The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 2



"Haha, aku tidak menyangka bahwa gaun ini juga memiliki daya tarik yang begitu bagus," kataku tersenyum dengan gembira.


Dengan gaun yang indah ini, aku dapat menarik perhatian Para Rakyat yang datang ke acara penobatan Eliza.


Memang sulit untuk menerima kenyataan ini, tapi mau tidak mau aku harus membalaskan dendam Catherine sampai ceritanya selesai.


Karena sebentar lagi acaranya akan di mulai, aku keluar dari kamarku dan pergi berjalan menuju luar ruangan.


Berlahan lahan aku berjalan ke arah pintu, aku membukanya dengan pelan.


Pintunya sudah terbuka, tapi hanya segaris lubang kecil saja. Diam diam kumengintip dari dalam, kulihat ada banyak sekali orang orang yang datang berkunjung.


Di sana, aku juga melihat Kakak William dan Kakak Carl yang berdiri melambaikan tangan kanannya di depan publik.


Bukan hanya Kak William dan Kak Carl saja, Raja Kerajaan, Lordsorius Alfa De Arshleyer dan Ratu Kerajaan, Hera Alveria De Arshleyer, juga duduk di kursi kursi sambil melambaikan tangan kanannya.


Di tambah lagi dengan Eliza yang hanya berdiri di tengah Raja dan Ratu sambil memasang paras wajah yang polos.


Sungguh menjijikkan! Kau pikir aku akan tertipu dengan wajah polosmu itu?! Ingatlah, hanya aku, Kak William, dan Kak Carl yang tahu kebusukanmu!


"Sebentar lagi adalah giliranku untuk tampil," lirihku memasang senyum licik.


Di luar Istana, aku hanya dapat mendengar suara hormat dari semua orang.


"Hormat pada Putri Eliza!"


"Hormat pada Putri Eliza!"


"Hormat pada Putri Eliza!"


Hanya suara itu yang terdengar jelas di telingaku.


Sudahlah, Saphira, ini adalah waktunya kau tampil ….


Tanpa gugup sedikitpun, aku memberanikan diri untuk membuka pintu hingga mengejutkan semua orang.


Kedatanganku di acara ini membuat Raja, Ratu, dan kedua Kakak laki lakiku menjadi senang.


Entah ada angin buruk apa yang tiba tiba membuat Eliza tidak senang dengan kedatanganku.


"Catherine? Mau apa dia datang ke sini? Sungguh merusak acaraku yang sudah sempurna ini!" gumam Eliza seakan ia sedang membicarakanku.


Acchiu!


Apakah aku sedang masuk angin? Tidak mungkin, aku kan baik baik saja.


Semuanya menatapku dengan tatapan tajam. Memangnya aku ini apa sampai di tatap seperti itu?


Kak William sangat senang melihat kedatanganku di acara ini, begitu juga dengan Kak Carl.


"Catherine? Kau benar benar datang? Ternyata apa yang kupikirkan tidak akan pernah salah," kata Kak William dengan senang melihat kedatanganku.


"Aku pikir kau tidak akan datang, tapi untunglah kalau kau sudah ada di sini, Adikku," kata Kak Carl juga tersenyum melihat kedatanganku.


Raja dan Ratu juga senang melihatku dapat hadir di acara Eliza, padahal aku datang ke sini hanya dengan sebuah tujuan, yaitu membuat Eliza menjadi kehilangan muka di depan Para Rakyat.


"Hehe, aku baik baik saja. Mana mungkin aku tidak akan datang ke acara penobatan Kak Eliza," jawabku tersenyum paksa.


Aku ingat saat Catherine memanggil Eliza dengan sebutan Kak Eliza, karena Catherine sangat menyayanginya.


Ciuh, panggilan yang sungguh memalukan! Aku sangat tidak menyukai panggilan itu!


"Oh, ternyata Catherine. Bagaimana kau bisa datang ke acara ini tepat waktu?" tanya Eliza dengan menaikkan alisnya.


Hmph! Kau tampak begitu jelek dengan ekspresi wajahmu yang polos itu!


"Te …. tentu saja karena aku ingat kalau hari ini adalah acara penobatan Kak Eliza," jawabku tersenyum paksa untuk kedua kalinya.


Yah, suasananya menjadi hening seketika ….


"Tidak, bukan begitu, hanya saja kami sedang canggung," jawab Kak Carl sambil mengangguk kepalanya.


