The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 91



Ngomong ngomong, Mutiara yang berbaris ini tampaknya hidup. Dunia ini ternyata di penuhi dengan sihir keren ya.


Aku sangat kagum dengan tempat ini, lebih tepatnya aku suka tempatnya.


"Samson, bagaimana kau bisa menemukan tempat yang indah ini?" tanyaku penasaran.


"Ehm, aku tidak sengaja menyelam ke tempat yang lebih dalam dan menemukan semua Mutiara ini," jawabnya serius.


Begitu ya? Aku pikir kau tahu tentang dasar danau.


Eh? Sedang apa dia? Kenapa dia mengambil Mutiara itu?


"Simpanlah Mutiara pemberianku, jangan sampai kau menghilangkannya, mengerti?" kata Samson memberikan sebuah Mutiara kecil padaku.


"Untuk apa?" tanyaku menerimanya.


"Untuk kenangan pertemanan kita di danau ini," jawabnya tersenyum.


Kenangan pertemanan? Tidak buruk. Baiklah, aku akan menyimpannya.


"Aku terima," kataku tersenyum tanpa sadar.


Huh, sepertinya hari sudah mulai sore. Aku harus pulang secepatnya sebelum Kak Carl pulang duluan.


"Samson, bisakah kita berdua pulang sekarang? Aku takut Kak Carl akan mencariku jika dia pulang lebih awal dariku," kataku meminta Samson untuk mengantarku pulang.


"Kau takut Carl pulang duluan sebelum kau? Tenanglah, aku pasti membawamu," jawab Samson santai.


Di genggamnya tanganku olehnya dan kami berdua berenang ke permukaan.


Setelah sampai ke permukaan ….


Bwah!


Akhirnya lega juga, bisa kehabisan oksigen jika terlalu lama berada di dalam danau!


"Karena kita berdua sudah bersenang senang, aku pulang dulu. Sampai bertemu lain hari," kataku biasa saja.


"Kenapa tidak ingin aku yang mengantarmu?" tanya Samson menahan tanganku.


Me …. mengantarku? Apa kau tidak bercanda?!


Tiba tiba, tubuhku di gendong oleh Samson dan berjalan pulang menuju ke Istana.


Lagi lagi, aku sangat tidak suka dengan hal seperti ini!


"Turunkan aku!" kataku memberontak.


"Tidak mau sebelum kita sampai ke Istana," jawab Samson tidak peduli dan terus berjalan.


"Ta …. tapi ….," kataku belum sempat menyelesaikan bicaraku.


"Tidak ada kata tapi, ikutilah arahanku," jawab Samson fokus ke depan.


Sudahlah, lagipula tidak ada gunanya jika aku berdebat dengannya.


...


Setelah sampai di Istana Arshleyer ….


Aku turun dari pelukan Samson dan masuk ke dalam Istana.


"Terima kasih telah mengantarku pulang. Kalau begitu, aku masuk dulu," kataku biasa saja dan berjalan masuk.


Baru selangkah kakiku berjalan, tanganku di tahan oleh Samson secara tiba tiba.


Memangnya apa lagi yang dia mau?


"Jangan lupa kita berdansa bersama ketika natal telah tiba, mengerti?" kata Samson memberitahuku.


Apakah otakmu rusak?! Aku tidak bisa berdansa!


"Apa kau tidak ingat kalau aku tidak bisa berdansa?" tanyaku sengaja.


"Aku tahu, tapi kita coba sekali lagi," jawab Samson serius.


Coba sekali lagi? Terdengar seperti sedang memberikan kode keras untukku.


Sekarang aku mengerti dengan apa yang dia katakan, cukup ikuti arahannya.


"Baiklah, aku terima permintaanmu," kataku tegas dan tersenyum.


Melihat senyumanku, ia juga tak lupa menyunggingkan senyumnya untukku dan pergi.


"Sampai bertemu di hari natal nanti, Cath," kata Samson pergi.


Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam Istana.


Sudah sekian lama, tepat pada 5 tahun lamanya, aku baru bisa merasakan sebuah kepekaan dari seorang perempuan terhadap laki laki.


Di kehidupan sebelumnya, tepat pada umurku yang baru menginjak 13 tahun, aku adalah gadis berkepribadian ceria, namun suka mengganggu orang orang.


Banyak laki laki yang menyukaiku, tapi aku hanya menyukai satu, yaitu Reon.


