The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 74



Tunggu, apa katamu tadi?! Ia mau menyerangku hanya karena aku mendekati Samson?!


Apa dia sungguh gila?! Sebenarnya apa yang dia inginkan?!


Sial, menjadi perempuan cantik tidaklah mudah! Pokoknya aku harus membereskannya dengan cepat!


Oh, atau aku undang mereka besok untuk menginap di Istana dengan alasan yang meyakinkan.


Jangan lupa, aku masih punya ruang rahasia yang selalu kami sembunyikan secara diam diam.


Hanya aku dan Serlia yang tahu keberadaan ruangan rahasia itu, jadi kedua Kakakku sama sekali tidak tahu.


Ternyata aku cerdas juga bisa memikirkan rencananya hingga ke sana. Tenang, aku pasti baik baik saja.


"Kau ada rencana?" tanya Serlia menatapku bingung.


"Tentu saja, rencananya sudah kupersiapkan secara hati hati," jawabku tersenyum licik.


"Rencana apa?" tanya Serlia lagi, tapi kali ini dengan rasa penasarannya.


"Kau tahu letak ruang rahasia kita, kan? Di situlah rencana kita akan di mulai," jawabku tersenyum.


Kudekatkan wajahku pada telinga Serlia dan mulai membisiknya.


*Bisik bisik*


Itulah rencananya, apa kau mengerti?


"Aku baru tahu kau juga bisa membuat rencana. Apa kau sudah kuajari dengan baik?" tanya Serlia kagum.


Mengajar kepalamu, dari dulu aku memang suka membuat rencana.


Nanti akan kami tunjukkan, dengan menggunakan racun Serlia, mungkin semuanya akan berjalan lancar.


Sttt!


Rencananya sangatlah rahasia, cepat atau lambat, kalian pasti akan tahu.


____________________________________________


Di Istana Srylpharuna ….


Eliza POV


Kali ini, aku benar benar marah! Marah sekali!


Aku sudah kehilangan keperawananku, bertunangan dengan orang yang tak kusukai, dan sekarang pipiku di tampar oleh Kak Helson karena dia mengetahui rahasiaku!


Sial! Ini semua adalah perbuatan Catherine dan Penyihir rendahannya! Memangnya aku salah apa dengannya?!


Tidak ada salahnya jika aku menindasnya hanya karena dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan!


Sedangkan aku?! Aku kehilangan semuanya karena dia! Orang yang sangat kubenci di dunia ini adalah CATHERINE!


Jadi, hari ini aku mau mencelakainya karena dia berani mendekati Samson!


Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja berkat bantuan Michelle yang menggunakan teknik pencabut bola matanya.


Yah, Michelle bukanlah orang biasa. Seperti Alexander, dia sangat pintar melepaskan bola matanya dan meramal apa yang terjadi.


Oleh sebab itulah aku memilihnya sebagai Penyihir istimewaku. Tidak seperti Penyihir jelek dan rendahan milik Catherine, yaitu Serlia!


Kuingin pergi ke rumahnya dan memutuskan untuk menginap 1 hari dengan alasan kalau Ayah sedang mengusirku.


Lalu, akan kutaruh obat racun buatan Michelle ini ke dalam mulutnya saat ia tidur.


Efek racun ini terlalu berbahaya, bisa menyebabkan kelumpuhan pada otak dan pendengaran.


Semuanya sudah kupersiapkan baik baik, jangan sampai rencanaku rusak karenamu, Catherine.


Tidak perlu khawatir, aku juga membawa Michelle demi berjaga jaga.


"Apa kau sudah menyusun rencananya dengan baik?" tanyaku menatap ke arah Michelle yang sedang membuat sesuatu berupa racun.


"Rencana yang kususun selalu baik, kau pasti akan senang setelah melihat hasilnya"


"Aku ingat, perempuan yang paling berbahaya di Kerajaan Arshleyer adalah Serlia, Penyihir pribadi Catherine yang suka mencari masalah"


"Setahuku, dia bersikap lembut di depan orang tuanya, tapi kasar di depan orang orang"


"Sungguh tidak sopan, apakah dia pantas di sebut Putri?"


"Yang ingin kukatakan padanya adalah, dia terlalu mirip dengan Ratu sejarah yang bagaikan anj*ng jalanan itu, Freora!"


"Hahahahaha!"


Michelle, kata katamu sama sekali tidak terlalu kasar. Kalau kau mengatakan semua itu di depan Serlia, maka sebutir debu pun tidak akan kau sisakan lagi.


"Benar, jadi buatlah dia seperti apa yang kau katakan tadi!" kataku tersenyum miring.


