
Keesokan harinya ….
Hoam~
Kubangun dari tidurku dan menggosok mataku.
Di mana Samson? Apakah dia sudah pergi? Biarkan saja, lagipula aku tidak butuh di temani.
Kubangun dari kasurku, dan pergi berjalan ke arah cermin berada. Setelah sampai, kududuk di kursi dan hanya memandang ke depan cermin.
Hmm, betapa buruknya wajahku setelah bangun tidur, rambutku sangat berantakan.
Yang kupikirkan sekarang adalah Samson. Entah mengapa, rasanya aku tidak bisa melupakan wajah Samson walaupun hanya sebentar sehingga terbawa ke dalam mimpi.
Dan bodohnya, aku tidak sadar kalau aku memberinya kecupan selamat malam.
*Blushing*
Ah! Apa yang sedang kupikirkan?! Kumohon jangan banyak berpikir!
Hah~
Masih tetap memandangi cermin, aku terlalu banyak pikiran hari ini. Kapan perasaan ini muncul?
Mungkin akan rumit jika aku jatuh cinta padanya. Tidak, bukan saatnya untuk jatuh cinta padanya.
Kalau di pikir pikir, sepertinya Samson memang berbeda dengan yang ada di dalam novel.
Di dalam novel, pertama kali Samson melihat Catherine adalah sebuah malapetaka baginya.
Setiap hari, Catherine mendapatkan perlakuan buruk, siksaan, maupun cambukan darinya.
Si tokoh utama laki laki, Alexander, berkali kali mengejar cintaku, tapi cintanya harus bertepuk sebelah tangan karena kematian Catherine yang tak bisa ia terima.
Hemm, ternyata perbedaan alur cerita di novel dengan yang aslinya jauh berbeda ya. Apakah hanya aku yang tidak sadar?
Kepribadian Samson jauh berbeda dengan yang di novel. Siapa perempuan yang di sukainya?
Selama ia menjelaskab ciri cirinya, aku tidak tahu siapa perempuan itu!
Serius, kenapa aku terlalu banyak pikiran? Sudahlah, hari ini aku masih libur dalam latihan.
Saatnya aku butuh waktu istirahat tanpa keluar rumah.
Tidak mungkin aku pergi ke perpustakaan hari ini, karena buku buku yang ada di sana sudah kubaca semua.
Dan juga Serlia melarangku menemuinya hari ini karena ia sedang menguji nyali.
Mengerikan, apakah hobimu segila itu? Bahkan racun dari danau air panas saja kau minum.
Benar benar pantas kusebut Putri pemberani.
Yah, apa yang harus kulakukan? Samson tidak akan datang karena aku libur berguru dengannya.
Apa aku akan bermain sendirian? Aduh, kalau begitu, aku pasti bosan.
Ahh~
Bagaimana kalau aku memanggil desainer datang ke Istana dan memintanya untuk membuatkan gaun baru untukku?
Hehe, ternyata aku pintar juga.
Sudahlah, aku mandi dulu.
.
.
.
Setelah selesai mandi ….
Aku memakai gaun biru yang tidak terlalu mencolok ini. Hah, bagaimana cara memanggil desainer? Di zaman ini, telepon saja belum ada.
Sebaiknya kuminta dengan Kak William saja, dia pasti mau.
Kukeluar dari kamarku dan menutup pintu, lalu pergi berlari menuju ke arah ruang kerja pribadi Kak William berada.
Sesampainya aku di ruang kerja pribadi Kak William, tak lupa kuketuk dulu pintunya agar Kak William tidak mengira bahwa aku adalah orang jahat.
Tok!
Tok!
Tok!
Cukup 3× saja kuketuk, yang kudapat hanyalah jawaban singkat dari Kak William.
"Masuk," jawab Kak William dari dalam.
Menyebalkan.
Kubuka pintunya berlahan dan masuk ke dalam. Semoga Kak William menyetujui permintaanku.
"Kakak, apakah Kakak bisa memanggilkan desainer untukku?" tanyaku.
"Desainer? Untuk apa?" tanya Kak William padaku.
"Aku sedang kehabisan gaun dan ingin memiliki yang baru. Lagipula, aku sama sekali tidak berbuat apa apa di sini," jawabku biasa saja.
Jangan bilang kalau Kak William tidak mau memanggilkan desainer untukku? Tidak, jangan berpikir hingga ke sana, Saphira.
