
Tolong biarkan aku melihat!
Kusingkirkan tanganku dari Samson dan diam diam mengintip Kakak dan Veronica dari belakang kursi taman.
Srekk!
*Mengintip*
Dari jauh ….
"Carl, sebenarnya aku sangat suka tempat ini, rasanya seperti mengingat pertama kali kita bertemu"
"Waktu itu, aku sempat tenggelam di danau itu, dan untunglah kau menyelamatkanku sebelum aku kehilangan nyawa"
"Terima kasih, Carl, kau membuatku menyukai tempat ini," kata Veronica lembut.
Kata katamu manis tapi tidak terlalu menyentuh. Aku takut Kak Carl tidak menyukainya.
"Ehm, sama sama. Aku sangat senang bisa mengenalmu juga"
"Dan maaf kalau satu ciuman berhargamu telah kuambil," jawab Kak Carl memalingkan wajahnya dengan sedikit perasaan malu.
"Tidak masalah, asalkan kita masih bisa bersama," kata Veronica tersenyum manis.
"Yah, menurutku juga begitu," jawab Kak Carl membalasnya dengan senyuman.
Bisa bisanya kalian berdua melakukan hal seperti ini di depanku! Akan kuawasi terus tingkah laku kalian hingga melewati batas sedikitpun!
Tak akan kubiarkan kalian berdua menjalin hubungan dulu sebelum Kakak lulus dari akademi ini.
"Benar benar manis, senyumanmu sama seperti permen, sangat manis," kataku baper.
Di belakangku, Samson yang duduk di kursi taman menatapku dengan aneh karena aku yang sedang mengintip dari balik semak semak.
"Cath, apa yang sedang kau lihat?" tanya Samson heran.
Dasar, kau mengganggu suasana baikku saja! Aku sedang bosan, makanya aku memilih untuk mengintip.
"Ehm, tidak, aku hanya mengambil sedikit buah Cruelberry ini untuk di makan," jawabku tersenyum sambil memakan buah Cruelberry.
"Baiklah, jangan pergi sebelum waktu bersenang senang kita selesai," kata Samson berbalik ke arah danau.
"Baik," jawabku singkat.
Fiuh, hampir saja ketahuan! Melihat hubungan asmara Kak Carl dengan Veronica ternyata sangat sulit.
Kulihat, Anna muncul secara tiba tiba dengan membawa keranjang yang berisikan Bunga Daisy.
"Carl, lihatlah aku yang membawa ….," kata Anna seketika ucapannya terhenti.
Tanpa di sengaja, Anna menjatuhkan keranjang Bunganya dan berlari meninggalkan danau secepat mungkin.
Untung saja Kak Carl dan Veronica tidak tahu. Kalau sampai mereka mengetahuinya maka sifat aslimu sebagai pelac*r akan ketahuan!
Jangan jangan, Anna menangis setelah melihat kemesraan Kak Carl dengan Veronica. Apakah dia sakit hati?
Lupakan, lagipula tidak penting kalau aku mengkhawatirkannya.
"Anna, kau benar benar keras kepala," lirihku mengerutkan alisku.
Semoga hubungan kalian berjalan dengan baik, Kakak.
__________________________________________________
Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di dalam sekolah. Samson pergi meninggalkanku karena ada urusan lain.
Akhirnya dia meninggalkanku juga, kalau tidak maka rantai kehidupan akan tertanam di dalam hatiku.
Tidak boleh, jangan sampai terpesona dengan ketampanannya, Saphira.
Tiba tiba ….
Akh!
"Anna?! Kenapa kau mendorongku?!" tanya seseorang yang suaranya mirip seperti Veronica.
"Maaf, tanganku licin," jawab Anna.
Ada apa di belakang? Eh? Aksi pembullyan antara Anna dan Veronica? Dasar, ternyata keegoisanmu bisa meracuni otakmu juga ya!
"Atas dasar apa kau mendorongku hingga jatuh begini?" tanya Veronica kasar
"Sudah kubilang kalau tanganku licin," jawab Anna memutar bola matanya.
"Tidak, pasti kau ada alasan lain!" kata Veronica merasa tidak percaya.
Dengan kasar, Anna memegang bagian bawah dagu Veronica dan mengarahkan wajahnya hingga mendekat pada wajah Veronica.
"Apa kau tahu perasaanku saat melihatmu bersama laki laki yang kusukai?" tanya Anna kasar.
"Maksudmu, kau suka pada Carl?!" kata Veronica bertanya balik.
