
"Ehm, apakah Yang Mulia setuju dengan keputusanku?" tanya Alexander menatap William dengan serius.
"Setelah kupikir pikir, memang seharusnya Putri Michelle menjadi Penyihir di Istana ini"
"Kalau begitu, kau tidak perlu saja menjadi Penyihir. Serahkan semuanya pada Putri Michelle," jawab William sudah yakin dengan keputusannya.
Sudah kuduga, masalahku pasti semakin besar.
Mendengar keputusan dari William, Michelle menjadi senang karena dapat menjadi Penyihir Istana.
"Apa kau dengar, Eliza? Aku di terima menjadi Penyihir Istana!" kata Michelle riang gembira.
"Sungguh? Aku sangat beruntung memilikimu, Michelle," jawab Eliza menepuk bahu Michelle.
Parah, semakin datangnya Michelle, semakin besar masalahku.
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus bisa berhati hati dengan Michelle ular itu.
Tak lama kemudian, Kak Carl dan Veronica telah datang ke tempat kuberada sekarang.
Haih, apakah bersenang senangnya sudah selesai? Semoga hubungan kalian terjaga dengan baik.
"Maafkan aku, Serlia. Tadi, aku baru saja menolong Putri Veronica yang sedang mabuk," kata Kak Carl menatapku.
Wajah Veronica langsung berubah menjadi merah padam, seperti sedang demam saja.
"Carl, bisa bisanya kau melakukan hal itu padaku! Tapi, identitas seperti ini saja masih harus menyembunyikannya. Ada masalah apa denganmu?" gumam Veronica dengan wajah merah padam.
Padahal aku sudah menunggu kedatanganmu dengan begitu lama, Kak!
Sekarang, William baru saja mendapatkan balasannya.
Aku puas sekali dengan kata katamu, Kakak memang yang terbaik.
Tunggu, aku juga menemukan surat ancaman yang di tuliskan oleh orang asing. Nanti saja aku berikan padamu.
"Ehem, apa saja yang sedang Kakak lakukan?" tanyaku berdehem menatap Kak Carl.
Glek.
Kak Carl menelan salivanya dengan susah payah, berusaha menjawabku dengan jawaban yang aneh.
"Ti …. tidak apa apa," jawabnya menggaruk kepalanya menggunakan jari telunjuk.
Pasti ada lagi yang kau sembunyikan, bukan? Jujur saja padaku.
Lupakan, aku hanya ingin mendengar basa basi dari mereka berdua saja.
Masalah Penyihir, semuanya sudah di serahkan pada Michelle.
Sudahlah, terima saja kenyataannya ….
Lalu buku yang kuminta tadi sudah datang.
"Yang Mulia, ini buku sihir tebal yang anda minta," kata Pengawal menyerahkan bukunya pada William.
"Baik, kalian boleh kembali," jawabnya dengan santai.
"Berikan bukunya padaku," kataku meminta bukunya.
Bukunya tebal sekali, persis seperti buku sihirku yang ada di kamar.
Memangnya semua orang di Kerajaan ini butuh buku sihir? Sepertinya ini sangat penting.
William langsung memberikan buku sihir itu padaku. Huh, lihatlah kemampuan sihir dari Adikmu!
"Pertama, kita harus melatih sihir Ardlesya. Sihir itu memiliki kemampuan untuk membongkar penyamaran seseorang"
"Hanya saja, orang dengan sihir level rendah tidak bisa mencobanya. Ini agak sulit, tapi tidak ada salahnya jika kalian berlatih," jelasku dengan panjang lebar.
Kita lihat saja seberapa kemampuanmu melatih sihir itu, sihir yang paling sulit untuk di latih.
Butuh waktu 3 tahun agar sihir itu dapat di kuasai dengan maksimal.
Tapi, berbeda denganku dan Kak Carl, yang dapat menguasai sihir ini hanya dalam waktu sehari saja.
Silahkan bermain, kalau kalah, bersiap siaplah untuk di kutuk.
Mereka semua terkejut mendengarkan penjelasanku. Apakah kalian sekumpulan lemah tidak bisa memguasainya?
"Rencana gila macam apa ini?! Melatih sihir hingga 3 tahun?! Benar benar gila!" kata Eliza kesal dengan penjelasanku.
Hah? Rencana gila katamu? Maaf, aku tidak dengar~
Oh, atau kau memilih untuk di kutuk daripada menyelamatkan nyawamu sendiri? Bagus, aku bisa melakukannya sekarang.
"Florestia," ucapku.
Berlahan lahan, sihir itu merambat ke seluruh tubuh Eliza sehingga membuatnya terbelit dan tercekik.
