
"Bagus! Kalau begitu, ayo kita pergi sebelum ada yang tahu!" jawabku menarik tangan Serlia dan pergi secepat mungkin.
Hehe, kita lihat seberapa takutnya dirimu pada hadiah seranggaku!
"Tunggu saja, aku masih belum menyerah, Eliza!" gumamku tersenyum licik.
Saat aku fokus berlari di ikuti oleh Serlia dari belakang, tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
Duak!
"Aduh, siapa yang menabrakku?!" tanyaku dengan kasar.
Mau bagaimana lagi? Lihatlah aku yang tersungkur ke lantai!
"Maaf, aku tidak se ….," jawab laki laki itu seketika ucapannya terhenti.
Tu …. tunggu, Samson?! Bagaimana ini? Sungguh menyebalkan!
Bahkan aku tidak bisa kabur darinya! Tidak mungkin, aku akan menggunakan alasan yang paling cepat dan mudah.
"Aku minta maaf, tapi karena ada urusan penting, maka aku pergi duluan," kataku bangun dengan cepat dan kabur dari Samson.
Biarkan saja Serlia bersama orang itu, yang penting aku bisa bebas.
Hah? Aku tersesat? Di mana ini? Jangan jangan ….
Brak!
Pintunya tertutup sendiri? Ruangannya sangat gelap! Aku tidak dapat melihat apapun di sini.
Apakah aku di sekap? Tapi, siapa yang melakukannya?
"Selamat, Catherine, kau telah berbuat hal yang tidak baik pada Putri Eliza," kata seseorang dari belakangku.
Su …. suara itu ….
Tak!
Sa …. sakit sekali …. Tidak, aku tidak boleh kehilangan kesadaran begitu saja.
____________________________________________________
Serlia POV
Catherine pergi ke mana? Bisa bisanya dia meninggalkanku sendirian!
Oh, aku baru ingat kalau masih ada Samson di sebelahku.
Aku yakin kalau Samson itu suka pada Catherine. Menurut mata pembaca pikiran milikku, Samson mulai jatuh cinta pada Catherine.
Bagaimana cara menjelaskannya pada kalian? Lama kelamaan, waktu akan memberitahu kalian.
Ah! Aku harus mencari Catherine! Jika sampai ada masalah yang menimpanya, siapapun yang melakukannya pasti kuhabisi!
"Maaf, aku harus mencari Catherine dulu," kataku tersenyum aneh dan pergi secepat mungkin.
Sambil berlari, aku terus saja memikirkan Catherine tanpa sebab apapun.
Semoga saja tidak terjadi apa apa.
Di dalam ruang misterius ….
Ah …., ada apa denganku? Tubuhku terasa seperti terikat, mulutku kepanasan.
"Mmm!" kataku kesulitan berbicara.
Apa apaan ini?! Tubuhku terikat di kursi?! Dan, mulutku di ikat dengan kain putih?!
Siapa yang melakukan ini?! Bisa bisanya dia sembarangan menyekapku!
"Cath, seperti yang di katakan oleh Eliza, kau tetaplah orang lemah!" kata seseorang yang suaranya terdengar sangat familiar di telingaku.
Siapa lagi kalau bukan seorang Penyihir pribadi dari Eliza, yaitu Michelle.
Sialan! Ada rencana apa lagi kau?! Kalau ketahuan oleh Serlia, nyawamu akan melayang.
"Mmm!" kataku berusaha berbicara.
Parah! Kenapa mulutku harus di ikat dengan kain kotor ini?! Seseorang, tolong bebaskan aku!
"Ingin lepas? Maaf saja, aku tidak mau!" jawab Michelle memegang daguku.
Otakku menjadi berantakan! Hampir saja aku kehilangan kesadaran.
Serlia, kapan kau datang?
"Sekarang, tunjukkan satu sihir legendaris padaku," lanjut Michelle masih setia memegang daguku.
Tetap saja kau orang yang kuanggap bodoh, karena sihir itu kusembunyikan di tubuh Serlia.
Maafkan sahabatmu ini yang hampir menjeratmu ke dalam kegelapan~
"Mmm!" jawabku membantahnya.
Lagi lagi, aku masih kesulitan berbicara.
Tangannya masih setia memegang daguku. Tatapannya begitu licik seolah olah ia mau membunuhku.
"Tidak apa apa kalau tidak mau menunjukkannya padaku. Sebentar lagi, nasibmu akan sama seperti orang ini," kata Michelle mengarahkan tangannya pada salah seorang Prajurit sekolah.
"One Second Kill," ucapnya.
Clack!
