The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 3



"Eliza! Apa kau belum puas terus menyakiti Catherine sampai ia menangis?!" kata Kak William maju untuk membelaku.


Bingo, kau pintar juga ya, Kak William!


Ia hanya tersenyum diam diam padaku, dan berpura pura serius seperti Kakak yang membela Adiknya saat tertindas.


Plak!


Satu tamparan dari Kak William mendarat di pipi Eliza.


Eliza meringis kesakitan sambil mengelus pipinya. Ia pikir bahwa baru pertama kali ia di tampar oleh Kakak tertua.


"Apa apaan ini, Kak?! Tolong jangan salahkan aku dalam hal apapun! Ini semua adalah salah Catherine!" kata Eliza sambil mengelus pipinya yang kesakitan.


Hmph! Aku sudah muak dengan semua aktingmu! Kau pikir dengan pipimu yang di tampar ini, kau bisa menarik simpati semua orang? Lihatlah aktingku!


"Kak Eliza, aku tahu Kakak begitu membenciku karena melihatku secantik ini …. hiks …., tapi tolong jangan menumpahkan kesalahan Kakak padaku …. hiks ….," kataku berpura pura menangis lagi.


Perasaan emosi Eliza sudah mulai muncul. Ia sangat marah karena akting yang kubuat.


Aku hanya diam berdiri di samping Ayah, Ibu, dan kedua Kakak laki lakiku.


Masih dengan mataku yang berkaca kaca, semua orang terus melihat wajahku dan tak sengaja mereka semua merendahkan Eliza.


"Astaga, Putri Catherine sangatlah polos untuk di tindas"


"Dasar Putri tidak tahu malu, ternyata Putri Eliza berani memarahi Putri Catherine juga ya!"


"Aku pikir bahwa Putri Eliza adalah orang yang polos, tapi ternyata ia adalah iblis!"


Semua orang mulai meninggalkan acara penobatan ini.


Eliza merasa tidak terima dengan semua kenyataannya dan menangis kesal.


Haha, rasakanlah karma yang kau terima sekarang, Eliza! Ini baru permulaan!


Aku lihat Kak Carl yang maju menampar Eliza, tapi kali ini di pipi kirinya


Plak!


Tamparan itu mendarat ke pipi kiri Eliza seperti yang kulihat, karena tadi Kak William menampar pipi kanan Eliza.


"Lihatlah, Eliza, kau sudah menghancurkan acaranya! Kau pikir dengan semua kejadian yang kau perbuat tadi akan kumaafkan?! Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena kau melukai Adikku!" marah Kak Carl pada Eliza dengan sangat serius.


Hei, padahal ini hanya akting, hanya akting. Tapi, kenapa Kak Carl menanggapinya terlalu serius?


Yah, seperti tadi, Eliza mengelus pipi kirinya sambil meringis kesakitan akibat tamparan dari Kak Carl dan Kak William.


"Ouch, sakit sekali ….," lirih Eliza.


"Kak, apakah tidak cukup kalau hanya dengan satu tamparan saja?! Aku sudah sangat kesakitan!" bentak Eliza mengeluarkan air matanya berlahan lahan.


"Cukup, Eliza! Kami semua tidak mau mendengar apa yang kau katakan!" jawab Ibu marah pada Eliza.


Kepalaku di elus oleh Ibu, tangannya sehangat dengan Cahaya Matahari.


"Tenang ya, Cath, Eliza hanya belum bisa belajar dewasa," kata Ibuku sambil mengelus kepalaku.


Mana mungkin, Eliza yang kubaca di novel adalah orang yang begitu kejam padaku!


Sebenarnya, Eliza sudah bersikap dewasa. Tapi, karena hanya rasa irinya pada Catherine, maka semua sifat jahatnya akan keluar.


Andai saja kalau aku adalah penulis novelnya, pasti alur cerita itu akan kuubah!


Dunia novel memang sangat mengerikan ….


Untung saja, aku berhasil mengakhiri acara ini dengan sempurna, karena ini adalah acara yang dapat membuatku ke ending yang buruk itu.


"Iya, Ibu, Aku mengerti maksud Kak Eliza," jawabku berpura pura mengerti.


Hah, umur yang kuinjak ini adalah 7 tahun, umur di mana aku masih belum dewasa.


Ternyata, berpura pura menjadi anak polos memang menyenangkan, ya.


