The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 49



Beberapa jam kemudian ….


Kami semua sudah sampai di Istana seperti biasanya. Hari ini, aku sama sekali tidak menyambut Kak William, karena rasa dendamku padanya belum hilang sama sekali.


Mengingat kebodohannya membuat Eliza selalu saja bermanja padanya dan Kak William hanya bisa membuatnya tersenyum.


Rasanya aku sudah di lupakan sebagai Adik ….


"Cath, kenapa kau melamun? Bukankah kau ingin ke ruang rapat bersamaku?" tanya Serlia menatapku penuh kebingungan.


Benar juga, malam ini, Kak William mengadakan sebuah rapat besar dan mengundang kami.


Kira kira, apa yang akan di rapatkan?


Kuterus berjalan menuju ruang rapat yang di ikuti oleh Serlia. Setelah sampai, kami berdua masuk ke dalam ruangan dan melihat suasana yang ramai.


Aku harus duduk di mana?


"Perempuan gila, kau duduk di samping Eliza," kata Kak William datar.


Untuk apa kau berakting di depan Eliza sedangkan aku hanya diam menurutimu? Seharusnya kau tidak perlu takut pada Eliza si b*j*ng*n itu!


Aku lelah dengan sandiwaramu, Kak. Tolong berusahalah untuk mengakhiri semuanya!


"Baiklah kalau itu adalah keinginanmu, Yang Mulia," jawabku datar.


Apa boleh buat, tempat dudukku sudah di atur dengan baik.


Sial! Aku sangat tidak suka duduk dengan orang gila seperti Eliza ini! Rasanya ingin kutikam jantungnya!


Jadilah orang biasa, Saphira.


"Permisi, ini adalah tempat dudukku," kataku menatap sinis Eliza.


"Duduk saja, tidak ada yang melarangmu," jawab Eliza dengan angkuh.


Seenaknya berbicara hanya karena kedudukannya yang tertinggi? Ingatlah, akulah yang seharusnya menduduki posisi Putri pertama di Istana ini.


Demi melepaskan diri dari tempat konyol ini, aku harus membalaskan dendam Catherine hingga tuntas dulu.


Hmph! Kau pasti akan kalah, jala*g!


Tak!


Yah, rapat di mulai dengan pukulan palu kecil terlebih dahulu.


Sekarang, aku hanya bisa fokus saja.


"Baiklah, aku ingin bilang pada kalian semua kalau sebentar lagi akan ada perang"


"Wilayah Srylpharuna akan menyerang kita dalam waktu 3 hari lagi"


"Rencana apa yang akan kita lakukan untuk bebas dari perang?"


Perang ya? Antara Kerajaan Arshleyer dan Kerajaan Srylpharuna? Kerja bagus! Ini adalah kesempatan untuk membuktikan identitas Eliza yang sebenarnya.


Nantikan saja pertunjukkannya dan bersiap siaplah untuk melihat siapa keluargamu!


"Kurasa, kita akan menggunakan rencana yang sangat membahayakan nyawa kita"


"Srylpharuna tidak akan datang menyerang Kerajaan kita terkecuali sang Raja merasakan sebuah firasat"


"Jadi, yang harus kita lakukan adalah menjadikan Eliza sebagai umpan"


"Bagaimana? Apa Yang Mulia setuju?"


Hehe, menjadikan Eliza sebagai umpan untuk menarik perhatian sang Raja Srylpharuna adalah rencana licik yang baru kucoba.


Mendengar apa yang kukatakan, Kak William, Kak Carl, bahkan Serlia terkejut.


Ayolah, ini adalah kesempatan bagus, bukan?


Brak!


Suara gebrekkan meja terdengar dari Serlia. Sepertinya, keputusanku akan salah.


"Yang Mulia, aku menyetujui keputusan mutlak Catherine!"


"Mungkin Eliza cocok sekali untuk di jadikan umpan agar memancing kedatangan para musuh"


"Ingat, Kerajaan Srylpharuna pasti sedang mengincar seseorang yang bukan merupakan anggota keluarga Kerajaan!"


"Tapi, karena Eliza adalah anggota keluarga Arshleyer, aku terpaksa menerima keputusan Catherine karena Eliza bukanlah orang lemah"


Keren! Ternyata Serlia sangat paham dengan apa yang kukatakan tadi! Semua kata kata yang ingin kukeluarkan saja di katakan langsung olehnya!


Brak!


Suara gebrekkan terdengar dari Eliza. Kenapa? Tidak setuju? Biarkan saja, aku tidak peduli dengan kata katamu.


