The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 89



Anna Flora Griseliyd:




"Mudah saja, berpura puralah untuk baik hati dengan Eliza. Aku juga akan melakukan yang sebaliknya pada Michelle, mengerti?" jawab Serlia.


Berpura pura baik? Apakah harus di lakukan hingga matanya sembuh?


Baiklah, aku akan berusaha melakukannya.


"Tenanglah, aku bisa melakukannya," kataku penuh percaya diri.


Ngomong ngomong, kenapa kau tidak mati saat minum racun? Bukankah racun sangat mematikan untuk tubuh? Aku jadi penasaran dengan rahasiamu.


"Serlia, kenapa kau tidak mati ketika minum racun?" tanyaku penasaran.


"Oh, kau sungguh tidak tahu kalau aku berasal dari ras Iblis yang haus akan racun? Kami meminum racun hanya untuk memulihkan darah kami," jawabnya serius.


Begitu ya? Menarik sekali rahasiamu.


___________________________________________


Di Istana Griseliyd ….


Anna POV


Ah! Aku tidak tahan lagi dengan para penghalangku!


Prang!


Kujatuhkan semua barang berharga yang ada di kamarku karena marah atas kejadian kemarin malam!


Catherine b*j*ng*n, untuk apa kau menghalangi jalanku bersama Carl kemarin?! Apakah kau tidak tahu kalau aku sangat menyukainya?!


Prang!


Ah! Kepalaku pusing! Ini semua karena kecantikan Veronica yang bagaikan cahaya bulan purnama itu!


Dasar, padahal kecantikan abadiku ini bisa mengalahkan kecantikan siapa saja!


Entah kenapa setelah muncul Veronica yang kecantikannya lebih abadi membuatku ingin menggores wajahnya!


Kau benar benar rubah licik yang baru pertama kali kulihat di dunia, rasanya ingin sekali aku membunuhmu.


Kau telah merebut seluruh kebahagiaanku, termasuk kecantikan dan orang yang kusukai.


Semuanya adalah salahmu, salahmu!


Bugh~


Kurebahkan diriku ke kasur sambil menangis tersedu sedu, memikirkan nasib malang yang kumiliki.


Mata biru dan rambut hitam, bisa di bilang kalau aku mirip dengan Ayahku.


Tapi, kenapa aku sangat tidak berharga di mata orang lain? Hanya para laki laki yang di luar sana yang menyukaiku.


Baru pertama kali kulihat seorang laki laki yang tidak pernah menyukaiku sama sekali, yaitu Carl.


Di sekolah, aku selalu menyapanya dengan ramah, tapi dis selalu saja mengabaikanku.


Terlebih lagi, dia adalah laki laki yang kusukai pertama kali setelah 1500 laki laki yang pernah kucampakkan.


Dia tampan dan sangat berani, namun tatapannya terlalu menakutkan bagaikan seorang Iblis.


Yang membuat hatiku sakit adalah melihatnya bersama orang yang sengaja kuangkat sebagai sahabatku, yaitu Veronica!


Sebenarnya ada apa dengannya? Apa yang istimewa dari Veronica? Aku sendiri lebih sempurna darinya.


Memang tidak bisa di biarkan, Veronica harus kusingkirkan agar hidupku jauh lebih tenang.


Tunggu saja di hari natal nanti, akan kubalas kau berkali kali lipat!


"Haha, aku sangat menghargai persahabatan kita, Veronica. Karena itulah, aku sangat ingin membunuhmu," kataku tersenyum licik.


__________________________________________


Di Istana Arshleyer ….


Saphira/Catherine POV


Aku sudah berada di kamar dan hanya berbaring. Kak William sedang bekerja dan Kak Carl sedang mengurus surat yang di berikan oleh Kak William.


Jadi, aku harus bersama siapa?


"Lagi lagi, aku kesepian. Siapa yang bisa jadi teman bermainku?" tanyaku pada diriku sendiri.


Tiba tiba ….


"Catherine, ada apa denganmu?" tanya seseorang dari jendela.


Samson?! Sejak kapan kau datang ke sini secara diam diam?! Mengagetkanku saja.


"Tidak, aku hanya merasa bosan," jawabku cemberut.


"Bosan? Kenapa setiap aku datang ke sini, yang kudengar adalah kata bosan darimu? Apakah kau sedang sakit?" tanya Samson masuk ke dalam kamarku.


