
Serlia Arthera Ve Courtines:
Baguslah, kau boleh pulang. Waktu bermain kita berdua sudah selesai.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu," jawabku ingin masuk ke dalam.
Baru saja aku ingin masuk, tapi aku di panggil olehnya.
"Tunggu, ada satu hal lagi yang ingin kuberikan padamu," kata Samson memanggilku.
Yah, kuhampiri saja dia.
Secara tiba tiba, ia mengecup keningku sekilas dan menunggangi kudanya.
Cup~
"Aku pergi dulu, sampai jumpa minggu depan," katanya menunggangi kudanya dan pergi.
Kusentuh keningku dengan telapak tanganku. Astaga, apakah dia memang melakukannya padaku?
Ah! Sebaiknya aku masuk ke dalam!
"Selamat datang, Yang Mulia Tuan Putri Catherine"
Seperti biasa, aku pulang dan menerima sambutan dari para Pelayan.
Tunggu, apakah Kak Carl sudah pulang? Kalau benar, habislah aku~
Aku baru ingat kalau Kak Carl tidak mengizinkanku bersama Samson, padahak kami baru saja dekat.
"Jangan sampai ketahuan kalau aku pergi dari Istana tanpa izin," lirihku panik.
Tiba tiba ….
"Selamat datang, Yang Mulia Pangeran Carl"
Apa?! Kak Carl baru pulang?! Jadi, aku sudah keduluan?
Untunglah, kukira aku akan di hukum lagi.
"Selamat datang, Kakak. Apakah kencanmu berjalan lancar?" tanyaku gembira.
"Lumayan, Veronica sangat senang ketika aku mengajaknya makan siang," jawab Kak Carl senang.
"Oh, jangan lupa kalau kita akan mengadakan natal 15 hari lagi," kataku mengingatkan.
"Kakak tahu. Sudahlah, ayo kita makan malam," jawab Kak Carl langsung pergi ke ruang makan.
Ciuh, jangan mengabaikanku begini, Kak.
Sudahlah, aku ikuti saja langkahnya.
.
.
.
Keesokan harinya ….
Hoam~
Sudah pagi ya? Membosankan ….
Tiba tiba ….
"Selamat datang, Yang Mulia Tuan Putri Eliza"
Suara dari bawah ini …., Eliza datang ke Istana? Ada rencana apa lagi yang dia susun?
Sebaiknya aku pergi mandi dulu dan pergi ke bawah menemuinya.
...
Beberapa saat kemudian ….
Kukeluar dari kamarku dengan pakaianku yang rapi dan turun ke bawah buru buru.
Tap!
Tap!
Tap!
Eliza dan Michelle?! Apa lagi yang mereka rencanakan?! Apa pesta malam waktu itu belum cukup baginya?!
"William, kita bertemu lagi," kata Michelle angkuh.
"Atas dasar apa kau datang ke sini tanpa seizinku?" tanya Kak William menaikkan alisnya.
"Aku hanya ingin mencari Catherine dan Serlia. Apakah mereka berdua ada di sini?" tanya Michelle.
Bodoh, ternyata mencariku dan Serlia ya? Mudah, Serlia akan datang tanpa harus di panggil dulu.
"Ini aku, memangnya kenapa?" tanyaku tersenyum miring.
"Kenapa hanya kau sendiri? Di mana Penyihir sialan itu?" kata Michelle bertanya balik.
Dari jauh, Serlia muncul dan menampakkan dirinya secara tiba tiba.
"Aku di sini. Ternyata Penyihir tidak berguna sepertimu juga bisa mencariku," jawab Serlia menampakkan dirinya.
Sejak kapan kau muncul? Jangan bilang kalau kau terus mengikutiku.
"Bagaimana kau tahu kalau aku sedang mencarimu?" tanya Michelle kaget.
"Maaf, aku tidak dengar apapun," jawab Serlia santai memandang ke arah lain.
"Penyihir sialan! Kau selalu membuatku marah!" kata Michelle kesal.
"Benarkah? Bukankah kau juga sama?" tanya Serlia santai.
"Telanlah, aku tidak melarangmu," jawab Serlia sengaja.
Berdebat denganmu memang tidak mudah, aku menyerah. Tapi, berkat kata katamu, emosi Michelle berhasil terpancing.
"Kau ….!" kata Michelle yang hampir tidak bisa berkata kata.
"Aku kenapa? Cantik? Haha, terima kasih karena ingi memujiku," jawab Serlia menyelesaikan kata katanya.
Huh! Aku bahkan tidak tahu kau cantik atau jelek. Yang jelas, kau sangat pintar dalam berdebat.
