
Daritadi hanya kalian berdua saja yang berbicara, sekarang giliranku untuk tampil ke depan.
"Ups, maaf, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Serlia yang tadinya lupa denganku.
Aku hanya ingin tahu bagaimana caranya balas dendam pada Eliza. Selama aku melakukannya, semua terlihat sangat membosankan.
"Apa kau tahu cara balas dendam yang paling memuaskan? Terutama pada William dan Eliza," tanyaku bingung.
Tentu saja aku bertanya padamu, karena kerja sama kita di mulai dari sekarang.
Lagipula, kau adalah anak angkat yang di hormati, bukan?
Sebentar, aku lupa kalau aku ada menyimpan sebuah surat ancaman yang kudapatkan dari kamarku.
Kuambil surat itu dengan cepat, dan memberikannya pada Serlia.
"Lupakanlah pertanyaanku. Ini adalah surat yang berisi sebuah ancaman. Kira kira siapa yang menulisnya?" tanyaku memberikan surat itu pada Serlia.
Ia mengambilnya dari tanganku tanpa mengatakan apa apa. Dasar perempuan datar.
Kulihat Serlia yang membuka suratnya dan membacanya sambil mengerutkan alis.
Setelah membaca semua isi dari surat itu ….
"Tunggu, surat ancaman ini di tulis oleh Eliza! Seperti yang kubaca, aku melihat sebuah tulisan merah kecil di bawah ancaman itu!" kata Serlia kaget melihat isi suratnya.
Eliza yang menulisnya?! Aku baru tahu kalau Eliza pernah mengancam seseorang! Tapi, siapa yang di ancam olehnya?
Sangat misterius ….
"Tenang saja, selama penyamaranmu tidak terbongkar, kita akan menjalankan sebuah rencana mulai besok," lanjut Serlia tersenyum licik.
Benar juga, sesuai tanggal, besok adalah ulang tahun Eliza yang ke-14.
Tapi, aku ingin membuat pestanya bertambah meriah, bagaimana?
Ha~, aku punya ide!
"Serlia, bagaimana kalau kita mengumpulkan sejenis kadal dan laba laba untuk pesta ulang tahun Eliza besok?" tanyaku yang terpikirkan sebuah rencana.
Yah, kurasa Serlia akan senang.
"Pesta ulang tahun Eliza? Besok? Mungkin dengan laba laba dan kadal saja tidak akan cukup"
"Biasanya, di pesta ulang tahun, seorang Raja akan memberikan sebuah pedang suci pada anak/Adiknya"
"Dengan mematahkan pedang sucinya, ini akan bertambah menarik, bukan?"
Rencana lainnya sudah tersusun sempurna oleh Serlia. Kau sangatlah luar biasa, Serlia!
"Aku setuju," kataku tersenyum licik.
Keesokan harinya ….
Masih di hari libur, aku bangun dari tidurku sambil menggosok mataku.
Hoam~
"Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun si cabe merah itu! Seperti kemarin, rencana sudah tersusun dengan baik," kataku sambil menggosok mataku.
Serlia Arthera …., itu adalah nama karanganku yang menjadi nyata.
Ah~, aku baru ingat kalau penampilanku sudah kembali semula.
Rambut Golden Blonde yang lebat, mata Emerald berkilau ini, benar benar menunjukkan kalau itu adalah aku. Benar benar menyebalkan!
"Srygirs Erolia," ucapku.
Berlahan lahan, penampilanku kembali menjadi Serlia.
Kuharap Serlia datang hari ini, agar rencana balas dendamku berjalan lancar.
Tiba tiba ….
Brak!
Suara pintu kamar Penyihirku di dobrak oleh Eliza dengan sesuka hati.
Lagi lagi, kenapa harus si nenek lampir ini yang datang ke sini?
"Serlia, cepat buatkan sepatu baru untukku!" perintah Eliza dengan kasar.
Hei hei hei, kau pikir aku adalah designer?! Tunggu saja pembalasanku nanti!
"Baiklah, akan kulakukan," jawabku menatap sinis ke arah Eliza.
Kukeluar dari ruang Penyihir dan pergi ke kamar jelek milik Eliza.
Sesampainya aku di sana, kulihat kamarnya yang begitu berserakan seperti tempat pembuangan sampah.
Pakaiannya yang berserakan, kasur kotor yang di penuhi dengan sepatu, serta tirai kamar yang terlepas membuatku sangat jengkel. Sebenarnya ini kamarmu atau tempat sampah?!
