The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 28



Rasakan itu, Anna! Kau hanya bisa bersenang senang seorang diri saja~


Eh, William terus melihat keluar? Memangnya ada apa?


"Salam pada Pangeran!"


Pangeran? Siapa? Aku belum pernah melihat Pangeran lainnya selain Kak Carl.


"Siapa itu? Aku tidak pernah melihatnya," lirihku menatap keluar dengan malas.


Selangkah demi selangkah, kulihat ada seorang laki laki yang mirip seperti ….


"Salam pada Yang Mulia Pangeran Samson!"


Samson Gilbert Van Arlensix?! Tunangan Eliza yang nantinya akan membunuhku?!


Tidak, aku harus menjauhinya! Aku masih terlalu cepat untuk mati di tangannya!


Bagaimana aku menghindari kematian ini?! Secepat itukah nyawaku akan di cabut?!


Tetap tenang, Saphira, kau harus bisa merubah alur ceritanya.


"Salam, Yang Mulia Raja," kata Samson bertekuk lutut memberi salam pada William.


"Aku senang dengan kedatanganmu ke sini," jawab William tersenyum padanya.


Pasti urusan penting!


"Ada hal penting apa yang ingin Yang Mulia katakan?" tanya Samson bingung.


"Mulai sekarang, kau akan bertunangan dengan Adikku yang bernama Eliza," jawab William dengan santai.


Sama seperti di novel, Samson pasti akan bertunangan dengan Eliza! Bedanya, di novel, yang menjodohkan Eliza dengan Samson adalah Ayah.


Sedangkan di depan mataku, William yang menjodohkan mereka berdua.


Benar benar alur cerita yang rumit.


Tapi, yang masih membuatku merinding adalah hari kematianku ….!


Sekarang, Samson sudah ada di depan mataku, tapi aku beridentitas Serlia.


Sudahlah, kita lihat saja pertunjukkannya.


Hmm, tampaknya Eliza sangat senang karena perjodohan ini.


"Akhirnya, aku di jodohkan dengan seorang Pangeran yang sangat tampan," kata Eliza tersenyum riang menatap Alice.


"Bisanya hanya menilai dari penampilan!" jawab Alice memutar bola matanya dengan malas.


Apa yang kau inginkan dari Eliza? Sesenang itukah saat kau di jodohkan dengan Samson?


Di dalam novel, Eliza sangat ingin menolak pertunangannya. Tapi, karena terus putus asa saat ingin menyakiti Catherine, akhirnya dia memutuskan untuk memanfaatkan Samson.


Alurnya benar benar berubah karenaku! Tinggal jalankan saja rencanaku ini.


Tunggu, siapa yang akan mengurus William jika Kak Carl sedang mengurus Veronica? Sebaiknya aku pergi ke kamar Kak Carl dulu!


Kuberlari ke arah tangga berada, terus kunaiki dengan berlahan.


Setelah berada di atas, kuberlari menuju ke arah kamar Kak Carl berada. Kudorong pintu kamarnya tanpa mengucapkan salam ataupun permisi.


Akhirnya, pintu kamarnya terbuka juga!


Kulihat Kak Carl yang sedang menemani Veronica di kasur. Untung saja Kak Carl tidak tertidur.


"Syukurlah kalau Kak Carl tidak ke mana mana," kataku menghela nafas.


Kak Carl menatapku dengan bingung.


"Ada apa, Catty? Kenapa mencariku?" tanya Kak Carl bingung.


Hei, apa kau lupa, Kak? Kita harus fokus mengurus masalah William!


"Bagaimana dengan rencananya?" tanyaku terburu buru.


"Aku sudah menyihir William, tapi belum kuaktifkan. Sebentar lagi acaranya akan di mulai, aku yang akan menjalankan rencananya," jawab Kak Carl dengan santai.


Begitu ya, aku pikir rencananya akan di batalkan.


"Kalau begitu, aku kembali ke acara dulu, ya. Jagalah Veronica dengan baik," kataku langsung pergi menutup pintu kamar Kak Carl.


Kukembali lagi ke acara pelantikan William dan duduk di tempat asalku.


Huh, melelahkan sekali menunggu acaranya di mulai.


Tiba tiba ….


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


Lonceng sudah berbunyi begitu keras.


Acaranya sudah di mulai, semuanya duduk di tempat mereka sendiri.


Sungguh menjijikkan! Di tambah lagi dengan senyumannya yang membuatku mual!