"Kau tahu apa yang lebih sakit lagi? Yang lebih sakit adalah melihat laki laki yang kusukai menyukai sahabat baikku sendiri!"
"Padahal, wajahku lebih cantik daripada punya dirimu! Kau pikir kau bisa bersaing denganku?!" jawab Anna panjang lebar.
Emosi Veronica semakin naik saja. Dengan kuat, Veronica mematahkan tulang tangan Anna hanya dalam sekali sentuh.
*Bangun*
"Breaking Bone," ucapnya.
Parah, ini terlalu mengerikan! Bahkan orang seperti Veronica yang memiliki tingkat rendah saja bisa menguasai sihir langka itu.
Yah, yang lebih keren itu adalah Serlia dengan julukan "Ratu sihir".
Sudahlah, itu tidak penting untuk di pikirkan. Yang terpenting adalah melihat persaingan cinta antara gadis cantik dan jala*g perebut kekasih orang lain.
Jujur, aku sangat membenci Anna seperti halnya aku membenci Eliza.
Argh!
"Sakit sekali ….! Apa kau tega dengan sahabatmu sendiri?!" tanya Anna kesal.
"Bagaimana aku tidak tega setelah mengetahui sahabatku mau merebut kebahagiaan milikku? Kau pikir aku akan percaya begitu saja denganmu? Mimpi saja!" jawab Veronica datar.
Melihat wajah datarnya, Anna bergidik takut, tetapi masih berani melawannya.
Orang seperti Anna tidak pantas untuk di tiru!
"Ingatlah, aku akan membuat Carl jatuh cinta padaku sebelum kau yang merebutnya dariku!" kata Anna masih kesakitan.
"Merebutnya? Maaf, siapa yang mengizinkanmu merebut cinta pertamaku? Jangan lupa kalau kau pernah menipu 1000 laki laki di dunia ini!" jawab Veronica mengibaskan rambutnya dengan elegan dan meninggalkan Anna sendirian.
Tunggu, 1000 laki laki katanya?! Gila, apa yang di katakan novel ternyata benar kalau Anna adalah jala*g pelac*r yang berasal dari Kerajaan Griseliyd.
Pantas saja Kak Carl tidak menyukaimu, ternyata kau memang perempuan hina di matanya!
Ah! Aku juga mau pergi meninggalkanmu, selamat tinggal, jala*g.
Kuberjalan menuju ke dalam kelas dan tiba tiba saja aku di dorong dari belakang hingga tersungkur.
Bruak!
"Sakit sekali, siapa yang mendorongku?!" tanyaku kesal sambil menahan sakit.
"Aku, memangnya kenapa?" jawab orang yang bernama Eliza.
Sial! Atas dasar apa dia mendorongku?! Aku sama sekali tidak mencari masalah dengannya!
"Memangnya kenapa kau mendorongku?" tanyaku heran.
"Ini peringatan untukmu karena kau telah mendekati Samson!" jawab Eliza kasar.
Mendekati Samson? Aku? Hei! Kau pikir aku ini mau bersama tunanganmu yang bodoh itu?!
"Aku tidak pernah menyukainya dan jangan pernah memperingatiku seperti anak anak," kataku hampir emosi.
"Bagaimana cara menjelaskannya? Aku melihatmu bermesraan di danau bersamanya. Yang lebih parah lagi adalah tanganmu yang di pegang olehnya!" jawab Eliza semakin kasar.
"Itu benar, tapi aku tidak pernah menyukainya!" kataku berusaha menjelaskannya.
"Jangan berbohong dengan alasan apapun!" jawab Eliza tidak percaya.
Kubangun dari lantai dan mendaratkan satu tamparan pada Eliza agar mulutnya tidak banyak bicara.
Plak!
Argh!
"Kenapa kau menamparku?! Apa kau sadar dengan kesalahanmu?!" tanya Eliza mengelus pipinya yang kutampar.
"Ini adalah pelajaran untukmu kalau aku tidak pernah menyukai b*j*ng*n Samson milikmu itu!" jawabku emosi.
"Kau mau menipuku lagi?!" tanya Eliza semakin marah.
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi ke pipi Eliza. Sudahlah, aku bisa emosi berat kalau Eliza yang berbicara tidak jelas padaku.
"Sekali lagi aku bilang padamu kalau aku tidak pernah menyukai tunanganmu yang gila itu! Terserah kau saja ingin memilikinya atau tidak, aku tidak peduli," jawabku yang kali ini tidak bisa menahan emosiku lagi.
.
.
.
[Bersambung]