Menjijikkan! Sepertinya akan banyak kecoa, laba laba, dan semacam serangga lainnya yang akan merayap di kamar kotor begini.
Tunggu, serangga? Ide yang brilliant.
Oh, aku baru ingat kalau orang itu memintaku untuk membuatkan sepatu untuknya. Memangnya sepatu seperti apa yang kau inginkan?
Hmm, bagaimana kalau sepatu heels yang sengaja kurusakkan?
Semakin menarik saja.
Beberapa menit kemudian di kamar Eliza ….
Uh, sulit sekali membuat sepatu heels dalam beberapa menit ini. Untung saja ada bagian yang terlihat rusak, maka dengan memakainya, Eliza akan terjatuh.
Sekarang giliran gaunnya! Aku sudah mengumpulkan 15 ekor laba laba untuk kujadikan hiasan gaun dan memasukkannya.
Jangan heran, jenis laba laba ini mengandung rasa gatal yang kuat, seperti luka hijau yang jarang sekali di alami oleh orang orang.
Rasakanlah pembalasanku, Eliza!
Kumasukkan semua laba laba itu ke dalam gaun Eliza dan sebagian juga kuletakkan ke bawah gaunnya.
Jangan lupa masukkan dua ekor laba laba ke dalam sepatunya.
Ini akan mengundang para tamu untuk menertawaimu, Eliza.
"Semua persiapannya sudah selesai. Tinggal tunggu saja pesta meriahnya," kataku tersenyum licik.
Kukeluat dari kamar Eliza dengan sangat bersemangat.
Tiba tiba saja ….
"Salam, Tuan Putri Ersalina"
Suara sambutan dari para Prajurit terdengar jelas di telingaku. Lagipula, siapa Ersalina? Apakah itu adalah Serlia yang sedang menyamar?
Kau pintar juga, ya.
Kuturun ke bawah menuju ruang penyambutan untuk melihat kedatangan Serlia.
Kutunggu aksi extreme darimu, Serlia~
Penampilannya sungguh berbeda dengan kemarin, sangat berbeda.
Rambut ungu berkilau bagaikan Peri, serta mata hitam yang mirip seperti orang biasa.
Sungguh penyamaran yang sempurna.
Beraktinglah seperti kau sedang berada di panggung.
"Putri Ersalina?" tanyaku berpura pura bingung.
"Serlia? Lama tidak bertemu," jawabnya berakting juga.
Bagus, lanjutkan saja!
"Bagaimana pengalamanmu akhir akhir ini?" tanyaku lagi.
"Sepertinya ada yang harus kubicarakan denganmu. Mari pergi ke tempat sepi dulu," jawabnya membawaku ke tempat yang tidak ada orang.
Tung …., kau mau membawaku ke mana?! Bahkan bicara saja belum selesai! Dasar Serlia sialan!
Akhirnya, kami berdua sampai di tempat sepi ini juga. Baik, bicaralah!
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan, Serlia?" tanyaku dengan kasar.
Sttt!
"Apakah rencananya sudah selesai?" kata Serlia bertanya balik.
Tentu saja sudah selesai! Laba laba langka yang tidak di temukan di kebun binatang saja sudah kumasukkan ke dalam aksekoris si cabe merah kep*r*t itu!
"Semuanya sudah selesai. Tinggal kadal dan pedang saja yang belum! Sekarang giliranmu untuk tampil," jawabku dengan berbisik.
Pokoknya kau harus menjebaknya juga, jangan hanya aku yang melakukan semua ini!
"Baiklah, kau tenang saja, Cath. Rencana cemerlang kita berdua pasti akan berjalan lancar," kata Serlia tersenyum jahil menatapku.
Kau terlalu bersemangat, wahai Putri Serlia yang terhormat.
Sudahlah, minggir! Aku mau berdandan dulu!
"Aku mau berdandan dulu, permisi. Ingat, jalankan tugasnya dengan baik selagi aku tidak ada," perintahku dengan datar.
"Baik, Putri cerewet," jawabnya sengaja mengejekku.
Cerewet katamu? Ternyata Putri angkat terhormat sepertimu tidak bisa menjaga ucapan, ya!
Pantas saja aku merasa nyaman bersama teman seperti dirimu!
Tanpa kusadari, di belakangku ….
Puk~
"Kau mau ke mana, Serlia?" tanya seseorang yang menepuk bahuku dari belakang.
Siapa lagi kalau bukan Samson, tunangan Eliza yang telah membunuh Catherine.
Eh? Samson? Tidak, aku harus menghindarinya agar tidak di bunuh olehnya!
.
.
.
[Bersambung]