Aku hanya mengangguk tanpa berkata apa apa, tapi Eliza terus menatapku dengan tatapan tajamnya.


Keringat dingin di sekujur tubuhku mulai bercucuran, suasana tampak canggung hari ini. Bahkan orang orang yang menghadirinya juga diam.


Terus, bagaimana dengan rencanaku selama semuanya menjadi terdiam seketika?


Ha~, aku punya ide!


"Kak Eliza, bukankah kau tidak perlu tersenyum terus seperti itu? Ini terlihat begitu memalukan di depan semua orang," kataku sengaja memancing emosi Eliza.


"Memangnya kenapa? Aku tidak merasa malu sedikitpun," jawabnya dengan begitu angkuh.


"Bukan itu, maksudku, Kak Eliza hari ini kurang berdandan," kataku tersenyum riang.


"Kurang berdandan?! Tadi pagi, aku sudah teratur membuat wajahku menjadi cantik!" jawabnya tampak kesal.


"Hmm? Menjadi cantik? Kurasa kau masih berwajah hitam," kataku dengan biasa saja.


"Hitam katamu?! Hei, wajahku ini tidak sehitam yang kau lihat!" jawabnya kesal untuk kedua kalinya.


"Tenang, Eliza, kendalikan emosimu. Semua orang yang ada di depan sedang melihatmu," gumam Eliza sambil mengontrol emosinya.


Kau pasti sedang mengendalikan emosimu, kan? Aslinya, kau sangat kesal dengan pertanyaanku.


Kutanya sekali lagi saja agar dia kau memarahiku di depan semua orang dan kau akan merasa di rendahkan!


"Ehm, aku pikir kau merapikan dirimu dengan begitu bersih, ternyata gaun yang kau pakai tidak terlalu mencolok, jelek, warna yang gelap, dan terlalu ketat untukmu"


"Sepertinya, cara berpakaianmu masih harus di ubah," kataku dengan panjang lebar dan berpura pura bingung.


Raja dan Ratu tampaknya hanya terdiam mendengar perkataanku, kecuali Kak William dan Kak Carl yang tertawa kecil saat mendengarku mengerjai Eliza.


"Lihatlah, Carl, Catherine mulai mengerjai Eliza," kata Kak William sambil tertawa.


"Catty sungguh tahu apa yang kupikirkan ya, sudah lama aku ingin membuat Eliza marah seperti itu. Tapi, sejak kapan Catty bisa seberani ini dengan Eliza?" jawab Kak Carl dan juga bertanya pada Kak William.


"Benar juga, sejak kapan Catherine bisa menjadi seberani ini?" tanya Kak William pada dirinya sendiri.


Mereka berdua terus melihatku yang sengaja mengerjai Eliza sambil tertawa diam diam.


Tetapi, akibat dari kata kataku, wajah Eliza memerah seperti sedang demam saja.


Eliza tampak begitu kesal dan emosi hingga ia tidak sengaja mengeluarkan amarahnya padaku, apalagi ini masih di luar ruangan.


"Sudah cukup, Cath! Aku ini lebih cantik daripada dirimu! Aku juga lebih baik daripada kau yang tampak seperti orang bodoh ini!" teriaknya begitu keras memarahiku sehingga semua orang dapat mendengarnya.


Haha, ini saatnya untuk mengambil kesempatan! Dengan berpura pura menangis, itu pasti akan menarik simpati Raja dan Ratu.


"Huu~, Ayah lihatlah dengan ekspresi Kak Eliza. Dia …. hiks …. memarahiku dengan begitu kasar …. hiks ….," kataku dengan mata yang berkaca kaca.


Entah apa yang ada di hati Raja membuat ia begitu tidak terima saat aku di marahi oleh Eliza, rencanaku harus berjalan lancar!


"Eliza, apa yang kau lakukan pada Adikmu?! Seharusnya kau tidak perlu emosi seperti itu! Catherine hanya ingin mengajakmu bercanda saja!" teriak Raja Lordsorius sehingga membuat semua orang menjadi terdiam.


"Yang benar saja, mana mungkin aku akan memarahinya jika dia tidak membuatku marah seperti ini!" bentak Eliza membela dirinya.


Kumohon, seseorang, tolong bantu aku untuk memancing amarah Eliza!


.


.


.


[Bersambung]