
*Menelan saliva*
Glek~
"Ma …. maaf, aku sedang ada urusan penting, sampai jumpa," jawabku tersenyum aneh.
"Mau pergi ke mana?" tanya Serlia yang masih berada di depanku.
Yah, aku baru ingat kalau di sini masih ada Serlia.
"Sudah kubilang kan? Aku mau berdandan dulu," jawabku dengan kasar.
Sudahlah, aku pergi dulu dari mereka berdua ini!
________________________________________________
Sekarang, aku sudah berada di ruang Penyihir, tempat di mana aku berteduh sekarang.
Sialan, andai saja si William tidak terpengaruh dengan ucapan si jala*g itu, maka aku tidak akan jadi seperti ini.
Dasar Eliza kep*r*t, aku tidak akan memaafkanmu!
Saatnya berdandan ….
.
.
.
Beberapa menit kemudian ….
Akhirnya aku bisa menjadi cantik juga, cantik seperti Penyihir yang di hormati oleh para rakyatnya.
Gaun merah darah milikku ini persis seperti punya Serlia sialan itu!
Untung saja dia mau membantuku, kalau tidak maka berjuang sendiri pun aku tidak akan sanggup.
Ah, lupakan apa yang tadi kukatakan! Sekarang, aku pergi saja ke acara ulang tahunnya.
Sesampainya aku di ruang penyambutan, kulihat meja yang sudah tertata dengan rapi, kue ulang tahun Eliza yang di olesi dengan berbagai macam krim.
Di tambah lagi dengan 25 botol Wine yang tersusun secara berurutan membuat suasana hatiku berlahan lahan mulai membaik.
Terdengar suara musik dari piano, biola, dan harpa yang menghiasi telingaku dengan lembut.
Suasana ini …., seperti di surga~
Aku senang menikmatinya dengan santai.
Eh, ngomong ngomong, di mana Serlia? Apakah kadal dan pedang sucinya sudah di urus?
Semoga saja rencana kami berdua tidak gagal!
*Menggigit bibir*
"Kapan Serlia datang ke sini? Apakah rencananya sudah selesai? Kumohon cepatlah datang!" gumamku menunggu Serlia.
Sebenarnya orang itu pergi ke mana sih?! Bisa bisanya dia lama begini!
Sudahlah, kutunggu saja dia di sini.
Serlia POV
Kadal sebagai hiasan kue sudah siap dan pedang suci yang patah juga sudah siap.
Semuanya sudah beres, tinggal menunggu pesta di mulai saja.
Pasti Catherine sedang menungguku daritadi, biarkan saja dia di sana sendirian.
*Tersenyum jahil*
"Maafkan aku, Cath, aku pergi mencari Eliza dulu~" kataku diam diam tersenyum jahil.
Memang benar, saat ini aku sedang ingin menjahili Catherine. Sangat menyenangkan memiliki teman yang sepemikiran denganku.
Hem, bagaimana rasanya memiliki teman? Aku belum pernah mengalaminya.
Dulu, sahabatku satu satunya adalah Carl, orang yang sebangsa dengan diriku.
Raja Lordsorius sudah banyak membantuku dan Ibu, begitu juga sebaliknya. Itulah alasannya aku dapat mengenal Carl sejak berumur 5 tahun.
Yah, aku seumuran dengan Carl sekarang, yaitu 19 tahun.
Eh? Eliza dan Anna? Bagaimana mereka bisa bersama?
Alasan aku bisa mengenal Anna karena dia pernah menyukai Carl.
Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja Ruth menceritakan semua pengalamannya padaku.
Di tambah lagi saat di acara hari kedatanganku yang ke 15, aku pernah melihatnya mendekati para laki laki.
Sejujurnya, aku di adopsi saat berumur 5 tahun dan resmi menjadi Putri angkat dari keluarga Courtines.
Anna, tunggu saja nanti.
Dan, kulihat Eliza tampak senang dengan gaunnya yang di penuhi dengan hiasan laba laba.
Hehe, Eliza benar benar bodoh.
"Lihatlah, sepatu dan gaun baruku sangat cantik, bukan? Tapi, kenapa sedikit sakit saat aku memakainya?" tanya Eliza bingung.
Tentu saja sakit, karena sepatunya sudah di masukkan laba laba oleh Catherine.