Le …. le …. lehernya terpotong hanya dalam satu detik ….? Gawat, badanku melemah ….
Tak lama kemudian ….
Brak!
Suara tendangan pintu terdengar sangat keras, sangat menusuk telingaku.
Serlia! Ini pasti dia!
Hosh~
Hosh~
"Aku datang tepat waktu, Catherine," kata Serlia terengah engah.
Bagus, tolong lepaskan ikatan tali ini dariku! Aku sudah kepanasan.
"Mmm!" kataku masih kesulitan berbicara, padahal aku menyuruh Serlia melepaskan ikatan di tubuhku ini.
Melihatku yang terikat begini, Serlia pergi menghampiriku dan segera melepaskan ikatan yang ada di tubuhku.
"Astaga, kau ini ke mana saja hingga bisa di sekap?" tanya Serlia sambil melepaskan ikatannya.
*Membuka kain di mulut*
Bwah!
"Terima kasih telah melepaskan kain sialan ini dari mulutku. Cepat bebaskan aku dari Iblis licik itu dan pergi," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Bodoh, jangan mengalihkan pembicaraanku!" jawab Serlia.
Dengan cepat, Serlia menggenggam tangan kananku sekuat mungkin dan membawaku keluar dari ruang misterius ini.
Sayangnya, langkah kami terhenti di depan pintu karena di halang oleh suruhan Michelle.
"Berhenti bergerak!" kata mereka serentak.
"Dasar, siapa yang melakukan semua ini?!" kata Serlia mengerutkan alisnya.
Dari belakang, Michelle hanya bisa tertawa puas melihat kami berdua yang terjebak.
Rencana apa lagi yang akan kau lakukan?! Apapun caranya aku harus bisa keluar dari sini!
"Percuma saja kalian berdua keluar dari sini, karena kalian berdua adalah tahananku!" jawab Michelle tersenyum puas.
"Beraninya kau memanggilku tahanan! Ingat, posisiku lebih tinggi daripada kau!" kata Serlia emosi.
Tidak, jangan lagi ….
"Heh! Kau pikir aku akan termakan dengan kata katamu begitu saja?! Padahal, posisi kita berdua itu sama, yaitu Penyihir pribadi," jawab Michelle melangkah maju mendekati Serlia.
"Terserah kau ingin mengataiku apa saja, tapi soal posisi, aku yang tertinggi," kata Serlia berdebat dengan Michelle.
Benar benar seperti anak kecil, bisa bisanya mereka berdua berdebat soal posisi.
Coba saja aku tidak menyamar waktu itu, pasti konflik antara mereka berdua tidak akan seperti ini.
Sebaiknya aku tutup telinga saja.
"Baik, kita tidak punya waktu untuk berdebat! Bagaimana kalau membandingkan kekuatan sihir?" tanya Serlia menaikkan alis kirinya.
"Membandingkan? Mudah sekali," jawab Michelle dengan nada bicara yang merendahkan.
"Oh, kalau begitu ayo kita bertanding!" kata Serlia mengajak Michelle bertarung.
Situasi ini sepertinya familiar ….
Di kehidupanku yang sebelumnya, aku pernah belajar berpedang bersama Gabriela.
Yah, aku kalah dalam latihan berpedang karena staminaku belum cukup saat itu.
Sayangnya, aku hanya bisa belajar memanah di hutan bersama Gabriel, Kakak laki laki dari Gabriela.
Sekarang, aku baru melihat reuni di antara 2 Penyihir konyol ini.
Yang satu adalah Penyihir pribadiku, sedangkan yang satunya adalah Penyihir pribadi musuhku.
Hehe, anggap saja yang kulihat sekarang adalah bioskop, pasti menyenangkan.
"Trellian Frissly," ucap Michelle.
Sihir itu menyerang Serlia dengan bentuk hewan liar seperti beruang.
Besar sekali! Bahkan ini lebih besar daripada Leopard Bear.
"Lihatlah beruang biru yang kubuat ini! Bagaimana? Keren bukan?" tanya Michelle sengaja memamerkan sihirnya.
"Tidak secepat itu, bodoh," jawab Serlia mengeluarkan sihirnya.
"Aspharia Leonard," ucap Serlia.
Sama seperti Michelle, kini Serlia mengarahkan sihirnya pada Michelle yang berbentuk singa Nhemea.
Beruang biru itu kemudian hancur menjadi bubuk ajaib dan di ambil oleh Serlia untuk di manfaatkan.
"Bagaimana? Apakah sihirku ini lebih hebat?" tanya Serlia menaikkan alisnya.
.
.
.
[Bersambung]