Tak lama kemudian ….


Ada yang melemparkan kertas gulung padaku.


Terlebih lagi, kertas gulungnya di ikat menggunakan pita merah.


*Melepaskan ikatan*


*Membuka gulungan*


Sebuah tulisan? Siapa yang menulisnya? Sebaiknya kubaca saja.


...Salam, Tuan Putri Eliza, bukan, maksudku adalah Tuan Putri sampah....


...Jangan lupa datang ke ruang bawah tanah nanti sore, karena pesta menginapnya tidak di kamarku....


...Kalau ketahuan oleh Kak William dan Kak Carl, bagaimana? Apa kalian benar benar tidak mau hadir di pesta yang kubuat dengan tulus?...


...Kalau kau mau datang bersama Penyihir gilamu, akan kutunggu jam 18:00 bersama Serlia. Tapi, kalau kau tidak datang maka kepala, tangan, dan kakimu adalah gantinya....


...Oh, aku juga akan memberitahu sebuah rahasia menyangkut keperawananku yang hilang itu kepada Raja Arsula jika kau membatalkan perjanjian kita....


...Datanglah selagi ada waktu, Eliza k*p*r*t....


^^^Dari Tuan Putri Arshleyer yang terhormat:^^^


^^^Catherine Alveria De Arshleyer.^^^


Jadi, dia benar benar mengetahui rahasia besarku? Tidak, aku harus datang sebelum dia memberitahu rahasiaku pada Ayah.


Aku hampir lupa kalau Ayah memiliki hubungan baik dengan Catherine hanya karena dia seorang Putri dari Raja Lordsorius yang terkenal kejam.


Ruang bawah tanah Istana ya? Aku tahu tempat itu. Untuk apa aku tidur di kamar menjijikkan seperti itu?!


Astaga, selera Catherine dan Serlia ternyata lebih buruk daripada diriku dan Michelle.


"Michelle, tempat yang kita pergi nanti adalah ruang bawah tanah Istana Arshleyer. Apa kau siap?" tanyaku meyakinkannya.


"Kapanpun kau menyuruhku, aku pasti siap," jawabnya tegas.


Hehe, akan kulihat aksi kalian berdua malam nanti ….!


Di Istana Kerajaan Arshleyer ….


Saphira/Catherine POV


Masih berada di ruang Penyihir, aku baru selesai menuliskan surat ancaman untuk Eliza demi memancingnya datang ke sini.


Yah, aku sudah mengetahui rahasia besarnya karena Serlia telah memberitahuku semuanya.


Apakah kau masih mengharapkan Samson? Maaf, kau sudah kehilangan keperawananmu, jadi jangan harap untuk mendapatkan perhatian dari siapapun!


Hahahahaha!


"Terima kasih telah memberitahuku tentang kabar menyenangkan ini! Racunmu bekerja sangat baik, ya," kataku tertawa puas soal rahasia besar Eliza.


"Haha, aku senang memberitahumu kabar baiknya, kau pasti sangat bahagia, bukan?" tanya Serlia juga tertawa.


"Bahagia, bahagia sekali! Dengan membuatnya bodoh begini, dia pasti sudah tidak memiliki harapan!" jawabku senang.


Entah ada angin buruk apa yang membuat Serlia marah.


Apa lagi salahku?! Perasaanku, aku sama sekali tidak menyinggungmu.


"Aku merasa bahwa Michelle sialan itu menyebutku dan Ibuku dengan sebutan anj*ng jalanan!"


"Punya otak untuk cari mati ya? Tenang, aku tulus memberikan satu pukulan untukmu," kata Serlia marah.


Jadi, kau marah hanya karena Michelle? Gawat, sepertinya aku tidak akan tenang jika menatap matamu yang sedang marah.


"Baiklah, aku mengerti maksudmu. Kau bebas memukulnya nanti," jawabku tersenyum paksa.


Huft~


Amarah Serlia berlahan lahan mereda dan kembali duduk memeriksa sebotol racun yang ia buat.


"Yah, aku mengerti apa maksudmu, tapi terlalu cepat jika aku langsung menukulnya"


"Mulailah dari cara tidak langsung dulu, itu pasti akan membuatnya lengah hanya dalam waktu singkat"


"Nanti malam, kita lihat aksi mereka berdua yang menyedihkan!" kata Serlia sambil melihat lihat botol racunnya yang transparan.


Aku tahu, kau selalu menganggap masalahmu sendiri terlalu kecil, bahkan lebih kecil daripada semut sekalipun.


.


.


.


[Bersambung]