Kau sama liciknya dengan diriku, Cath. Kita berdua sangat cocok untuk di katakan sebagai Putri nakal.
Saphira/Catherine POV
Acchiu!
Apakah aku sedang demam? Padahal badanku tidak panas.
Tiba tiba ….
Aaaaarrrgggghhhh!!!!!!
Suara teriakan ini terdengar di telingaku dengan begitu keras.
Setelah di pikir pikir, itu adalah suara teriakan dari Eliza.
Yeah, rasakanlah ketakutanmu, jala*g sialan!
"La …. la …. laba labanya hidup?! Singkirkan semua laba laba ini dari gaunku!" teriak Eliza dengan wajahnya yang membiru.
"Sabar, Eliza, aku juga takut dengan laba laba!" jawab Anna memasang wajah ketakutan.
"Kau ini bagaimana, sih?! Percuma saja menjadi sahabatku kalau kau takut dengan laba laba!" bentak Eliza begitu ketakutan.
Dari jauh, Alica dan Veronica yang menatap mereka berdua merasa bosan untuk menonton pertunjukkan mereka berdua.
"Benar benar tidak berubah, padahal laba laba adalah hewan yang begitu imut," kata Alice memutar bola matanya dengan malas.
"Yah, sangat tidak cocok menjadi Putri Kerajaan," jawab Veronica fokus menatap aksi mereka berdua.
Aku saja lelah melihat mereka yang tidak berani dengan serangga. Kalau takut dengan semua serangga, jangan memanggil diri kalian dengan kata Elegan.
Benar benar memalukan.
Tanpa kusadari, kue ulang tahun yang berada di belakangku ternyata di beri topping kadal oleh Serlia.
Eh? Dia juga tidak lupa dengan katak? Ternyata rencana licikmu lebih daripada yang kau katakan kemarin.
"Benar benar Putri Elegan ya, aku saja tidak sanggup menghadapinya," lirihku tersenyum aneh.
Katak? Kadal? Bagaimana dengan pedangnya? Serlia tidak lupa, kan?
Ah, aku lelah sekali memikirkannya! Lebih baik aku duduk dulu.
Hmm? Kenapa Eliza menatapku seperti melihat musuh saja? Ya ampun, memang ya salah apa lagi aku?
"Serlia, lihatlah gaunku, sepatuku! Semuanya penuh dengan laba laba! Apakah ini ulahmu?!" bentak Eliza kasar.
Sesuai dugaanku, kau pasti tetap protes dengan sepatu dan gaun buatanku.
Jawab saja apa yang ingin kau katakan.
"Salahku? Apa kau tidak tahu kalau kamarmu penuh dengan kecoa, laba laba, lalat, dan berbagai serangga lainnya?" tanyaku menaikkan alis kiriku.
Cukup jawab dengan kata kata ini.
Maaf ya, aku sama sekali tidak mau membersihkan kamar menjijikkanmu itu, hahahahaha~
Seperti yang kulihat sekarang, emosi Eliza dan Anna meledak begitu cepat.
Menyenangkan juga membuat mereka jengkel begini.
"Diam, Serlia! Kamarku adalah tempat yang paling bersih daripada kamar Penyihirmu!" kata Eliza dengan kasar mencekik leherku.
Ugh, kuat sekali cengkraman orang ini …., aku tidak mampu menahannya ….
Serlia, cepatlah datang!
Tak lama kemudian, ada seseorang yang mencekik Eliza dari belakang sehingga membuatku terlepas dari cengkraman Iblisnya.
Orang itu …., Serlia?! Kenapa kau lama sekali?! Aku lelah menunggumu!
"Apakah ini yang di sebut dengan Putri kalau perlakuannya pada orang lain sangatlah kasar? Benar benar tidak bisa kumaafkan!" kata Serlia dengan mata merahnya yang bersinar.
"Ugh, hen …. hentikan ….," jawab Eliza tidak mampu menahannya lagi.
Tanpa pikir panjang, Serlia melepaskan tangannya dari leher Eliza sehingga menyebabkannya tersungkut ke lantai.
Kau jenius, Serlia!
"Ini adalah pelajaran untukmu, sebaiknya ingatlah tata krama di Kerajaan ini. Putri macam apa yang hanya bisa melukai rakyatnya jika tidak berani menolong orang?" kata Serlia memasang tatapan menakutkan.
.
.
.
[Bersambung]