The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 77



Huft~


"Kira kira, bagaimana reaksinya jika tahu dia sendiri sudah buta? Maaf, tapi inilah balasan karena telah menyuruh Samson untuk membunuh Catherine," kataku tersenyum licik.


Yah, aku merasa lega, lega sekali! Yang kuinginkan telah kulakukan dan kubuat Eliza membayar semuanya atas perbuatannya sendiri.


Hmm, minggu depan pestanya akan di mulai? Kenapa jadi di percepat? Aku jadi semakin bingung.


"Kenapa bukan di tanggal 25 saja? Padahal, ini masih terlalu cepat," lirihku cemberut.


Tidak apa apa, mungkin di tanggal 25 sampai akhir bulan nanti, pestanya akan semakin meriah.


Waktunya mempersiapkan pakaian bagus!


Rata rata semua gaunku berwarna putih dan hijau. Apakah tidak ada warna lain?


Warna biru sangat sedikit, tapi sangat jelek di mataku. Warna merah terlalu mencolok tapi hanya ada 3 di lemari.


Jadi, apa yang harus kupakai? Semuanya tampak kuno di mataku. Coba saja zaman ini sudah mengenal gaun pendek.


Sayangnya, kedua Kakakku tidak suka melihatku berpakaian lengan pendek karena dapat menarik perhatian laki laki secara tak langsung.


Jujur, kedua Kakakku terlalu perhatian padaku, membuat hari hari bebasku merasa tertahan.


Tetapi tenang saja, Kak Carl sudah memiliki Veronica, jadi aku bisa bebas kapanpun aku mau.


Hanya tersisa Kak William yang belum memiliki pasangan kekasih, begitu juga denganku.


Tidak ada gadis luar yang di sukai oleh Kak William, bisa di bilang kalau Kak William tidak terlalu tertarik pada perempuan yang di luar.


Aku bingung, siapa yang di sukai Kak William yang memiliki wajah tampan begini? Serius, Kak William adalah laki laki tertampan di Istana Arshleyer.


Sedangkan aku? Bisa di bilang kalau aku ini cantik. Sayangnya, siapa laki laki yang menyukaiku?


Hu~, apakah aku akan kesepian?


Sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal konyol ini? Sebaiknya aku fokus mencari pakaianku.


Wow, bagaimana kalau gaun hitam dengan hiasan bunga es di bawahnya? Kelihatan bagus, aku menyukainya.


Siapa yang menyiapkannya untukku? Perasaanku, Kakak dan siapapun tidak pernah menyiapkan gaun sebagus ini untukku.


"Siapa yang memberikannya? Aku jadi penasaran," kataku sambil melihat hiasan gaunnya.


Tiba tiba ….


"Aku yang menyiapkannya untukmu, jangan lupa di pakai minggu depan," jawab seseorang dari jendela yang bernama Samson.


*Masuk*


Tunggu, serius gaun hitam ini di siapkan olehnya khusus untukku?!


Astaga, sejak kapan kau memberikannya padaku?! Terlebih lagi, gaun ini memiliki beberapa hiasan kecil seperti Mutiara.


Benar benar bersinar, aku tidak menyangka kau akan memberikan gaun indah mencolok ini padaku.


"Terima kasih, Samson," jawabku tersenyum paksa.


Dengan berlahan, Samson mengecup keningku sekilas dan tersenyum.


Cup~


"Sampai jumpa minggu depan, muridku. Latihan akan di tunda hingga kau sembuh," kata Samson tersenyum dan pergi lewat jendela.


Hah?!


Ke …. ke …. keningku di kecup?! Bukankah ini pertama kalinya aku mengalami hal semacam ini?!


*Blushing*


Aku tidak mau ada yang mengetahuinya, bisa bisa nanti hubunganku dengan Samson sebagai guru dan murid di putuskan oleh Kakakku.


Ingat, hanya sebatas guru dan murid, bukan sepasang kekasih.


Ah, sudahlah! Tidak perlu banyak pikiran! Sebaiknya kurebahkan diriku di kasur agar pikiranku semakin tenang.


.


.


.


1 minggu kemudian ….


Pesta telah di mulai, banyak orang yang datang menyambut dengan sukacita.


"Bersulang!"


Ting!


Aku dan Serlia merayakannya dengan meminum Wine merah buatanku. Haha, aku suka pesta ini.


Untunglah gaun hitam ini cocok untukku, kalau tidak maka pestanya akan hancur karena penampilanku.


