengan sopan.
"Baiklah, ayo ke sini, Eliza," kataku menyuruh Eliza datang padaku.
Eliza hanya mengangguk dan berjalan ke arahku.
Rencana di mulai!
"Biarkan kuperiksa tanganmu sebentar," kataku memegang tangannya.
Aku tidak merasakan apapun yang aneh, Eliza baik baik saja.
Ha~, dengan sedikit kebohongan, maka itu akan membuat Eliza semakin menggila.
"Ehem, aku merasakan adanya racun yang di tularkan dari hewan kadal jamur merah. Berdasarkan ilmu sihirku, racun itu tidak akan sembuh jika kau mendekati kadal itu," jelasku berbohong.
Berbohong? Tentu saja aku akan berbohong demi dendam! Eliza, aku akan membuatmu di hantui dengan rasa takut yang berlebihan.
Eliza terkejut membulatkan matanya, karena kebohonganku.
"Ti …. ti …. tidak bisa sembuh? Ini tidak mungkin!" teriak Eliza.
Uh, keras sekali teriakan mautmu itu! Telingaku mau pecah setelah mendengarnya!
"Kami permisi dulu ya, terima kasih telah memberitahu kami," kata Alice secara sopan.
Aku hanya mengangguk pelan mendengarnya dan mereka berlima langsung pergi dari ruang Penyihir.
Untunglah, aku bebas dari mereka berlima. Lebih baik, aku pergi ke tempat di mana Penyihir itu kusekap.
Setelah sampai, kuhampiri Penyihir itu dengan memasang tatapan membunuh.
"Rencanaku sudah selesai. Kukembalikan semua alat penyamaranmu. Dan satu lagi, jangan memberitahu siapapun tentang kebohonganku tadi, mengerti?!" kataku menatap Penyihir itu dengan tajam.
Sudahlah, lebih baik aku pergi saja dari sini, lagipula tidak ada gunanya kalau aku terus berada di ruangan tua ini.
Jam pulang sekolah ….
Seperti kemarin, aku pulang bersama Kak Carl dan cabe merah Eliza.
Kami masuk ke dalam kereta satu per satu. Anehnya, kemarin Eliza marah marah padaku.
Tapi, sekarang kami berada di dalam kereta. Eliza terus berdiam diri tanpa mengatakan apa apa.
Wajahnya terlihat pucat seperti mayat hidup. haha, mayat hidup.
Kak Carl jadi heran dengan sikap Eliza yang tampak murung setelah pulang sekolah.
"Eliza, ada apa denganmu? Akhir akhir ini kau terlihat murung saja. Apa kau bertengkar lagi dengan Catty?" tanya Kak Carl heran dengan sikap Eliza.
Eliza hanya menggelengkan kepalanya.
Tentu saja ia murung sekali. Itu semua karena kadal jamur merah dan kebohonganku yang membuatnya ketakutan begini.
"Kak, mungkin Kak Eliza hanya mengantuk saja," jawabku polos.
Mendengar apa yang kukatakan, Eliza menghentakkan kakinya hingga membuat aku, Kak Carl, dan Prajurit yang sedang mengendarai kuda.
Trak!
"Diam, Cath! Kau tahu apa tentangku?! Baru saja aku di buat takut dengan kadal itu dan sekarang aku tidak bisa sembuh dari penyakit rasa takutku!" bentak Eliza marah pada Catherine.
Mulai berakting, Saphira!
"Kadal jamur merah," jawab Eliza cemberut.
"Kak Eliza, apakah Kakak sedang marah padaku?" tanyaku sekali lagi.
"Hentikan! Jangan terlalu banyak bicara!" jawabnya marah padaku.
Kasar sekali sih, padahal aku hanya bertanya saja.
Perasaan buruk apa lagi ini? Kenapa setiap aku bertengkar dengan Eliza, aku selalu merasa ada aura menyeramkan yang tidak tahu datang darimana?
Jangan jangan ….
Astaga, Eliza menjadi gemetaran setelah menatap Kak Carl.
Kumohon, jangan membuatku takut, Kak ….
"Sekali lagi kau marah pada Catherine maka mulutmu akan kupotong!" kata Kak Carl datar.
"Ba …. baiklah, Carl ….," jawab Eliza gemetaran.
Entah mengapa, aura menyeramkan Kak Carl ada pada bola matanya.
Sungguh menyeramkan ….
Suasana kembali menjadi hening ….
Kami hanya diam dan menunggu kereta kuda sampai di rumah.
Aku yang duduk di samping Kak Carl tiba tiba saja mengantuk dan tanpa sadar aku bersandar di bahu Kak Carl.
Aduh, untuk kedua kalinya aku tidak bisa ikut makan malam bersama keluarga.
Melihatku yang tertidur pulas, Kak Carl terkekeh karena wajah tidurku yang di kira manis.
Tentu saja aku manis, ini adalah tubuh Catherine yang masih berusia 7 tahun.
Tiba tiba, Eliza marah tidak jelas melihatku yang bersandar di bahu Kak Carl.
"Catherine, suatu saat nanti aku akan membuatmu kehilangan kasih sayang dari keluargamu, termasuk Carl!" gumam Eliza sedang memarahiku.
Crack!
Trak!
Akhirnya kereta kuda telah berhenti tepat di Istana Arshleyer.
Karena aku sudah tertidur, Kak Carl hanya bisa menggendongku masuk ke dalam.
Terkecuali Eliza yang berjalan terus ke depan sambil memasang wajah kesal.
"Kenapa selalu Catherine yang dapat perhatian dari Carl? Apakah aku adalah sampah di rumah ini? Tidak mungkin, aku adalah anak Kandung yang tidak pernah di anggap di keluarga ini," lirih Eliza mengerutkan alisnya.
Seperti biasanya, seorang Pangeran maupun Putri pasti akan di sambut di keluarga ini secara sopan.
"Selamat datang, Pangeran dan Putri"
Semua Pelayan itu mengatakannya secara bersamaan sambil menundukkan kepalanya.
Aku tidak mungkin sadar dengan situasi seperti ini, karena aku sudah tertidur.
Tak lama kemudian, Ayah dan Ibu datang menghampiri Kak Carl.
Mereka berdua bingung denganku yang sudah tertidur pulas.
"Carl? Ada apa dengan Catherine?" tanya Ayah bingung.
"Catty daritadi tertidur karena lelah berada di sekolah. Sepertinya, ia tidak dapat makan malam bersama kita lagi," jawab Kak Carl.
Bagaimana aku mau makan malam? Setiap pulang sekolah, rasanya ingin sekali aku memeluk bantal.
"Tidak apa apa, tolong bawa Catherine ke kamarnya. Biarkan ia tidur hingga besok," kata Ibu memyuruh Kak Carl untuk mengantarku ke kamar.
"Baik, bu," jawab Kak Carl singkat dan langsung membawaku ke kamar.
Tadinya Ayah dan Ibu sudah berbicara dengan Kak Carl, sekarang giliran Eliza yang berwajah pucat.
"Eliza? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Ayah datar.
"Gara gara aku melihat kadal," jawab Eliza mengerutkan alisnya.
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Bagi yang mau tahu Visual Carl, belakangan dulu ya, soalnya belum ada Visual yang cocok untuk Author.
Btw, kalau mau tahu Visual Anna sang Putri Angkuh, narsistik, dan jal*ng itu, bisa di lihat di bawah ya: