The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 54



Heh!


"Itu artinya, kau adalah anak perempuanku!" jawabnya tersenyum miring.


Aku anaknya?! Tidak mungkin, dia pasti sudah gila!


"Jangan coba coba mengaku kalau kau adalah Ayahku! Nama orang tuaku adalah Raja Lordsorius dan Ratu Hera, kau mengerti?!" kataku menjelaskan semua padanya.


Tampaknya, dia tidak akan percaya dengan kata kataku. Jangan bilang kalau aku akan di bunuh? Tidak, aku masih terlalu muda untuk mati!


"Akan kutunjukkan siapa Ibumu sebenarnya," jawabnya menatapku dengan tajam.


Baiklah, cepat tunjukkan orangnya! Aku ingin lihat seberapa mirip aku dengan orang yang kau sebut Ibuku.


Dengan santai, Raja membuka tirai merah yang ada di belakang kursinya.


Tunggu, kenapa dia mirip sekali denganku? Rambut merah yang sangat menyala itu punyaku, dan mata biru milik Raja itu juga punyaku!


Kenapa? Bukankah aku adalah anggota keluarga Arshleyer? Tapi, aku memang tidak memiliki kemiripan wajah dengan Ayah dan Ibu.


Aneh, aku lebih mirip dengan wanita yang ada di lukisan itu, dan juga Raja kejam yang kutemui.


Tolong jelaskan seluruh rahasia yang tidak kuketahui! Apakah selama ini aku di bohongi?!


"Inilah Ibu Kandungmu yang sebenarnya, Arlia Srylpharuna. Dialah yang melahirkanmu sejak dia mengambil kekuasaan Kerajaan Aeshleyer pertama kali"


"Sayangnya, Ibumu mati di tangan Hera sejak kau baru lahir"


"Jadi, kau bukan anak dari Lordsorius maupun Hera, melainkan anakku dan Arlia"


"Heh, Lordsorius bisa tertipu juga dengan Arlia kalau kau adalah anaknya, padahal itu alasan agar Arlia bisa menguasai Kerajaan Arshleyer"


"Maaf kalau aku mengatakan yang sebenarnya padamu," jelas Raja panjang lebar.


Jadi, selama ini kebohongan yang di katakan oleh keluarga Arshleyer sangat berhubungan dengan identitasku?


Pantas saja Catherine berkata kalau aku memiliki identitas, ternyata apa yang di katakan olehnya bukan kebohongan.


Aku yang terlalu bodoh selama ini, kenapa aku tidak bisa mengetahuinya sedangkan aku harus mempermalukan diriku untuk menjadi Putri pertama Arshleyer?


Kejam, benar benar kejam! Tidak bisakah aku mendapatkan sebagian Kerajaan dari kalian walaupun hanya sedikit?


Pembalasan dendam ini tidak boleh lengah, saatnya aku menerima keluarga Kandungku.


"Baiklah, setelah di pikir pikir, aku tidak mungkin mirip dengan Raja Lordsorius dan Ratu Hera"


"Mulai sekarang, akulah anak Kandungmu, Eliza Srylpharuna!" kataku percaya diri.


Raja senang mendengarnya dan membelai kepalaku dengan lembut.


"Itu baru Putriku," jawabnya senang.


*Tersenyum licik*


Nantikan saja pertunjukkan kita berdua, Cath! Aku akan membalasmu!


.


.


.


Di wilayah A ….


Serlia POV


Amarahku tidak terkendali, ingin kuhabisi pasukan pasukan dan 3 kembaran konyol ini!


Kau telah menyebabkan Catherine menerima bahaya, jadi bayarannya akan lebih besar!


Setiap kali aku melihatnya, entah kenapa Arlia selalu muncul di tatapanku!


Benar, amarahku tidak bisa di kendalikan lagi!


"Cepat menjauh dariku, kalian berdua!" kataku mengarahkan pedangku pada Louis dan Helson.


Karena Hans sudah terjatuh, maka giliran mereka berdua yang akan menerima pembalasannya.


Tang!


Sial, pedangku di tangkis!


"Bodoh sekali, kau pikir kami lemah?" tanya Louis menaikkan alis kirinya.


Tang!


Untung aku terlahir sebagai gadis kuat dan pintar!


"Aku tidak berpikir begitu, karena diriku terlahir sebagai anak berdarah Iblis," jawabku sengaja.


Tang!


"Oh, kau sombong juga ternyata," kata Helson mengayunkan pedangnya ke arahku.


Tang!


"Heh! Jangan senang dulu," jawabku menaikkan kedua alisku.


Dulu, aku terus saja berpikir kalau aku benar benar kesepian. Ibuku mati di tangan si ular Arlia, dan aku akan berkelana sendirian.