"Tidak, aku sama sekali tidak sakit," jawabku dengan wajahku yang memerah.


Bodoh, tolong jangan tanyakan pertanyaan yang menyebalkan ini.


Tetap saja aku bosan karena tidak ada yang menemaniku bermain.


"Kalau begitu, apa kau mau ikut denganku?" tanya Samson tersenyum menatapku.


"Ke mana?" tanyaku singkat.


Tanpa pikir panjang, tubuhku di gendong olehnya secara tiba tiba, seperti sedang menggendong Putri tidur saja.


"Turunkan aku, ini terlalu memalukan," kataku menyuruh Samson untuk menurunkanku.


"Tidak, kau tidak boleh pergi dariku," jawabnya tidak peduli.


Astaga, apa kau tahu betapa aku tidak suka saat di gendong olehmu? Selain kedua Kakakku, kau tidak boleh menggendongku.


Sudahlah, berbicara dengannya tidak akan berguna, bahkan memberontakpun aku juga tidak akan berhasil.


.


.


.


Beberapa saat kemudian ….


Entah ke mana ia membawaku pergi, yang penting aku sedang bersamanya sekarang.


Aku di gendong olehnya terus menerus tanpa di lepaskan.


Sebenarnya kita berdua mau ke mana?


"Sudah sampai," kata Samson menurunkanku.


Huft~


Untunglah aku masih bisa turun dari pelukanmu, kalau tidak maka rasa maluku tidak akan hilang.


Eh? Bukankah ini adalah danau angsa? Kenapa kita berdua harus berada di sini?


"Kenapa kita berdua pergi ke tempat ini?" tanyaku bingung.


"Aku mau mengajakmu berenang, apa kau mau?" pinta Samson.


Berenang?! Kau serius?! Ini adalah danau yang paling panas di seluruh dunia!


Terlebih lagi, danau ini dapat menyerap darah manusia hanya dalam 1 detik.


Beberapa darah yang di serap oleh air danau ini masih tersisa, karena yang di butuhkan oleh danau ini adalah darah merah yang segar.


Sungguh mengerikan, untunglah aku bisa berenang.


Byur!


Tunggu, siapa yang mendorongku ke dalam? Dan yang kulihat ini adalah ….


Danaunya sangat indah, di penuhi dengan lilin dan satu patung angsa berbentuk cinta.


Pantas saja danau ini di namakan danau angsa, ternyata ada sebuah patung es angsa yang berbentuk cinta.


Tapi, airnya terlalu panas ….


Byur!


Samson? Kau juga ikut ke dalam? Jangan bilang kalau kau yang mendorongku ke dalam.


Dasar aneh!


"Apa kau siap?" tanya Samson menatapku.


"Aku siap," jawabku singkat.


Aku juga bisa berbicara di dalam air? Benar benar danau yang ajaib.


Kuberenang ke dalam dan melihat terangnya lilin dan lentera laut.


Aku suka sekali dengan tempat ini, rasanya tidak ingin pulang ke daratan.


Dan aku juga tidak perlu khawatir akan oksigen yang ada di sini, karena sumber mata airnya yang panas dan bersih.


"Tempatnya indah sekali, aku menyukainya," kataku senang.


Tanpa kusadari, aku melihat ….


Kak Carl dan Veronica? Sebentar, apakah pekerjaan Kakak sudah selesai sehingga ia minta izin untuk kencan bersama Veronica?


Sebaiknya kusembunyi di balik batu besar ini dan mengintipnya.


Dari jauh ….


"Kenapa aku tidak rela dengan kencan terakhir kita berdua?" tanya Kak Carl sengaja menatap Veronica.


"Aku juga tidak dapat merelakannya, Carl. Entah kapan takdir akan mempertemukan kita kembali," jawab Veronica.


"Jangan berbicara seperti itu, kita berdua pasti bertemu lagi," kata Kak Carl mengelus kepala Veronica.


"Memangnya kenapa?" tanya Veronica kebingungan.


*Mencium bibir*


Kenapa akhir akhir ini Kak Carl berubah begitu romantis?! Aku sendiri jadi tidak tahan melihatnya terus menerus karena aku tidak mau menjadi nyamuk.


"Kakak terlalu romantis dan tidak memperhatikan sekeliling kalau ada orang yang sedang melihatnya, yaitu aku," kataku mengintip dari balik batu.


.


.


.


[Bersambung]