The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 19



Hah, untung sudah selesai ….


Aku sangat menantikan reaksi Eliza nanti malam, pasti mengagetkan.


"Tunggu saja nanti," lirihku sambil tersenyum licik.


Tiba tiba ….


"Wah, bagus sekali jenis beruang yang di buru oleh Tuan Putri!"


"Benar, nama beruang yang di buru oleh Tuan Putri adalah Leopard Bear!"


"Leopard Bear?! Beruang terbesar yang ada di sepanjang sejarah?! Kalau begitu, mari kita sambut keberhasilan Tuan Putri!"


"Hidup Tuan Putri Catherine!"


Suara Para Prajurit itu sangat berisik! Aku jadi tidak tenang mendengar suara mereka.


Eh? Kalau tidak salah, suara itu mengatakan bahwa beruang yang kuburu tadi adalah beruang terbesar sepanjang sejarah.


Jadi, Leopard Bear adalah beruang terbesar sepanjang sejarah? Itu artinya aku adalah orang pertama yang memburunya?


Astaga, padahal beruang yang kusebut tadi adalah beruang yang di buru oleh Eliza ketika di dalam novel. Sekarang, aku telah berhasil mengubah alurnya sedikit demi sedikit.


Carl POV


Saat ini, aku sedang berada di luar Istana untuk melihat beruang yang baru saja di buru oleh Adikku, Catty.


Aduh, ternyata Adikku juga bisa bertindak senekat ini, ya. Aku jadi semakin banyak pikiran.


"Catty, kau hampir membuatku serangan jantung ….," kataku tersenyum aneh melihat beruang yang di buru oleh Catty.


Kemudian, William tiba tiba saja keluar menghampiriku, sangat merepotkan! Padahal, tanggal lahir kami berdua sama, bahkan umur juga sama!


"Hei, Carl, tampaknya kau baru melihat hasil buruan Catherine," kata William menepuk bahuku.


"Tentu saja, apa yang di dapatkan Catty hampir membuatku tidak bisa berbicara," jawabku kesal pada William yang terus saja menatapku.


Saphira/Catherine POV


Daritadi aku menatap keluar jendela, yang kulihat hanyalah kerusuhan Prajurit.


Hanya karena beruang besar saja, mereka langsung ingin membuat pesta besar.


Aku tahu kalau aku adalah orang pertama yang memburunya, tapi kalian semua tidak perlu seheboh itu.


"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja," kataku berbaring ke kasur dan tidur.


Waktu semakin berjalan, kini siang telah berganti menjadi malam ….


Hoam~


"Sekarang sudah jam berapa? Apakah tidurku begitu lama?" tanyaku pada diriku sendiri sambil menggosok mataku.


Tiba tiba saja ….


Aaaaaarrrggghhh!!!


Suara teriakan mulai menusuk ke telingaku. Uh, berisik sekali!


Sebentar, bukankah itu adalah suara Eliza yang berteriak? Sebaiknya aku ke sana dulu.


Tanpa pikir panjang lagi, aku keluar dari kamarku dan menuju ke kamar Eliza.


Setelah sampai, aku melihat ada Ayah, Ibu, Kak William, dan Kak Carl yang melihat Eliza.


Ada apa ya?


"Ibu, aku merasa gatal! Tubuhku seperti di gigit serangga!" teriak Eliza sambil menggaruk tangannya.


"Eliza, kau tenang dulu. Sebentar lagi, tabib Kerajaan akan datang," jawab Ibu melihat kondisi Eliza dengan penuh rasa kekhawatiran.


"Argh! Lama sekali! Di panggil saja ternyata datangnya begitu lama!" kata Eliza terus menggaruk tangannya.


Ah, aku sudah sangat penasaran dengan reaksimu, Eliza! Aku harus melihat kondisimu!


"Ada apa ini? Kenapa Kak Eliza berteriak begitu kencang?" tanyaku bingung.


Melihat kedatanganku, Eliza tiba tiba saja marah marah tidak jelas padaku, seperti sedang memarahi hewan saja.


"Pakai bertanya segala lagi, lihatlah tubuhku yang penuh dengan bintik merah ini! Rasa gatal yang sangat luar biasa!" jawab Eliza sambil menggaruk tangan dan lehernya.


Bintik merah di keseluruhan tubuh? Jangan jangan karena pengaruh racun tadi siang.


Hehe, sebaiknya kutenangkan saja dulu.