"Apa kata kalian tadi? Menjadikanku sebagai umpan? Kau bermaksud menjebakku?" tanya Eliza kesal.


Bodoh! Apa kau tidak mau bertemu dengan keluargamu? Tenang saja, aku akan mengikat dirimu di tempat tiang dengan tumpukan jerami!


Bukan artinya aku mau membakarmu! Untuk apa kau menyisakan sebuah abu padaku? Dendam Catherine saja belum terbalaskan semua.


"Maaf, tapi cara terbaik memang seperti itu, Eliza," jawabku tersenyum licik.


"Hei ….!" kata Eliza bertambah kesal.


Terus saja kesal! Aku senang menjahili orang seperti kau!


Tumpukan jerami? Tentu saja, karena adegan ini akan membuat heboh semua orang!


Serlia, tolong bantu aku untuk menghadapi semua ini!


*Isyarat mata*


Melihatnya, Serlia membalasku dengan isyarat mata juga.


Baik, pertunjukkan awal akan di mulai! Saatnya berdiskusi.


"Maksudnya begini, Yang Mulia Raja"


"Eliza adalah Putri pertama di Kerajaan ini, bukan? Mungkin saja, Raja Srylpharuna sedang mengincarnya"


"Dengan memancingnya menggunakan Eliza, itu adalah rencana bagus"


"Apakah ada yang bisa mengikatnya di atas tiang kayu dengan tumpukan jerami?"


"Tidak, aku tidak bermaksud membakarnya, tapi ini demi keselamatan Kerajaan"


"Maaf kalau keputusan hamba salah di pendengaran anda, Yang Mulia"


Keputusanmu sangat masuk akal, aku menyukainya! Dengan begini, usaha dan kerja kerasku sebagai Putri terhormat akan berjalan dengan lancar.


Semoga saja Kak William terima keputusanku!


"Kumohon, jangan menerimanya, William!" kata Eliza memohon.


Maaf, Kak William bukanlah orang yang tertarik dengan belas kasihanmu!


"Ehm, kurasa keputusan Catherine dan Serlia tidak bisa di ubah begitu saja"


"Tanpa kau, Kerajaan tidak akan selamat dari ancaman. Lakukanlah yang terbaik sebagai Putri pertama," jawab Kak William berusaha meyakinkan Eliza.


Eliza menjadi senang karena semangat dari Kak William. Sengaja memancingnya itu akan membuat rencana kita berjalan lancar!


Kak William, kau semakin pintar saja.


"Baiklah, aku tidak mau reputasiku di rendahkan oleh para rakyat! Putri pertama siap di jadikan umpan," kata Eliza kembali bersemangat.


Yah, yah, yah.


Betapa bodohnya dirimu yang tidak menyadari kalau kami akan menjebakmu.


Pasti Alexander dan Michelle salah tanggap.


"Bersemangatlah demi rakyatmu!" jawab Michelle senang.


Sudah kuduga, keadaan akan menjadi semakin rumit.


___________________________________________________


Keesokan harinya ….


Hari ini adalah hari liburku. Aku dan Serlia saat ini sedang berada di hutan dan latihan berpedang.


Sring!


Sring!


Sring!


"Seranganmu lumayan cepat, Serlia!" kataku seraya menangkis serangannya.


"Huh, kekuatanmu masih terlalu lemah!" jawab Serlia melakukan hal yang sama denganku.


"Hmph! Kau yang salah menilaiku!" kataku menahan pedangnya.


Kuangkat pedangnya dan kubuang ke sembarang arah. Pedangku mengarah ke samping leher Serlia!


Kali ini, siapa yang menang? Aku atau kau?


"Berikan aku selamat karena telah sukses melatih pedang," kataku dengan nada angkuh.


Dengan sengaja, Serlia menyingkirkan pedangku dari lehernya menggunakan tangan kosong.


Sungguh Putri angkat yang tangguh, memang pantas sekali di panggil sebagai Putri Kerajaan Courtines yang terhormat.


Bahkan serangga saja tidak takut, benar benar liar.


"Cukup, aku lelah. Mari kita beristirahat di balik pohon cemara itu," kata Serlia menyeka keringatnya.


"Baik, kebetulan aku juga lelah," jawabku memandang ke atas.


Tanpa basa basi lagi, kami berdua duduk di bawah pohon cemara dan bersandar di kayu.


Tentang keputusan kemarin, entah kenapa aku merasakan firasat buruk akan datang padaku sendiri.


Kira kira, apa yang di katakan oleh hati nuraniku ….?


.


.


.


[Bersambung]