Yah, seperti yang kubilang tadi, acara sudah berakhir. Kami semua masuk ke dalam meninggalkan Eliza sendirian di luar Istana.


Hati Eliza benar benar hancur karena perkataanku tadi, tentu saja ia benar benar memarahiku.


Acchiu!


Mulai lagi, perasaanku menjadi kacau seketika.


Aku sudah berada di dalam bersama Ayah, Ibu, dan Kedua Kakakku.


"Ehm, maafkan aku karena tadi membuat Kak Eliza menjadi marah," kataku memasang wajah polos.


"Tidak apa apa, ini bukanlah salahmu," jawab Ayah dengan lembut.


"Kau tidak salah, Catty, yang salah adalah Eliza yang terus menerus menyiksamu di depan mataku!" kata Kak Carl marah dengan kelakuan Eliza tadi.


Tunggu sebentar, Kak Carl memanggilku Catty? Panggilan macam apa ini? Kak, aku bukanlah anak kecil lagi.


"Meskipun begitu, Kak Eliza tetaplah Kakak ketigaku," jawabku berpura pura mengerti.


Tentu saja Kak Carl mengerti maksudku. Karena ada hal yang ingin di bicarakan, Kak William tiba tiba menarik tanganku dan tangan Kak Carl secara bersamaan dan tidak tahu ingin membawa kami berdua ke mana.


"Ikut denganku," perintah Kak William.


"Untuk apa kau menarik tangan kami berdua seperti ini?!" tanya Kak Carl kesal.


Aku hanya diam tak bersuara saat tanganku di tarik, karena Kak William terlihat menyeramkan ….


"Astaga, bagaimana bisa aku punya Kakak yang memyeramkan seperti itu? Tenang saja, ini hanya dunia novel," gumamku sambil mengatur nafasku.


Setelah sampai di tempat, yaitu perpustakaan, tanganku dan tangan Kak Carl di lepaskan oleh Kak William dan memulai pembicaraannya terlebih dulu.


"Catherine, bagajmana kau bisa seberani ini pada Eliza? Biasanya kau takut padanya," tanya Kak William padaku.


Gawat, aku sudah tidak bisa berkata kata karena pertanyaan ini! Saphira, apa yang akan kau lakukan?!


"Uhm, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa membuat Kak Eliza menjadi marah begini ….," jawabku begitu gugup.


"Aku sangat kagum padamu, Catty. Dari dulu, aku juga tidak pernah menyukai Eliza," kata Kak Carl memasang wajah murung.


Kak Carl tidak pernah menyukainya? Di dalam novel tidak tertulis alasan kenapa Kak Carl begitu membenci Eliza.


Mungkin, aku bisa bertanya padanya.


"Mengapa Kakak bisa begitu benci pada Kak Eliza?" tanyaku bingung.


"Karena Eliza bukanlah Adik Kandungku," jawab Kak Carl memasang wajah datar.


Apa?! Bukan Saudari Kandung?! Kalau begitu, selama ini ada rahasia apa yang di sembunyikan oleh Eliza?!


"Apa yang Kakak maksud?" tanyaku sekali lagi dengan bingung.


"Ini semua berawal dari Ayah yang di kendalikan dengan kekuatan sihir milik Nona Arlia"


"Malam itu, aku tidak sengaja melihat Ayah melakukan sesuatu pada Nona Arlia"


"Beberapa bulan kemudian, Ayah terpaksa tanggung jawab atas semua perbuatannya pada Nona Arlia. Tetap saja aku tidak pernah menerimanya!"


"Tapi, satu tahun kemudian, tepat di usiaku yang sudah menginjak 5 tahun bersama William, aku mendengar kabar bahwa Eliza adalah anak perempuan dari Nona Arlia, dan satu satunya Adik Tiriku"


"Ibu begitu marah mendengar kabar itu dan Ibu pergi membunuh Nona Arlia dengan pedangnya sendiri"


"Meskipun begitu, Ibu tidak akan pernah membunuh Eliza karena dia masih kecil, makanya Ibu memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak"


"Begitulah cerita yang sebenarnya, Eliza bukanlah Adik Kandungku, melainkan Adik Tiriku"


Kak Carl telah menceritakannya padaku di depan Kak William.


Entah mengapa, aku masih begitu membencinya meskipun sudah mendengar cerita dari Kak Carl.


.


.


.


[Bersambung]