"Bilang pada Penyihirmu, jangan bersikap kurang ajar pada Michelle!" kata Eliza marah.
Matanya masih di tutupi kain? Kapan kau akan melepaskannya?
Hah~
"Eh? Sejak kapan matamu di tutup?" tanyaku mengalihkan pembicaraan dan pura pura tidak tahu.
"Heh, ini karena rencana licikmu!" jawab Eliza kesal.
"Kau menuduhku? Percayalah, aku tidak pernah membuatmu buta," kataku berbohong.
Kau pikir kau akan bebas begitu saja? Tidak, aku harus membuatmu membayarnya!
"Jangan menipuku, dasar perempuan munafik!" jawab Eliza semakin marah.
Munafik katamu? Hah? Apa kau tidak salah bilang? Sayangnya, aku bukan orang munafik seperti dirimu!
Percaya atau tidak, suatu hari nanti kau pasti mengkhianati Michelle.
"Siapa yang munafik? Bukankah kau yang pantas di sebut munafik karena telah membunuh Ayah dan Ibuku?" tanyaku tersenyum miring.
Mendengar ucapanku, Eliza tidak berani berkata kata sambil mengeluarkan keringat dingin yang bercucuran.
Takut? Beruntung Samuel belum mengetahui rahasia ini, kalau sudah tahu maka siap siap mati saja.
Aku tidak peduli lagi denganmu, yang jelas kau sekarang sudah buta dan tidak dapat melihat dunia!
"E …. e …. em, bisakah kau tidak sembarangan berbicara?" tanya Eliza sedikit ketakutan.
"Aku berbicara berdasarkan kebenaran, bukan kebohongan maupun omong kosong!" jawabku kasar.
"Kau gila, Cath!" kata Eliza tanpa sadar mengeluarkan air matanya.
Orang jahat juga bisa menangis ya. Kau harus tahu betapa bencinya aku pada dirimu, Eliza.
"Sudahlah, Michelle, ayo kita pulang," kata Eliza mengajak Michelle pulang ke Istananya.
"Pulang? Tapi aku belum selesai menghadapi si Penyihir tua ini!" jawab Michelle seraya bola matanya menunjuk ke arah Serlia.
Berani bilang Serlia dengan kata Penyihir tua, maka balasanmu tidaklah ringan.
"Kau memanggilku Penyihir tua? Tanpa harus berlari lagi, aku akan memberikan hadiah untukmu," kata Serlia tersenyum licik.
Plak!
Plak!
Plak!
3× tamparan dari Serlia mendarat sempurna ke pipi Michelle. Rasakan itu, memangnya enak jika di pukul?
Ouch!
"Tunggu di hari natal nanti, akan kubuat kau menjadi debu yang tidak bisa di lihat sedikitpun!" kata Michelle kasar dan langsung mengantar Eliza pergi.
Menjengkelkan, aku tidak mengerti tujuan kalian berdua mencariku.
Sudahlah, untuk apa kupikirkan? Sebaiknya aku kembali ke kamar.
"Karena masalah sudah selesai, aku ke kamar dulu," kataku singkat dan pergi ke kamar.
Setelah sampai di kamar ….
Bugh~
Kurebahkan diriku di kasur sambil memandang ke atas langit langit. Aku tetap bosan hari ini, tidak ada yang mau menemaniku dan bermain denganku.
Tapi, bagaimana dengan sihirku? Akhir akhir ini, aku merasakan sebuah kekuatan di dalam tubuhku.
"Triliapus Grosellilya," ucapku.
Tiba tiba, muncullah cahaya ungu yang menyinari tanganku dan membuat kayu kecil yang ada di depanku hancur dalam sekejap mata.
Crack!
Warna ungu tengkorak ya? Apakah kekuatan sihirku mengalami kenaikan tingkat?
Kalau itu benar, maka ….
*Tersenyum*
"Akhirnya kekuatan sihirku benar benar naik! Aku akan menjadi Putri Kerajaan yang terpandang dan terhormat," kataku senang.
Hah~
Bagaimana caranya aku berterima kasih pada Samson? Karena dia, kekuatanku bertambah dengan cepat.
Aku benar benar berterima kasih padanya, ternyata Samson tidak sejahat dari yang kupikirkan.
"Aku tahu ini berat untuk kuakui, tapi, terima kasih telah menjadikanku sebagai muridmu. Jangan lupa 15 hari nanti, kita akan merayakan natal bersama sama," lirihku sambil memeluk gulingku.
.
.
.
[Bersambung]