Tapi, alangkah baiknya aku bisa di angkat menjadi Putri pertama keluarga Courtines sebelum hari kelahiran Ruth.


Mereka sangat menyayangiku seperti anak mereka sendiri meskipun aku bukanlah anak mereka yang sesungguhnya.


Entah kenapa, bayang bayang Arlia masih saja berada di mata dan pikiranku, padahal sihir itu jarang sekali kugunakan.


Ini baru tahap kedua, belum memuncak. Kalau wujudku yang sebenarnya sudah terlihat, maka dunia ini akan musnah.


Tenanglah, Serlia, kau pasti bisa!


Berlahan lahan, aku berubah seperti semula, seperti penampilanku yang biasanya.


"Hooh, maaf kalau aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku, Louis, Hans, dan Helson," kataku menyebut nama mereka.


Mendengarku menyebutkan nama mereka bertiga, Louis menjadi bingung denganku.


"Bagaiman kau bisa tahu nama kami?" tanyanya bingung.


"Rahasia ….," jawabku tersenyum.


Kulihat, Carl berlahan lahan juga kembali seperti semula, persis seperti diriku.


"Apa yang terjadi? Apakah aku berada di alam bawah sadarku?" tanya Carl heran.


"Tidak, kau terpengaruh dengan sihirku," jawabku santai.


Astaga, aku lupa kalau Catherine sedang dalam keadaan sekarat! Aku harus segera membawanya pulang ke Istana!


Kuhubungkan saja semuanya pada William! Ini tidak bisa di biarkan!


"Sihir penghubung jarak jauh," ucapku sambil menekan telingaku dengan menggunakan jari telunjukku.


Yah, sihir ini sudah kulatih selama 10 tahun! Sangat lama untuk menguasainya.


Jenis sihir ini seperti penghubung suara, seperti berbicara jarak jauh.


Jika aku berbicara, maka kata kataku akan terdengar di telinga William, begitu juga sebaliknya.


Kumulai membuka pembicaraan dulu.


Wilayah D ….


William POV


Perang sedang berlangsung sekarang, aku sudah berusaha menangkis pedang para musuh tapi tidak ada yang berhasil.


Apakah aku harus mengakhirinya?


Trek!


Telingaku sakit sekali, seperti ada hewan yang masuk ke dalam.


[William, perang ini harus di akhiri sekarang juga! Catherine sedang terluka akibat di tusuk anak panah! Sekarang juga, tolong akhiri perangnya!]


Suara ini, Serlia? Catherine terluka akibat di tusuk anak panah? Aduh, apa yang telah kulakukan?


Mungkin, Catherine telah kecewa denganku. Tidak, yang penting akhiri perangnya dan menolong Catherine yang terluka parah.


Aku takut kalau panah yang di tembak itu mengandung racun.


"Semuanya, akhiri perang ini karena kita sudah selesai!" seruku dengan suara keras.


Mereka hanya terdiam dan meletakkan senjatanya ke bawah tanah.


"Laksanakan, Yang Mulia! Kami undur diri dulu," jawab mereka serentak.


Untung saja, perang sudah berakhir. Yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa Catherine.


Wilayah A ….


Serlia POV


"Remove magic," ucapku.


Sudah kukabari pada William, perang sudah berakhir.


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


Suara lonceng dari Istana Srylpharuna, itu artinya perang benar benar berakhir.


"Ayo bubar, semuanya! Perang sudah berakhir!" seru Louis dan langsung pergi bersama Pengawalnya.


Akhirnya, Istana Griseliyd sepi juga. Sekarang, aku dan Carl akan membawa Catherine pulang ke Istana!


"Carl, tolong bawa Catherine, kondisinya sekarat dan tidak sadarkan diri," kataku sedikit panik.


"Apa katamu?! Catty sekarat?! Siapa yang membuatnya sekarat?!" tanya Carl marah.


Tenang, nanti Catherine juga akan sembuh. Ingatlah, hanya kau saja yang perhatian pada Catherine daripada William.


"Jangan di pikirkan dulu, yang penting bawa Catherine pulang dan antarlah dia ke kamar," kataku panik.


"Baiklah, aku akan mengantarnya sekarang juga," jawab Carl juga panik.


Di gendongnya Catherine oleh Carl seperti menggendong Putri tidur dan pergi membawanya naik ke atas kuda putih miliknya.


Masalah benar benar banyak, kuharap Catherine baik baik saja!


.


.


.


[Bersambung]


~Obrolan Author:


Tidak ada POV Saphira/Catherine ya? Maaf ya, karena Saphira/Catherine sedang dalam keadaan pingsan, maka Authot buat POV Serlia sebagai gantinya.