
Apakah orang berbangsa Dristiria itu memang seganas ini? Aku tidak mau mendekati mereka berdua.
"Carl, lihatlah, Arlia masih hidup!" kata Serlia mengalihkan tatapannya pada Kak Carl.
"Arlia? Dia masih hidup? Apa yang dia inginkan dari kita berdua?" tanya Kak Carl.
"Sepertinya dia ingin membunuhku, sama dengan halnya dia membunuh Ibuku!" jawab Serlia dengan perasaan emosi yang kuat.
Tolong kendalikan penglihatan kalian berdua! Itu adalah Hans dan Helson, bukan Arlia!
Kalau kalian menatap Arlia, tatap saja Eliza yang sangat mirip dengannya!
"Hmph! Anak dan Ibunya sama saja!" kata Kak Carl kesal.
Tang!
Tanganku sudah lelah mengayunkan pedangku! Tangkisan Louis benar benar kuat dan cepat!
Tang!
"Hentikan! Fokuslah pada Hans dan Helson yang akan di serang," kataku membujuknya.
Tang!
"Tidak mau, biarkan mereka menghadapinya sendiri," jawab Louis santai.
Licik, sama seperti Eliza! Tanganku sudah begitu sakit karena beradu pedang denganmu!
Tiba tiba, di belakangku ….
"Matilah kau!" kata salah satu Pengawal Srylpharuna yang ingin menusukku.
Sial! Aku benci situasi yang seperti ini! Terpaksa kutusuk mata kiri si Pengawal itu dengan pedangku.
Kulepaskan pedangnya dan kembali menusuk ke arah jantungnya sehingga membuatnya kehilangan nyawa.
Clak!
Kukeluarkan pedangku dari tubuhnya dan kembali mengarahkah pedangku ke leher Louis.
Kau sangat memuakkan!
"Cepat akhiri ini atau kubunuh kau!" kataku menatap tajam mata Louis.
"Ck, kau pintar juga, Cath," jawabnya tersenyum miring.
Astaga, ada apa dengan Serlia?! Bagaimana bisa dia menyerang Hans hingga terluka begini? Untung saja kau tidak ada luka sedikitpun.
"Yang ingin kukatakan sekarang adalah membunuhmu," kata Serlia menginjak kepala Hans yang terbaring di tanah.
Bahkan dirimu bisa sesadis ini, sungguh licik.
"Hahaha, ternyata kau tahu nama Ibuku? Sangat mengesankan," jawab Hans dengan wajahnya yang terinjak.
"Masih bisa tertawa ya? Benar benar cari mati!" kata Serlia semakin memperkuat injakkannya.
Bugh!
Aku yang tidak merasakannya saja sudah tidak mampu melihatnya ….
Serlia, apa yang kau rahasiakan dariku?
"Bi …. bisakah kau tidak menginjakku?" tanya Hans.
"Maaf, aku belum puas," jawab Serlia santai.
Tang!
Suara pedang Helson! Kak Carl juga kesulitan melawannya!
"Pergi dari hadapanku, kembaran Eliza!" kata Kak Carl dengan sangat marah.
Tang!
"Siapa Eliza? Apakah aku terlihat mirip dengannya?!" tanya Helson bingung.
Tang!
"Jangan berbohong padaku, br*ngs*k!" jawab Kak Carl menatap Helson dengan tajam.
Entah ada angin apa yang membuat Helson bergidik takut melihat tatapan Kak Carl. Tangan dan kakinya terlihat gemetaran.
Kakak, Serlia, kenapa musuh lebih takut pada kalian berdua sedangkan aku masih harus menyerangnya?!
Biarkan saja, lagipula perang ini akan berakhir dengan sendirinya.
Lanjut pada Serlia yang masih saja membuat onar dengan wujud Iblisnya. Dia benar benar marah ….
"Akan kuceritakan kisah Ibumu yang murahan itu. Dulu, dia suka menggoda laki laki layaknya pelac*r"
"Jangan lupa, dia telah membunuh Ibuku yang merupakan Ratu dari para bangsa Dristiria"
"Bagaimana caranya aku memberitahumu kalau kau memiliki Adik perempuan yang sama bijaknya dengan kau?"
"Sifatnya tidak berbeda dari Arlia, tapi sayangnya dia penakut namun jahat"
"Bisakah kau mengingatnya? Nama Adikmu adalah Eliza Alveria De Arshleyer, sang perebut takhta dan kekuasaan milik orang lain demi keuntungannya sendiri"
"Dan satu lagi, dia adalah Putri pertama yang di angkat karena telah membunuh Raja Lordsorius dan Ratu Hera dengan tangannya sendiri"
"Ingat baik baik," jelas Serlia panjang lebar.