"Selain membaca buku, kau tidak ada kegiatan lain?" tanya Kak William melipat tangannya di atas meja.
Kugelengkan kepalaku, memberitahu bahwa aku memang tidak ada kegiatan lain.
Hukumanku masih di tangan Kak Carl, bagaimana mungkin aku akan keluar rumah jika hukumannya belum selesai.
Untunglah Kak Carl telah pergi bersama Veronica untuk melakukan kencan pertama mereka berdua.
Hu~, betapa beruntungnya dirimu, Kak~
"Hukumanku belum di lepaskan oleh Kak Carl, jadi aku tidak bisa keluar jalan jalan," jawabku dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa Carl menghukummu hingga seberat itu?" tanya Kak William serius.
Kau terlalu banyak bertanya, Kak! Tentu saja karena aku pernah menipunya.
"Aku tidak sengaja menipunya kalau Veronica datang mencarinya," jawabku tersenyum.
Puk~
Kulihat Kak William yang menepuk wajahnya dengan tangannya.
*Menghela nafas*
"Apa kau tahu apa yang akan terjadi jika kau mencari masalah dengan Carl? Dia pasti akan menghukummu tanpa memikirkan siapa dirimu," jelas Kak William santai.
Akhirnya aku tahu juga apa yang di maksud oleh Kak William. Kak Carl terlalu memandang serius dalam segala hal.
Coba saja aku tidak mengerjainya waktu itu, pasti hukumanku tidak ada.
"Begitu ya, baiklah, aku mengerti. Tapi, bisakah Kakak memanggil seorang desainer untukku?" tanyaku sekali lagi.
"Maaf, Kakak menolak. Kakak mau bekerja dulu, silahkan pergi," jawab Kak William tegas sambil mengerjakan berkas berkas yang ada di mejanya.
"Ta …. tapi."
"Tidak ada kata tapi."
Huh, kau pelit, Kak. Baiklah, aku akan pergi.
Ceklek~
Kututup pintunya dan kembali ke kamar.
Setelah sampai di kamar, kurebahkan diriku di kasur dengan posisi telentang dan memegang gulingku.
Ah! Membosankan! Dengan siapa aku akan bermain?!
"Seandainya ada Samson yang siap menemaniku, maka aku pasti tidak akan bosan," kataku menyembunyikan kepalaku menggunakan gulingku.
Tiba tiba ….
"Kau kesepian saat aku tidak ada? Apakah kau merindukanku?" tanya seseorang dari jendela.
Tunggu, suara itu seperti ….
"Samson? Apa kau tidak sibuk?" tanyaku kaget.
"Kalau untukmu, aku pasti akan datang tanpa harus sibuk," jawab Samson masuk ke kamarku.
Kakinya melangkah ke arahku dan semakin mendekatiku. Daguku di pegang olehnya seperti ingin berciuman saja.
Terlalu dekat, aku tidak ingin berciuman dengan siapapun!
Mata biru yang indah, aku suka melihatnya.
Tatapannya juga tidak terlalu menyeramkan, aku sangat menyukai mata indahnya.
Sebenarnya siapa dia?
"Rambutmu …., ada sesuatu yang menyangkut di rambutmu," kata Samson mengambilkan debu yang menyangkut di rambutku.
Eh? Sesuatu yang menyangkut di rambutku? Mungkinkah debu? Aku pikir dia akan berbuat macam macam terhadapku.
"Terima kasih," jawabku dengan wajah memerah.
Samson langsung menjauh dariku dan duduk di kasurku, begitu juga denganku.
"Kenapa kau datang ke sini tanpa memberitahuku?" tanyaku bingung.
"Ehm, aku sedang ingin menemanimu, karena di Istana aku bosan berpedang," jawab Samson serius.
Kau juga bosan? Kebetulan sekali, aku juga sedang bosan.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanyaku.
"Menurutmu?" jawab Samson bertanya balik.
Tu …. tunggu, sejak kapan wajahmu mendekat begini? Semuanya tidak terlihat aneh, bukan?
Ingin sekali kupukul wajahnya, tapi tanganku di tahan olehnya.
Bagaimana cara melepaskannya? Apakah dia benar benar gila? Kumohon, lepaskan aku!
"Aku ingin mengajakmu memanah. Apa kau mau?" tanya Samson menatapku serius.
Eh? Apa aku yang sedang sakit sehingga aku salah menanggapinya?
.
.
.
[Bersambung]