
Samson Gilbert Van Arlensix:
Dan tunggu, dia mengajakku memanah? Sebentar, di sini tidak ada lapangan memanah.
Bayangkan jika aku keluar dan Kakak pulang ke Istana tanpa melihatku, pasti kejadian waktu itu akan terulang lagi.
Hah~
Mau bagaimana ya? Apa sebaiknya aku pergi keluar Istana secara diam diam?
Oh, pikirkanlah, Saphira!
Pada akhirnya, aku hanya bisa menggunakan satu cara yang nekat, yaitu keluar dari Istana tanpa sepengetahuan Kakakku maupun Serlia.
Biasanya, aku memanah di hutan karena tempatnya memiliki banyak pohon daripada halaman belakang Istana.
Beranikan dirimu agar Kakakmu tidak harus mengekangmu.
Yah, aku satu satunya gadis yang tidak suka di kekang, berbeda dengan Eliza yang sangat suka di kekang.
"Aku terima," jawabku tegas.
____________________________________________
Di hutan ….
Huh, sulit sekali untuk keluar dari Istana! Biasanya, aku keluar hanya sebentar, tapi kini memakan waktu lama.
Untunglah aku sudah membawa busur dan anak panahku, kalau tidak maka memanah saja tidak bisa.
Dan aku baru saja meminjamkan kudaku pada Samson. Sekarang, ia yang menunggang kudaku dan aku duduk di depannya.
Rasanya hangat meskipun usia kami beda 5 tahun, ingin kurasakan kehangatannya.
Eh? Apa yang sedang aku pikirkan? Padahal aku sama sekali tidak suka padanya.
Entah kapan aku akan mendapatkan seorang lelaki baik di duniaku yang sekarang ini.
"Ada apa denganmu, Cath?" tanya Samson menatapku dari belakang.
"Tidak, mataku kemasukan debu," jawabku menggosok mataku.
Jangan berpikir aku menangis, padahal aku hanya membohongi Samson.
Huh, perjalanan ke hutan bersama laki laki adalah pengalaman pertamaku. Sebelumnya, aku memanah di hutan bersama Eliza sialan itu.
Sekarang, aku bersama seorang laki laki yang tidak jelas asal usulnya.
Dengan mata biru langit yang indah ini, aku teringat akan warna mataku yang berwarna biru laut.
Apakah kami di takdirkan untuk bersama? Tubuhku adalah milik Catherine tapi jiwa dah hatiku tetaplah milikku.
Yang jelas, sifat dan kepribadianku dengan Catherine jauh berbeda, namun aku tidaklah mengeluh.
Masalahnya, apakah Samson benar benar berubah? Karena sifat dan kepribadiannya yang berbeda dengan yang ada di dalam novel membuatku masih tidak yakin akan semuanya.
Pasti ada yang ia sembunyikan.
"Baguslah kalau begitu, sebentar lagi kita akan turun," kata Samson fokus menunggangi kudaku.
Yah, aku hanya membalasnya dengan anggukanku dan kembali diam.
...
Suasana begitu hening, aku harus bicara apa dengannya?
Tiba tiba ….
*Berhenti*
Eh? Kita sudah sampai? Apa kau serius? Ini adalah gua ….
"Kita berburu di sini. Aku ingin mengajakmu berburu Darkmoon Lion," kata Samson turun dari kuda yang di ikuti olehku.
Darkmoon Lion? Hewan Mitologi yang berasal dari Negeri ini? Baiklah, aku ikut.
"Aku terima," jawabku tegas.
Kami berdua berjalan ke dalam gua tanpa membawa obor.
Gelap dan sunyi, terlihat seperti tempat menyeramkan yang di penuhi dengan kelelawar.
Karena tidak dapat melihat kegelapan, kugenggam erat tangan kanan Samson dari belakang dan terus mengikuti langkahnya.
Melihatku yang menggenggam tangannya, Samson menjadi bingung akan kelakuanku.
*Menoleh ke belakang*
"Catherine, kau ketakutan?" tanya Samson dengan matanya yang menyala terang.
Takut kepalamu! Aku tidak bisa melihat ruang gelap!
Terus, bagaimana caranya kau membuat mata birumu bersinar? Bahkan aku bisa melihat cahaya lagi karena efek pantulan cahaya dari matamu.
Tapi, kenapa mataku tidak bisa?
"Samson, matamu bersinar?" tanyaku sedikit terkejut.
"Yah, begitulah. Mataku adalah sumber cahaya dan dunia bagiku. Itulah kenapa aku tetap bisa melihat walaupun di gua ini sangat gelap," jawabnya memandang ke depan.
Oh, aku mengerti sekarang. Pantas saja kau selalu merasa santai dengan penglihatanmu.
Masuk akal ….
Tak lama kemudian ….