Jadi, itulah rahasiamu yang sebenarnya? Kenapa aku baru tahu? Arlia bukan hanya melahirkan si Iblis Eliza, melainkan juga membunuh Ibumu!
Entah kenapa mataku menjadi sakit dan kepalaku berputar seperti kincir angin.
Kucoba buka mataku berlahan dan tiba tiba muncullah cahaya hijau yang menyinari mata mereka semua.
"Para manusia rendahan yang telah menipu daya diriku, memang tidak seharusnya kalian hidup seperti Ratu kalian, yaitu Arlia," kataku tanpa sadar.
Terlebih lagi, Serlia menatapku dengan tatapan aneh itu.
"Yang Mulia? Apakah itu kau?" tanya Serlia serius.
Tunggu, Yang Mulia katanya?! Aku tidak bisa mengendalikan pembicaraanku!
"Serlia, kau masih hidup?" tanyaku tidak bisa mengendalikan pembicaraanku.
"Tentu saja, hanya aku dan Carl yang selamat dari kepunahan bangsa kami," jawab Serlia dengan hormat.
"Baiklah, bagaimana dengan Freora?" tanyaku lagi.
Mulut yang menyebalkan! Aku tidak bisa berbicara secara sadar kalau begitu!
Baru satu detik, tiba tiba aku di tembak dengan anak panah sehingga membuatku pingsan.
Serlia POV
Yang Mulia?! Apa yang terjadi denganmu?! Kenapa kau menggunakan tubuh Catherine?
Mungkin, waktumu sudah habis. Catherine, bertahanlah, aku pasti akan mengakhiri perang ini.
Biarkan aku mengakhiri perang ini meskipun aku tidak bisa mengendalikan sihirku.
.
.
.
Sementara itu di wilayah B ….
Eliza POV
Seperti tadi pagi, aku masih terikat di tiang ini tanpa bergerak.
Sungguh licik sekali, bagaimana aku harus melepaskan diri?!
Untung saja ada Michelle dan Alexander yang menemaniku, kalau tidak maka tamatlah riwayatku.
"Michelle, kira kira kapan aku di lepaskan?" tanyaku penasaran.
"Ehm, mungkin tunggu perang berakhir," jawab Michelle gugup.
Apa?! Perang katamu?! Kenapa kau tidak memberitahuku?! Terlebih lagi, aku tidak tahu kapan perangnya akan di mulai.
Tak lama kemudian, muncullah beberapa pasukan Pengawal yang di pimpin oleh seorang Raja.
Raja?! Matilah aku~
Raja itu mendekatiku dengan cepat dan menatapku dengan tatapan aneh.
Kalau di lihat lihat, Raja itu sangat mirip denganku. Siapa dia sebenarnya?
"Apakah namamu Eliza?" tanya Raja itu menatapku dengan tajam.
Bagaimana dia bisa tahu namaku? Kenal saja tidak.
"Benar, memangnya kenapa?" tanyaku bingung.
"Ternyata apa yang di katakan orang itu benar juga, kau sangat mirip denganku," jawabnya memegang daguku.
Tanganku tidak bisa bergerak! Siapa yang kau maksud "orang itu"? Jangan bilang kalau aku akan ….
"Pengawal, lepaskan ikatannya dan bawa dia pergi," titah Raja menyuruh Pengawalnya.
"Di laksanakan, Yang Mulia!" jawab mereka serentak.
Rantaiku di lepaskan oleh mereka dan badanku di angkat ke atas kuda putih sang Raja.
Tunggu, aku mau di bawa ke mana?! Seseorang, tolong aku!
"Diamlah atau kubunuh," kata Raja datar.
Baik, aku akan diam tanpa berbicara.
...
Beberapa menit kemudian ….
Aku sudah sampai di Istana asing dan tangan/kakiku di ikat dengan rantai.
Sring!
Tidak bisa di lepas! Atas dasar apa kalian menyekapku?! Ini adalah tindakan kejahatan!
Semua ini gara gara Catherine dan si hitam gila itu! Kalau bukan karena rapat itu, aku tidak akan menyetujuinya!
"Lepaskan aku! Kalian tidak berhak menyekapku!" teriakku dengan tangan/kakiku yang terikat.
Tiba tiba, muncullah Raja asing yang tadinya menculikku dan mendekatiku pelan pelan.
Apa yang kau inginkan dariku?
"Hmph! Seorang perempuan yang sangat mirip denganku? Ini adalah berita baik," kata Raja tersenyum miring.
"Memangnya kenapa kalau aku sangat mirip denganmu?" tanyaku heran.
Raja ini benar benar aneh ….!
.
.
.
[Bersambung]