"Kakak jangan terus menggaruknya, nanti akan semakin membengkak!" kataku berakting.


"Apa?! Kalau begitu ….," jawab Eliza seketika ucapannya langsung terhenti.


Argh!


Haha, rasakan itu! Sekarang, kau tidak terlihat cantik lagi!


"Rasakanlah penderitaanmu ini, Eliza!" kata Kak Carl dengan kasar.


Kakak! Sekarang Ayah, Ibu, dan Kak William masih ada di sini! Kuharap kau tidak di marahi oleh Ayah setelah mengeluarkan kata kata kasar itu.


"Diam, Carl! Eliza masih sakit tapi kau mengejeknya seperti ini! Bisakah kau tenang sehari saja?!" jawab Ayah membentak Kak Carl.


Sudah terlambat.


"Ayah, Eliza sangat pantas untuk menderita! Aku sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai Adikku!" kata Carl marah pada Ayah.


Gawat, jangan lagi ….


Diam!


"Carl, kenapa kau setega itu padaku?! Apa karena aku yang tidak sopan ini membuatmu sangat membenciku?!" tanya Eliza berlahan lahan meneteskan air matanya.


Seketika kami semua terdiam karena perkataan Eliza. Kenapa katamu? Ini semua adalah salah Ibumu yang melahirkanmu sebagai anak Tiri!


"Ceritanya sangat panjang ….," jawab Kak Carl datar.


Karena jawaban singkat dari Kak Carl, Eliza berbaring kembali memalingkan wajahnya dari kami semua.


Ia juga tidak segan mengusir kami pergi.


"Lupakanlah penyakitku ini, kumohon pergi dari sini!" teriak Eliza mengusir kami semua.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum tabib datang menyembuhkan penyakitmu!" jawab Ibu berusaha keras untuk tidak pergi.


"Kenapa? Apa kalian merasa bersalah karena tidak menyembuhkan penyakitku dulu?" tanya Eliza masih saja menangis.


Dramamu sudah di mulai, Eliza. Saatnya aku juga ikut berperan.


"Kak, kami tidak merasa bersalah karena penyakit Kakak. Aku sangat tulus ingin menemani Kakak di sini," jawabku tersenyum manis.


Waaa!!!


Aku sangat tidak suka dengan senyumanku! Seseorang, tolong bantu aku mengakhiri drama killer ini!


"Tabib sudah datang, kami sekarang pergi dulu. Ayo, Catherine," kata Kak William membawaku pergi dari kamar bersama semua orang.


Untung saja, tabib sudah datang ke sini, kalau tidak maka aku tidak akan bisa bertahan di drama killer tadi!


Sialan, senekat inikah diriku mencelakai Eliza? Efek racun yang benar benar dahsyat ….


"Ternyata begini cara kerja dari racun yang kubuat, sangat menarik," gumamku menyunggingkan senyuman licikku.


Sudah saatnya aku mandi air panas, sebaiknya aku panggil Sarah dulu.


Tapi sebelum itu, aku harus pamit dulu ke kamar agar semuanya tidak merasa aneh denganku.


"Ehm, aku pergi ke kamar dulu ya, permisi," kataku bilang pada semuanya.


Mereka hanya mengangguk pelan saja.


Tanpa basa basi lagi, aku langsung pergi menuju ke kamar secepat mungkin.


Akhirnya, aku sampai juga di kamar. Sudah saatnya aku memanggil Sarah.


"Sarah! Bisakah kau datang ke kamarku sebentar?!" teriakku sekencang mungkin.


"Iya, ada apa, Tuan Putri?" tanya Sarah padaku.


"Siapkan air panas untukku mandi," jawabku to the point saja.


"Baik."


Beberapa menit kemudian ….


"Ah, rasanya nyaman sekali setelah mandi di air panas ini," kataku bersandar di bathum.


"Benar, Tuan Putri. Dengan bersantai di air panas, pikiran siapa saja bisa menjadi tenang," jawab Sarah sambil menggosok punggungku.


"Oh, aku baru ingat, apakah hasil pemeriksaan dari tabib kepada Eliza sudah keluar?" tanyaku penasaran.


"Sudah, Tuan Putri Eliza mengalami keracunan pada kulit dan paru paru," jawab Sarah agak sedikit panik.


Keracunan kulit dan paru paru? Bagaimana cara menyembuhkannya? Akan lebih baik jika racun itu tidak di sembuhkan dari tubuh Eliza.


.


.


.


[Bersambung]