Aku dan Samson telah melihat cahaya terang berwarna emas di sisi gua dalam.
Apakah itu artinya kita sudah sampai?
"Inilah tempatnya, rumah bagi hewan buas yang menyukai kegelapan," kata Samson berjalan mendekati gua itu yang di ikuti olehku.
Sesampainya di dalam, kulihat tubuh singa putih dengan lambang bulan di keningnya.
Astaga, sungguh singa yang indah, aku suka warnanya.
Zzz ….
Tidur ya? Manis sekali. Harus menggunakan cara hati hati untuk memburunya.
Samson, kau yakin kau bisa melakukannya?
Kulihat Samson yang menutupi kepalanya dan mengambil busurnya dari punggungnya.
Sttt!
Baiklah, aku tidak akan berisik.
Pelan pelan kuberjalan mengikuti Samson dari belakang dengan suara langkah kaki yang tidak terdengar sama sekali.
Astaga, singanya sangat besar, bagaimana cara memburunya? Terlebih lagi, singanya sedang tidur.
"Apa kau yakin rencana kita akan berhasil?" tanyaku berbisik.
"Percayalah padaku," jawab Samson berbisik.
Hah~
Kuterus berjalan tanpa peduli adanya sssuatu di kakiku.
Tiba tiba saja ….
Crack!
Duh, bagaimana ini? Aku tidak sengaja menginjak batang kayu yang ada di bawah kakiku.
Dan ….
*Membuka mata*
*Mendengus*
Groar!!!
Singanya sudah bangun, pasti Samson akan marah padaku.
Sial, lagi lagi aku menggagalkan rencananya!
"Catherine, lari!" teriak Samson menyuruhku lari.
Tidak ada waktu untuk lari, meninggalkanmu sendirian di gua bukanlah hal yang baik!
Kukeluarkan busur dan anak panahku dan mulai menembakkannya ke arah singa itu.
Sebelum menembak, yang harus di atur adalah angin dan nafasku.
Hah~
"Fokuslah menembak, jangan sampai tidak mengenai sasaran," lirihku fokus.
Kulepaskan tali busurnya dan anak panahnya bergerak maju ke arah singanya.
Anehnya, anak panah itu sama sekali tidak melukai tubuh singanya. Ah! Sudah bersusah payah aku berusaha menembak, tapi tidak mengenai singa itu!
"Sudah kubilang cepatlah lari! Jangan pedulikan aku!" teriak Samson marah.
Baru kali ini aku melihat Samson semarah ini padaku. Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini.
"Maaf, aku tetap ikut denganmu," jawabku tegas.
Tanpa kusadari, singa itu tiba tiba ….
Sring!
Groar!!!
Ouch!
Kakiku sakit sekali ….! Singa sialan, atas dasar apa kau mencakar kakiku hingga menimbulkan luka besar seperti ini?!
Menyebalkan ….!
Kulihat Samson yang berlari menghampiriku dan memegang kakiku yang terluka akibat dari cakaran singa.
"Catherine, kau tidak apa apa? Sudah kubilang larilah dari sini. Lihatlah, kakimu terluka sangat parah," kata Samson panik.
"Jangan khawatir, aku baik baik saja," jawabku berusaha menahan sakit.
"Tidak, biarkan aku membuat lukamu jadi semakin membaik," kata Samson serius.
Tangannya masih setia memegang kakiku.
Ia mulai dekatkan wajahnya pada kaki bagian luka kakiku yang tepat di bawah lututku dan menghisap darahku.
*Blushing*
Entah kenapa aku merasa kalau kakiku mulai membaik.
Karena bibirnya yang terus menghisap darahku, jantungku berdegup begitu kencang.
Deg~
Deg~
Deg~
"Apa yang kupikirkan? Tidak ada salahnya jika Samson ingin membantuku," batinku.
Piuh!
"Aku sudah terbiasa meminum darah, jadi biarkanlah aku membersihkan darah yang ada di kakimu ini," kata Samson serius dan melanjutkannya lagi.
Suasana yang pertama kali kualami, aku merasa malu mengakuinya.
Jangan berpikir yang aneh aneh, sekarang biarkanlah Samson melakukan kewajibannya.
.
.
.
[Bersambung]
~Obrolan Author:
Halo semuanya, ini aku Silvia(Silvi). Maaf kalau aku telat update, di karenakan aku sedang ada kegiatan terima raport di sekolah.
Yang buat aku senang hari ini adalah, aku mendapatkan peringkat 1 di sekolah.
Bukan bermaksud pamer, tapi aku hanya mau menceritakan pengalamanku saja.
Mulai besok, aku pasti akan kembali update lebih banyak lagi.
Selalu ikuti ceritaku ini ya, see you all~
~Keterangan:
Gambar di atas adalah panel.