Kenapa aku tidak melihat Eliza? Apakah dia tidak datang? Padahal aku sudah bersusah payah menuliskan surat untuknya sebagai tanda undangan.


"Serlia, menurutmu apa Eliza sialan akan datang?" tanyaku menatap Serlia.


"Menurutku, ia pasti datang. Kau harus ingat, Eliza bukanlah orang bodoh yang bisa kita sindir dengan mudah," jawab Serlia mengerutkan alisnya sambil mengocok gelas Winenya.


"Begitu ya, baiklah. Aku tidak akan bertindak terlalu kejam dulu, tapi aku akan menjatuhkannya secara berlahan," kataku tersenyum licik.


"Tenanglah, aku selalu ada untuk membantumu," jawab Serlia juga tersenyum licik.


Eh? Samson? Dia sudah datang? Kapan ia muncul? Aku tidak tahu bagaimana reaksinya jika ia melihatku mengenakan gaun hitam miliknya.


Semoga is senang melihatnya.


Dari jauh ….


*Menoleh*


"Catherine? Ternyata kau ada di sini. Aku mencarimu ke mana mana," kata Samson tersenyum menghampiriku.


Soal minggu lalu …., aku masih berpikiran hingga sekarang. Tentang kecupan itu ….


Ah! Singkirkan pikiran kotor itu, Saphira! Memang pertama kalinya keningku di kecup oleh laki laki lain selain kedua Kakakku.


Termasuk Samson satu satunya, aku kesulitan melakukan apa apa karenanya.


"Ehm, aku memang berada di sini daritadi," jawabku memandang ke arah lain.


Hah? Kenapa dia menatapku terus?


"Ehem, kau terlihat cocok dengan gaun itu," kata Samson dengan wajah memerah.


Cocok? Kau serius? Gaun ini terasa sempit setelah kupakai tadi. Untunglah aku ada memakai korset untuk mengecilkan badanku sedikit, maka gaun ini cocok untukku.


Perasaan terpaksaku tidak bisa di cegah, aku selalu bertindak berlebihan.


Huh~


"Terima kasih atas pujiannya," kataku berusaha tersenyum.


Tak lama kemudian ….


Tak!


Tak!


Tak!


Suara sepatu terdengar dari telingaku. Itu artinya, Eliza sudah datang!


"Apa kita sudah sampai, Michelle?" tanya seorang perempuan yang ternyata adalah Eliza.


Sebentar, kenapa matanya di ikat dengan kain putih? Apakah dia sungguh buta?


Akhirnya, usahaku tidak sia sia dalam membuatnya jatuh ke dasar jurang!


Haha, bersyukurlah selagi kau memiliki mata baru dariku, Eliza.


"Tenang, kita sudah sampai di pesta," jawab Michelle tersenyum.


Huh, carilah tempat duduk kalian sendiri, aku tidak peduli dengan orang jahat seperti kalian berdua.


Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu.


*Celingak celinguk*


Benar juga, di mana ketiga kembar dan Raja Arsula? Apakah dia tidak tahu kalau hari ini Kak William membuat pesta?


Parah sekali, padahal aku sedang membutuhkannya.


"Oh, bagaimana bentuk pestanya?" tanya Eliza penasaran.


Percuma kau bertanya tapi kau buta, sungguh orang jahat yang pantas di beri karma!


"Pestanya sangat meriah, terang, dan menyenangkan. Aku suka melihatnya," jawab Michelle membohongi Eliza.


Apa maksudmu berbohong? Apa kau tidak kasihan pada nyawanya? Urus saja mayat hidup Eliza itu, aku tidak mau melihat wajahnya.


"Pencari perhatian, hanya karena mata tertutupnya, dia bisa membuat orang lain kasihan padanya?" tanya Serlia menatap Eliza dengan tatapan tidak suka.


"Hmph, benar juga apa yang kau bilang. Nanti, ada pesta dansa di sini. Kita buat dia tersandung saat ia menggerakkan kakinya dan menyalahkan Michelle, mengerti?" kataku mulai menyusun rencana licik.


"Haha, aku setuju. Buatlah dia semalu mungkin dan putar balik kebenarannya," jawab Serlia meminum Winenya.


"Benar, putar balik kebenarannya dan menyalahkan Michelle. Aku bisa melakukannya jika ada Samuel di sini," kataku juga meminum Wineku.


.


.


.


[Bersambung]