Kebetulan, rencana yang di buat Kak Carl lumayan juga.


Tanpa kusadari, ternyata Samson duduk di sebelahku daritadi.


Sialan! Bagaimana caranya aku pergi?! Seharusnya ini adalah tempat duduk Kak Carl sebagai Leon Alexander.


"Hmm? Apa kau adalah orang yang tidak di undang oleh Kakak Iparku?" tanya Samson menatapku dengan serius.


Kakak Ipar kepalamu! Kalian berdua Eliza belum menikah!


Lupakan saja, lebih baik kujawab saja pertanyaannya.


"Tentu saja, namaku adalah Serlia Arthera," jawabku tersenyum paksa.


"Serlia Arthera? Aku belum pernah mendengar nama aneh itu," kata Samson menatap ke arah lain.


Nama yang aneh katamu? Itu adalah nama samaran yang sudah kucari dengan susah payah!


Benar benar menjengkelkan!


"Sekarang, akulah yang akan memegang jabatanku sebagau Raja Kerajaan," kata William dengan santai.


Sebentar, apakah Kak Carl sudah mengaktifkan sihirnya? Kau harus bisa mempermalukan William!


"Berdasarkan surat wasiat yang di berikan oleh Ayah untukku, semua warisan di sini akan kuberikan pada Eliza sebagian"


"Sebagiannya adalah milikku, jadi, sebagai Raja Kerajaan Arshleyer, aku siap menanggung semuanya"


"Sekarang, rakyat miskin, orang lemah, bahkan yang melanggar aturan dari sang Raja akan di usir dari Negara ini"


"Meskipun terdengar menekan, tapi inilah satu satunya jalan terbaik agar Negara ini tidak di permalukan oleh rakyat rendahan!"


"Sekian dari Raja, peraturan Negara sudah kuubah. Mulai besok, rakyat miskin rendahan harus angkat kaki dari sini"


"Dan satu lagi, tidak boleh ada yang melawan perintah Raja sekalipun di suruh"


Basa basinya telah selesai, suasana menjadi hening seketika.


Kakak, apakah kau sengaja menyinggung para rakyat miskin yang hadir di sini juga?


Parah sekali kata katamu itu, Kak. Pasti rakyat akan menentang keputusan Raja suatu hari nanti.


"Raja macam apa ini? Kenapa ada Raja yang tidak mengizinkan rakyat seperti kita untuk tinggal di Negara ini?"


"Kau diam saja atau kita akan di bunuh"


Terdengar keluhan dan bisikan dari para rakyat yang tidak terima aturannya di ubah.


Dengan tegas, William mengeluarkan kata katanya sekali lagi.


"Kalau ada rakyat miskin yang tinggal di sini tanpa sepengetahuanku, maka kepalanya akan di penggal" kata William dengan tatapan dingin.


Akting yang begitu mencekam! Bahkan rakyat saja bisa tersinggung mendengarnya!


Kak Carl, teruskan saja aktingmu.


Mendengar apa yang di katakan oleh William, Eliza terkejut dan menyadarkannya.


Lihatlah ke depan, Eliza. Para rakyat terus memperhatikanmu.


Keringat mulai bercucuran di tubuh Eliza, wajahnya membiru seperti orang sakit.


"William, apa yang kau katakan?!" bisik Eliza dengan kasar.


Tiba tiba saja sihir Kak Carl menghilang. William mulai tersadar dari hipnotisnya.


"Apa yang terjadi?" tanya William menggaruk kepalanya.


Tampaknya, Eliza sangat kesal dengan kejadian tadi.


"Bodoh sekali! Kau baru saja menyinggung para rakyat!" jawab Eliza dengan suara pelan.


Rasakanlah pembalasan dari kami berdua, William! Inilah akibatnya kalau kau berkhianat.


"Menyinggung rakyat? Gawat, ini pasti akan menjadi masalah besar untukku!" kata William panik.


Sudah terlambat untuk panik, wahai Yang Mulia Raja William.


Ingat, pembalasan ini tidaklah lebih seperti dengan apa yang kurasakan.


Lagipula, aku akan membuktikan padamu kalau pembunuh yang sebenarnya adalah Eliza.


"Mohon maaf atas perkataanku tadi, semuanya," kata William meminta maaf pada semua orang.


Yah, semua orang bertambah bingung dengan sikap William. Suasana menjadi hening seketika.


.


.


.


[Bersambung]


Maaf ya kalau singgungan dari Carl kurang memuaskan.