Dia adalah laki laki yang kusukai sejak lama, tapi aku hanya di abaikan saja. Setelah aku berumur 14 tahun, aku baru tahu kalau Reon menyukai sahabatku sendiri, yang bernama Gabriela.


Dari situlah aku tidak bisa merasakan cinta dan kepekaan terhadap laki laki hingga aku menginjak umur 19 tahun.


Tapi, entah kenapa sekarang kehidupanku sangatlah berbeda. Aku yang masih berumur 13 tahun sebagai Putri Catherine baru bisa merasakan kepekaan terhadap laki laki.


Akhirnya, hidupku yang dulunya di penuhi rantai, sekarang telah bebas hanya dengan gunting untuk mematahkannya!


Eh? Aku ingat apa yang di katakan oleh Samson pada waktu itu.


Bukankah itu adalah ciri ciri dari Putri Catherine? Jangan bilang kalau Samson menyukai ….


*Blushing*


"Sialan, aku baru menyadarinya," kataku tanpa sadar wajahku berubah merah.


Ah! Sebaiknya aku masuk ke dalam saja!


Sesampainya aku di dalam ….


"Selamat datang, Yang Mulia Tuan Putri"


Yah, para Pelayan menyambutku seperti biasanya dan aku senang.


Kuberjalan ke dalam dan pergi menuju ke kamar. Setelah sampai, kubuka pintuku dan masuk lalu kututup kembali pintu kamarku.


Bugh~


Kurebahkan diriku di kasur seperti biasa walaupun gaunku sedikit basah.


Aku lelah sekali! Untung saja para Pelayan tidak curiga padaku kalau aku sedang basah kuyup.


Hah~


Sebaiknya aku panggil Sarah dulu untuk menyiapkan air mandi.


"Sarah! Siapkan air mandi untukku!" kataku memanggil Sarah.


...


Huft~


Kusandarkan diriku di dinding bathum dan menutup kedua mataku agar terasa lebih santai.


Yah, hari ini sangatlah melelahkan. Untunglah aku sudah menyimpan Mutiara milikku di tempat yang aman.


Hmm, aku masih kepikiran tentang Samson. Pantas saja jantungku selalu berdegup kencang saat bersamanya, ternyata aku yang tidak tahu artinya.


Bagaimana Samson bisa menyukaiku? Apakah alur ceritanya berubah sedikit demi sedikit?


Dan dia pernah bilang kalau dia tidak suka pada Eliza. Kenapa seorang tokoh laki laki antagonis menyukaiku secara tiba tiba?!


Ingatlah, tokoh utama laki laki adalah Alexander, orang yang sangat menyukai Catherine.


Sekarang, entah ada dunia aneh apa yang membawa seorang antagonis menyukai seorang tokoh protagonis.


Aneh, bahkan Alexander sendiri jarang menemuiku. Apakah dia adalah tokoh yang terlupakan?


Sudahlah, tidak ada gunanya terus memikirkan hal bodoh seperti itu!


Beberapa saat kemudian ….


Kubuka pintu kamar mandiku dengan piyama kuningku dan meletakkan handukku di atas lemari.


Kurapikan rambutku sambil bercermin dan berdandan seperti biasanya.


Setelah berdandan ….


"Saatnya makan malam bersama keluarga," kataku memandang cermin dengan percaya diri.


Kukeluar dari kamarku dan pergi berjalan ke arah ruang makan.


Sesampainya aku di ruang makan, kududuk di sebelah Serlia seperti biasanya dan menikmati makan malamku.


"Selamat makan," kataku.


Huap~


Nyam~


Tidak ada yang berubah dari rasa makanannya selain enak.


"Cath, hari ini kau terlihat senang sekali," kata Serlia menatapku.


"Yah, aku senang karena dapat menikmati makan malam bersama keluarga," jawabku menikmati makan malamku.


Tanpa sengaja, kulihat tangan Kak Carl yang di balut perban dari Veronica tadi.


Hehe, kau benar benar tidak melepasnya, Kak.


"Carl, ada apa dengan tanganmu?" tanya Kak William yang tidak sengaja melihatnya.


"Oh, aku sengaja menggoresnya karena Veronica hampir kehabisan darahnya sejak tadi," jawab Kak Carl santai.


Aku mengetahui semuanya.


"Tunggu, kau memberikan sebagian darahmu pada Veronica saat ia hampir kehabisan darah?" tanya Serlia sedikit kaget.


Memangnya kenapa kau sekaget itu mendengarnya? Bukankah itu adalah hal wajar?


Ataukah ada maksud lain?


.


.


.


[Bersambung]