Sihir ini merupakan sebuah kutukan bagi Kerajaan Griseliyd, karena dapat menyebabkan kematian di saat malam bulan purnama.
Anna pasti ketakutan.
"Singkirkan sihir itu dari mataku! Siapapun yang terkena sihir itu akan mati di malam bulan purnama nanti!" teriak Anna ketakutan.
Semua orang terkejut mendengarnya, terutama William dan Michelle.
Mereka berdua memohon padaku untuk melepaskan Eliza dari kutukannya sendiri.
Akan kusiksa dia sebisa mungkin, agar penyesalannya lebih dari semua itu.
Di tambah lagi dengan rahasiaku, pasti akan sangat menyenangkan.
"Remove Cursed," ucapku.
Sihir itu menghilang dengan berlahan dari tubuh Eliza, begitu juga dengan kutukannya.
Seharusnya kalian berterima kasih padaku karena memasang kutukannya di siang hari, bukan di malam bulan purnama.
Ouch!
Eliza terjatuh ke lantai sambil meringis kesakitan.
"Sakit sekali ….," lirih Eliza kesakitan.
"Ingatlah, kutukan itu sudah kulepaskan. Sekali lagi kau melanggar perintah dari Penyihir, maka kutukannya akan kubuat lagi," kataku menatap Eliza dengan tatapan menyeramkan.
Benar benar lemah. Untung saja, aku sudah melatih sihir ini sejak berumur 8 tahun.
.
.
.
Di Istana Kerajaan Courtines ….
Ruth POV
Sekarang, aku sedang berada di teras luar Istana, di mana angin akan bertiup kencang.
Bagaimana kabar Catherine? Tentang kejadian kemarin, apakah dia kabur? Semoga saja tidak ada bahaya yang menimpanya.
Kemudian, suara seorang gadis cantik terdengar di telingaku, tepat di belakangku.
"Ruth, apa yang sedang kau lakukan?" tanya gadis itu padaku.
Kumenoleh ke belakang dengan pelan. Ternyata, itu adalah Kakak perempuanku.
"Aku sedang memikirkan nasib malang Putri Catherine," jawabku tersenyum.
Itu adalah Kakak Perempuanku, Serlia Arthera Ve Courtines. Ia adalah anak angkat yang baik, perhatian, penyayang, dan suka membantu.
Jangan salah, meskipun anak angkat di keluarga ini, Kakak sangatlah di sayangi karena sifatnya yang terkenal lembut.
Kadang kadang, sifatnya juga bisa kasar karena khawatir padaku. Sungguh Kakak yang baik.
"Putri Catherine? Teman sekolahmu?" tanya Kak Serlia tersenyum.
"Tentu saja, dia adalah orang yang sangat baik padaku. Karena kejadian kemarin, aku takut kalau dia melarikan diri dari Istana," jawabku memandang ke alam sekitar.
Karena tidak tahu apa yang terjadi, Kak Serlia memintaku untuk menceritakan semuanya.
"Bisakah kau menceritakannya? Kakak kurang mengerti dengan apa yang kau maksud," kata Kak Serlia memintaku menjelaskannya.
Demi membantu Catherine, aku pasti menceritakannya pada Kakak.
"Begini, ceritanya sangatlah panjang"
"Kemarin, Istana Kerajaan Arshleyer mengalami kebakaran"
"Raja dan Ratu mati di bunuh oleh Eliza dengan tangannya sendiri. Melihat hal itu, Catherine merasa tidak terima dan ingin segera membunuh Eliza"
"Tapi, sayangnya Pangeran William mengkhianatinya dengan membela Eliza. Makanya, Catherine melarikan diri bersama Pangeran Carl"
"Hanya itulah ceritanya, Kak. Itulah sebabnya aku sangat khawatir pada Catherine."
Semuanya sudah kuceritakan pada Kakak. Apa yang akan di lakukan olehnya?
Mudah mudahan, Kakak tidak marah pada Eliza.
Trak!
Suara pukulan dinding terdengar di telingaku dengan jelas. Kak Serlia tampaknya marah mendengar ceritaku.
"Eliza sialan! Selain melukai Adikku, kau juga membunuh Raja dan Ratu? Bahkan kau membuat Catherine bernasib malang seperti ini?!"
"Tidak akan kubiarkan! Kali ini, aku akan menghancurkan Eliza bersama Catherine!" kata Kak Serlia marah pada Eliza.
Mata merah ruby yang mirip dengan Pangeran Carl …., sangat menyeramkan ….
Bangsa Drastiria memang menyeramkan, termasuk Kak Serlia dan Pangeran Carl.
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Bangsa Drastiria adalah karangan Author sendiri ya~
Btw, visualnya belakangan dulu ya, soalnya banyak tokoh baru yang akan muncul.